Bermula dari Amandemen

Haedar Nashir mengenakan Batik Muktamar pada Milad UMP ke-55 secara Virtual Dok UMP/SM

Oleh: Prof Dr Haedar Nashir, MSi

Indonesia memanas lagi! Pemicunya RUU Haluan Ideologi Negara yang kontroversial. Berbagai komponen bangsa menolak keras. Aksi massa di Jakarta dan sejumlah daerah marak, mendesak RUU tersebut dicabut dari legislasi.

Kita cermati dengan seksama bagaimana itikad politik para wakil rakyat di DPR. Semoga kabar positif, tidak lagi bermai-main siasat. Mengikuti suara kebenaran itu sungguh terhormat dan negarawan!

Publik memprihatinkan Indonesia saat ini makin bebas dan sarat masalah terutama kontroversi berbagai perundang-undangan. Ada yang bergagasan Indonesia tiru Singapura, membebaskan negara dari urusan agama dan pelajaran agama.

Agama dianggap musuh Pancasila. Pancasila diperas lagi jadi trisila dan ekasila serta Ketuhanan yang berkebudayaan. Ada yang bangga jadi anak PKI. Di seberang lain sempat ada gerakan ideologis untuk negara kekhalifahan.

Para ahli menyebut Indonesia makin liberal. Liberalisasi politik tumbuh bersama demokratisasi yang sangat terbuka. Oligarki politik dan ekonomi mekar. Pemerintah serta Parpol-parpol dan elitenya makin pragmatis. DPR seolah jadi alat stempel politik. Otonomi daerah mirip federasi. Pendidikan dibawa ke sistem liberal dengan konsep merdeka.

Liberalisasi ekonomi? Menurut para ahli sejak reformasi perekonomian negeri ini makin Neolib. Investasi dan tenaga kerja asing terbuka sekali. Utang luar negeri meninggi. Sekelompok kecil menguasai kekayaan dan sumberdaya alam Indonesia, dengan akses ekonomi-politik yang leluasa. Oligarki ekonomi menyatu dengan dunia politik. Jadilah negara oligarkis!

Akar Masalah

Kenapa Indonsia saat ini menjadi makin bebas dan sering bermasakah dengan isi perundang-undangan? Sebutlah RUU HIP, Omnibus Law, minerba, ormas, dan sebagainya. Indonesia menjadi negara serba-ada dan serba-boleh.

Tentu setiap rezim pemerintahan harus bertanggungjawab atas kebijakan yang dibuatnya. Bawalah Indonesia benar-benar di atas rel konstitusi dan diabdikan sebesar-besarnya bagi hajat hidup rakyat sebagaimana diletakkan fondasinya oleh para pendiri negeri 18 Agustus 1945. Jangan dibelokkan ke arah yang salah.

Bersamaan dengan itu, dalam spektrum yang besar dan struktural jika mau jujur dan objektif, negara tercinta ini menjadi liberal dan oligarki terjadi setelah reformasi 1998. Reformasi itulah yang menyebabkan Indonesia menjadi negara makin Neolib.

Baca Juga:   Advokasi 'Aisyiyah Blitar Inisiasi Pemeriksaan Papsmear Mandiri

Pintu masuk utamanya melalui Amandemen UUD 1945. Sejak reformasi itulah Indonesia benar-benar menjadi bangsa dan negara yang bebas dan terbuka di bidang politik, ekonomi, budaya, keagamaan, ideologi, dan aspek kehidupan lainnya.

Bukalah pasal-pasal UUD 1945 hasil amandemen tentang hak warga negara misalnya, sungguh sangat liberal. Baca selain pasal 27, pasal 28 A-J tentang hak asasi manusia. Jangan mencegah siapapun jadi Presiden dan pejabat tinggi negara karena semua berhak secara konstitusi. Lebih-lebih setelah kata “Indonesia aseli” hilang. Hak berkumpul dan berserikatpun sangat terbuka.

Pasal 33 UUD 1945 yg semula murni ekonomi kerakyatan, dibuka keran demokrasi ekonomi. Hingga almarhum Prof Mubyarto yang ahli ekonomi Pancaaila menarik diri dari pembahasan di MPR. Tidaklah perlu heran dengam berbagai UU saat ini yang bersifat liberal dan pro-ekonomi kapitalisme, hal itu konsekuensi otomatis dari amandemen mendasar UUD 1945 itu. Kenapa hanya merisaukan RUU dan UU yang di hilir?

Bagaimama kabar KKN? Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme yang dulu sangat heroik disuarakan para pejuang reformasi bermetamorfosis. Secara faktual KKN saat ini beranak-pinang. KKN baru bertumbuh bersama KKN lama.

Otonomi daerah menyuburkan desentralisasi KKN. Nepotisme berubah menjadi politik dinasti. Masih adakah para reformis yang konsisten anti-KKN? Alhamdulillah kalau masih ada, serta tidak menjadi pelaku KKN baru!

Kekuasaan eksekutif praktiknya dominan. Ketika amandemen diberlakukan sebenarnya urusan utamanya ingin perubahan masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden agar dibatasi dua kali periode, serta langsung dipilih rakyat dan bukan oleh MPR.

Tujuannya agar tidak Executive Heavy, bandul kekuasaan di eksekutif. Secara verbal yudisial berhasil. Tetapi pasca reformasi atas dasar pilihan langsung itulah maka siapapun Presiden dan Wapresnya yang terpilih, sulit dikontrol karena merasa mendapat mandat rakyat. Kekuasaan eksekutif malah menguasai parlemen melalui koalisi politik.

Bandul kekuasaan pun bergeser ekstrem. Dari oligarki MPR beralih ke oligarki politik eksekutif dan legislatif atasnama rakyat. Mahkamah Konstitusi sangat kuat, sedangkan MPR saat ini kekuasaan ad-hoc. Semuanya sulit dikontrol.

Baca Juga:   Konvergensi Konten Penting Bagi Jaringan Media Muhammadiyah

Jika digugat rakyat, rakyat yang mana? Inilah sistem dan praktik ketatangeraan baru produk reformasi yang liberal dan oligarki. Kenapa hanya dirisaukan hilirnya? Hilir wajib diselesaikan. Tetapi bila menggugat Neolib dalam segala bentuk, sekalian ke hulunya pada UUD 1945 hasil amandemen dan reformasi yang liberal itu.

Agenda Bersama

Siapa yang mampu mengendalikan kekuasan oligarki? Apa RUU HIP dan sejumlah RUU yang bermasalah akan bisa dihentikan? Siapa yang mampu menghentikan utang luar negeri yang terus bertambah? Banyak pihak pesimis. Mungkin suara Tuhan pun —dalam wujud gerakan moral— tidak akan begitu didengar.

Praktiknya, jika kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif sudah berkehendak, siapa yang mampu menghalangi? Berlakulah hukum Lord Acton, power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely.

Bagaimana peran civil society? Normatif dapat ikut mengontrol. Ormas, LSM, dan kelompok kebangsaan lainnya dapat menjalankan fungsinya sebagai kelompok penekan (pressure groups) dan kelompok kepentingan (interest groups). Tapi seberapa kuat?

Berbagai RUU dan PERPPU yang ditolak kelompok-kelompok masyarakat madani akhirnya dilegislasi parlemen. Pindah Ibukota yang sangat vital dan bersejarah pun dengan mudah menjadi keputusan politik.

Beban kelompok civil society sangat berat menghadapi kehidupan kebangsaan dan kenegaraan saat ini. Ormas dan civil society tidak lebih dari ornamen demokrasi. Sekuat apapun masyarakat madani, secara politik berat hadapi tembok politik oligarki.

Posisi Ormas lama kelamaan akan mengalami floating-mass seperti di era Orba. Jangan pula terus berharap pada aksi dan gerakan massa, resiko dan eskalasi politiknya besar. Indonesia akan terus gaduh dan berpeluang pecah, serta tidak produktif untuk kemajuan. Apa memang aksi massa itu yang dikehendaki?

Bagaimana Ormas Keagamaan? Sebenarnya tugas utama ormas keagamaan mencerahkan masyarakat agar hidup beragama dan bermoral utama. Ada panggilan amar ma-ruf nahi munkar, tapi bukan berarti harus mengambil alih fungsi politik dan menanggung beban setiap masalah bangsa.