Mengapa Muhammadiyah Memilih Metode Hisab?

Hadits Seputar Ramadhan
Seputar Ramadhan

Oleh :  Muhammad Ghifar Hawary

Salah satu saat Muhammadiyah trending di media massa adalah ketika menjelang Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Hal ini dikarenakan Muhammadiyah yang memakai metode hisab dikenal selalu mendahului pemerintah yang memakai metode rukyat dalam menentukan masuknya bulan Qamariah. Ini menyebabkan kemungkinan 1 Ramadhan, 1 Syawal, dan 1 Zulhijah versi Muhammadiyah berbeda dengan pemerintah.

Hal ini pula yang menyebabkan Muhammadiyah banyak menuai kritik, mulai dari tidak patuh pada pemerintah, tidak menjaga ukhuwah Islamiyah, tidak mengikuti Rasullullah Saw yang jelas memakai rukyat al-hilal, bahkan di kalangan masyarakat umum yang tidak tahu tentang Muhammadiyah mereka berpendapat bahwa mereka mengenal Muhammadiyah karena mempunyai ciri hari raya yang suka mendahului pemerintah.

Pada umumnya, mereka yang tidak dapat menerima hisab karena mereka yang berpegang pada salah satu hadits yaitu “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan bebukalah (idul fitri) karena melihat hilal pula. Jika bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka genapkanlah bilangan bulan Sya’ban tigapuluh hari” (HR Al Bukhari dan Muslim). Hadits tersebut sangat jelas memerintahkan penggunaan rukyat, hal itu mendasari adanya pandangan bahwa metode hisab adalah suatu bid’ah yang tidak punya referensi pada Rasulullah Saw. Lalu, mengapa Muhammadiyah bersikukuh memakai metode hisab?

Hisab yang dipakai Muhammadiyah adalah hisab wujud al hilal, yaitu metode hisab yang menetapkan awal bulan baru yang menegaskan bahwa bulan Qamariah baru dimulai apabila telah terpenuhi tiga parameter : telah terjadi konjungsi atau ijtimak, ijtimak itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan pada saat matahari terbenam bulan berada di atas ufuk. Sedangkan argumen mengapa Muhammadiyah memilih metode hisab, bukan rukyat, ada beberapa poin yaitu sebagai berikut :

1 Semangat Al-Quran adalah Menggunakan Hisab

Didalam QS Ar-Rahman ayat 5 dijelaskan bahwa “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS 55:5). Ayat ini bukan tidak hanya sekedar menginformasikan kepada kita semua bahwa matahari dan bulan beredar dengan okum yang pasti sehingga dapat dihitung atau juga dapat diprediksi, tetapi juga dorongan untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS Yunus (10) ayat 5 disebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.

2 Jika spirit Qur’an adalah Hisab, Mengapa Rasulullah SAW Menggunakan Rukyat?

Rasyid Ridha dan Mustafa AzZarqa berpendapat, perintah melakukan rukyat adalah perintah ber-ilat (beralasan). Ilat perintah rukyat adalah karena ummat zaman Nabi Muhammad SAW adalah ummat yang ummi, tidak kenal baca tulis dan tidak memungkinkan melakukan hisab. Ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim,“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak oku menulis dan tidak oku melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh okuman hari dan kadang-kadang tiga puluh hari”.

Dalam kaidah fiqhiyah, okum berlaku menurut ada atau tidak adanya ilat. Jika ada ilat, yaitu kondisi ummi sehingga tidak ada yang dapat melakukan hisab, maka berlaku perintah rukyat. Tetapi jika tidak ada (sudah ada ahli hisab), maka perintah rukyat tidak berlaku lagi. Yusuf Al Qaradawi menyebutkan, rukyat bukan tujuan pada dirinya, melainkan hanyalah sarana. Muhammad Syakir, ahli hadits dari Mesir yang Al Qaradawi disebut seorang salafi murni menegaskan bahwa menggunakan hisab untuk menentukan bulan Qamariah adalah wajib dalam semua keadaan, kecuali di tempat yang tidak ada orang mengetahui hisab.

3 Dengan Rukyat, Umat Islam Tidak Akan Bisa Membuat Kalender

Rukyat tidak dapat meramal tanggal jauh ke depan karena tanggal baru bisa diketahui pada saat H-1. Dr.Nidhal Guessoum menyebutkan, suatu ironi yang begitu besar bahwa umat Islam hingga saat ini tidak mempunyai sistem penanggalan terpadu yang jelas. Padahal pada saat 6000 tahun yang lalu di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender yang terstruktur dengan baik.

Baca Juga:   Kerinduan Keindahan Kaligua

4 Rukyat Tak Dapat Menyatukan Awal Bulan Islam Secara Global

Rukyat memaksa umat Islam berbeda memulai awal bulan Qamariah, termasuk bulan-bulan ibadah, karena rukyat pada visibilitas pertama tidak mengcover seluruh muka bumi. Pada hari yang sama terdapat muka bumi yang dapat merukyat tetapi ada muka bumi lain yang tidak dapat merukyat.  Kawasan bumi di atas lintang utara 60 derajat dan di bawah lintang selatan 60 derajat adalah kawasan yang tidak normal, dimana tidak dapat melihat hilal untuk beberapa waktu lamanya atau