Cerpen: Banjir di Kotaku

Ilustrasi Digital : Budi PW

Di sebuah kota besar terjadi banjir besar, kota itu bernama Jakarta, Pada waktu itu orangorang tidak tahu bahwa akan terjadi banjir, sehingga banyak orang yang meninggal dan barang-barang yang ada di dalam rumah terbawa arus banjir termasuk motor, mobil ikut terbawa air bah.

Di kota tersebut ada seorang anak yang bernama Mia. Mia tinggal di sebuah perumahan yang jarang terjadi banjir. Namun pada waktu banjir itu terjadi, rumahnya terkena air bah juga.

Untung Mia saat itu sedang berada di sekolah, sehingga tak mengalami langsung peristiwanya. Meski dampak dari banjir, Mia juga akan merasakannya.

Pada pukul 10.30 WIB lonceng berbunyi ting….ting…..ting (tanda waktu untuk pulang). Anak-anak bersorak gembira karena akan segera pulang ke rumah, termasuk Mia. Semuanya sudah menyiapkan diri untuk pulang.

Tiba-tiba kepala sekolah datang dan berkata “ Anak-anak saat ini, di sekolah dulu ya, bersama ibu guru”.

Mia pun bertanya “Bu….mengapa kita harus tinggal di sekolah?

“Mia…anak manis, di luar sana sedang terjadi banjir besar,” jelas kepala sekolah.

Mia tiba-tiba menangis, um…..um…. um…..aku mau pulang…..aku mau pulang…..

Kepala sekolah lalu mendekat ke arah Mia dan memeluknya sambil berkata “ Mia, kalau banjirnya sudah berkurang, ibu janji akan mengantarmu pulang ke rumahmu.”

Setelah itu teman-teman Mia mengajak untuk bermain bersama.

Pada pukul 15.00 WIB, anak-anak sudah bisa pulang ke rumah, dan bus sekolah yang membawa Mia pun tiba di halaman rumah. Segera Mia turun dari bus, tapi Mia terkejut melihat rumah yang didiaminya sudah tak ada.

“Rumahku dimana? Pakaianku dimana? Dan boneka Hello Kitty kesayanganku dimana? Apakah semuanya dibawa banjir? Semua pertanyaan berkecemuk dalam hatinya.

Baca Juga:   Terpapar

Ketika melihat kedua orang tuanya masih ada, ia langsung berlari dan menangis. Dipeluknya kedua orang tuanya. Orang tuanya meminta Mia untuk tidak menangis lagi.

Kedua orang tua Mia yang sedang berdiri di halaman itu pun memberitahukan kepada Mia bahwa mereka mengalami bencana dan ibunya berkata sambil mengelus rambut Mia. “Mia kita harus sabar, kita banyak berdoa dan berbuat amal, ini adalah bencana, lihatlah, bukan hanya kita yang mengalami seperti ini, tetangga kita juga mengalaminya. Untuk sementara waktu kita akan tinggal di Posko pengungsian.”

“Iya bu,” sahut Mia, tapi Mia masih sedih karena barang-barangnya tidak ada.

“Bu… bagaimana dengan sepatu dan pakaian sekolahku, dan kalau kita tinggal di posko pengungsian berarti Mia gak bisa berangkat ke sekolah…,” curhat Mia pada ibunya.

“Mia, anak yang baik, ini hanya sementara saja, guru-guru dan temantemanmu pasti mengerti akan keadaan kita, jika ayah dan ibu mempunyai rezeki, ibu akan membeli pakaian sekolah, sepatu dan boneka kesayanganganmu” kata ayah Mia menimpali curhatan Mia pada ibunya.

“Baik ayah, tapi janji ya..kalau ayah sudah mempunyai rezeki, Mia dibeliin seragam sekolah, sepatu sekolah dan boneka yang baru ya….. , “ rajuk Mia pada ayahnya.

Ayah Mia pun menganguk-angguk tanda setuju.

Mia pun sudah mulai bergembira melihat ayahnya berjanji untuk membelikan barang-barang yang diperlukannya sebagai pengganti barang-barang yang hilang. Sehingga nantinya Mia bisa bersekolah lagi, bisa bermain lagi seperti sediakala.

Selama Mia tinggal di Posko pengungsian, Mia dan kedua orangtuanya rajin berdoa agar diberi kemudahan. Shalat lima waktu berjamaah tidak ketinggalan, bahkan di waktu malam kedua orang tuanya sering melakukan shalat tahajud.

Tidak lama kemudian, teman- teman Mia dan guru-gurunya dari sekolah mengunjungi mereka, Mia sangat senang bisa bertemu dengan teman-teman dan gurunya. Mereka ternyata penuh perhatian kepada Mia dan keluarganya.

Baca Juga:   Guru di Masa Perubahan

Kedatangan mereka membawa kabar gembira. Mereka memberikan bantuan kepada keluarga Mia untuk membangun rumah sederhana. Mia dan ayah-ibunya pun mengucapkan terimakasih kepada temanteman dan guru-guru Mia serta bersyukur kepada Allah…. Pada akhirnya mereka berpelukan dan bahagia karena akan segera mempunyai rumah baru lagi mesti sederhana dan Mia pun juga akan bisa berangkat sekolah lagi, karena ternyata temantemannya juga membawakan buku, sepatu dan seragam untuk Mia.

Tim PAUD UAD dari Prodi PAUD Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM No 17 Tahun 2017