Ketentuan Hukum Talak (3) Sesudah Talak Tiga Dijatuhkan

Surat Al-Baqarah  [2] Ayat 228-232

Sesudah Talak Tiga dijatuhkan

Apabila  talak  tiga  dijatuhkan, rumah  tangga mereka tidak boleh diulangi lagi untuk ketiga kalinya melalui rujuk. Wanita yang menjalani talak tiga yang kemudian masih ingin membina rumah tangga, maka ia harus menikah dengan pria lain, tidak boleh dengan pria yang mentalaknya tiga kali itu, sebagaimana disebutkan dalam ayat 230 sebagai berikut,

 فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi  halal  baginya  hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.”

Bila rumah tangga dengan pria yang kedua ini juga berjalan tidak mulus sehingga harus berakhir dengan perceraian, maka wanita tersebut boleh menikah lagi dengan pria pertama, dengan catatan, bila idahnya sudah habis juga dari perceraiannya dengan suami yang terakhir. Diharapkan, berdasarkan pengalaman yang telah dilalui mereka akan dapat membina rumah tangga dengan benar.

Para  ulama  fikih  membicarakan kasus talak tiga secara panjang lebar. Pasangan suami istri yang sudah menjalani talak tiga (talak bain kubra) seperti kasus dalam kelompok ayat ini, kemudian  mantan  istri  sempat  menikah  dengan pria lain, kemudian cerai dan akhirnya kembali  menikah  dengan pasangan pertamanya, maka pria yang menikahi istri yang telah ditalak tiga kali tersebut disebut muhallil. Singkatnya, bila proses terjadinya muhallil itu alami, maka pernikahan dengan muhallil dibenarkan. Dalam perkawinan dengan muhallil ini harus terjadi hubungan suami istri. Hadis yang dijadikan dasar adalah,

Baca Juga:   Khamar, Judi, Infak dan Pemeliharaan Anak Yatim (2) Surat Al-Baqarah Ayat 219-220

أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ امْرَأَةَ رِفَاعَةَ الْقُرَظِيِّ جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللّهِ إِنَّ رِفَاعَةَ طَلَّقَنِي فَبَتَّ طَلَاقِي وَإِنِّي نَكَحْتُ بَعْدَهُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الزُّبَيْرِ الْقُرَظِيَّ وَإِنَّمَا مَعَهُ مِثْلُ الْهُدْبَةِ قَالَ رَسُولُ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَلَّكِ تُرِيدِينَ أَنْ تَرْجِعِي إِلَى رِفَاعَةَ لَا حَتَّى يَذُوقَ عُسَيْلَتَكِ وَتَذُوقِي عُسَيْلَتَهُ

Aisyah ra. bercerita kepada seorang (periwayat hadis) bahwa istri Rifaah al-Qaradzi datang kepada Rasulullah, berkata “Wahai Rasul, sesungguhnya  Rifaah  telah  menceraikanku dan telah  habis  masa  idah, lalu aku menikah dengan Abdur Rahman bin Zubair al-Qaradzi. Hanya, bersama dia rasanya hambar (belum dukhul?).” Rasulullah berkomentar, “Agaknya kamu ingin kembali menikah dengan Rifaah. Tidak…, sebelum ia (suami kedua yang bernama Abdur Rahman bin Zubairmerasakan manisnya madu denganmu dan kamu merasakan manisnya madu dengannya.” (H.R. al-Bukhari, Muslim, al-Turmudzi, Ibn Majah, Ahmad)

Sebaliknya,  bila  pernikahan  dengan muhallil itu terjadi karena rekayasa, maka semua pihak yang terlibat mendapatkan laknat. Untuk mengatasi kasus seperti ini, diperlukan aturan yang  jelas  dan tegas, agar sistem  peradilan di Indonesia dapat menyelesaikannya secara baik.

Adab Mentalak dan Merujuk

Pada ayat 231 Allah menegaskan, 

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَلَا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِتَعْتَدُوا وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ وَلَا تَتَّخِذُوا ءَايَاتِ اللّهِ هُزُوًا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُمْ بِهِ وَاتَّقُوا اللّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu mereka mendekati akhir idahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma`ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma`ruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah sebagai permainan.  Ingatlah  nikmat  Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu al-Kitab (al-Quran) dan al-Hikmah (as-Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan  apa  yang  diturunkan-Nya  itu.  Bertakwalah  kepada  Allah  serta ketahuilah bahwasanya  Allah  Maha  Mengetahui  segala sesuatu

Ayat ini menegaskan  bahwa  pria  yang menceraikan  istrinya  hendaknya  menggunakan nalar  yang  sehat. Kalau berdasarkan pertimbangan yang matang, istri yang diceraikan itu ternyata  pantas  untuk  dipertahankan  sebagai istrinya, maka sebelum habis masa idahnya supaya segera dirujuk. Sebaliknya, bila tidak layak dirujuk, mengingat bahwa jika dirujuk kembali  madaratnya  lebih besar, maka perceraian dilakukan dengan baik dan damai, tidak dalam  suasana permusuhan. Pihak pria tidak dibenarkan menahan wanita itu dengan cara merujuk kembali hanya sekedar untuk mempermainkan dan menelantarkan. Misalnya dengan merujuk istrinya, ia bermaksud agar tidak dapat menikah dengan pria lain, sementara ia tidak diperlakukan  secara  wajar sebagai istri. Pria seperti ini dikategorikan sebagai orang yang berbuat zalim bahkan terhadap dirinya sendiri, serta termasuk orang yang memperolok-olok ajaran Allah. Senada dengan ayat ini adalah ayat 2 surah al-Thalaq: