31 C
Yogyakarta
Senin, November 30, 2020

Semangat Inovatif dan Ta’awun dalam Menghadapi Realitas Baru

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Pembangunan Kesehatan Perempuan, ‘Aisyiyah Kembangkan Sistem Informasi Desa

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Sistem Informasi Desa (SID) merupakan salah satu mandat dalam UU Desa No 6 Tahun 2014 tentang Desa untuk...

Harapan Para Tokoh dalam Resepsi Virtual Milad Mu’allimaat ke-102

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta mengadakan resepsi milad ke-102 dan Milad Muhammadiyah ke-108 pada Senin (30/11).

Gotong Royong 1,2 Milyar untuk Rumah Qur’an Muhammadiyah Kebakkramat

KARANGANYAR, Suara Muhammadiyah – Gotong royong masyarakat 1,2 Milyar untuk Rumah Quran Muhammadiyah Kebakkramat, Karanganyar, Jawa Tengah. Seluas 350 meter persegi Tanah...

Inovasi UAD Kembangkan Ngoro-Oro Menuju Desa Wisata Sehat

GUNUNGKIDUL, Suara Muhammadiyah - Keberadaan desa wisata dengan keindahan alam dan udara segarnya saat ini menjadi daya tarik para wisatawan baik wisatawan...

PC IMM Pinrang Miliki Nahkoda Baru

PINRANG, Suara Muhammadiyah - Ilham Saddiq terplih menjadi nahkoda Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kabupaten Pinrang periode 2020-2021 pada Musyawarah...
- Advertisement -

H R Alpha Amirrachman, MPhil, PhD

Serangan wabah Covid-19 yang berasal dari Wuhan, Republik Rakyat Tiongkok ini telah secara nyata mengubah lanskap sosial-ekonomi hampir setiap negara yang terdampak termasuk Indonesia. Disrupsi pandemi global ini tentu saja memberikan pengaruh yang sangat besar baik jangka pendek maupun jangka panjang termasuk di sektor pendidikan dan upaya pemerintah memberikan prioritas pada pengembangan SDM unggul. Menurut laporan UNESCO (2020) sebanyak 1.543.446.152 siswa atau 89% dari total siswa di 188 negara terpaksa diliburkan. Di Indonesia sendiri, 68.265.787 siswa (termasuk mahasiswa) terpaksa diliburkan dan belajar di rumah.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mendorong pembelajaran daring dilakukan dan menyediakan berbagai guru dan siswa di tanah air yang terkena dampak Covid-19 untuk terus melaksanakan kegiatan belajar-mengajar. Relaksasi juga diberikan, ketuntasan kurikulum tidak menjadi tuntutan mendesak.

Muhammadiyah juga telah memberikan respons yang cepat dan lugas melalui Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC), melalui kerja nyata para relawan medis yang bekerja tanpa pamrih dan sumbangsih para donatur melalui LazisMu. RS/PKU kita turut bekerja dengan keras menangani pasien-pasien Covid-19. Ini kita lakukan tanpa harus mengeluh di tengah deraan yang cukup besar juga terhadap amalamal usaha Muhammadiyah.

Pengaruhnya kepada sekolah-sekolah Muhammadiyah juga cukup besar. Dari hasil survei yang kami lakukan, sebagian besar sekolah menyatakan sudah melaksanakan pembelajaran dari rumah. Ketika ditanya aplikasi apa yang digunakan, sebagian besar menggunakan aplikasi WhatsApp 73%, Google Classroom 13%, dan Zoom hanya 3%, artinya hampir sebagian besar tidak terjadi proses belajar-mengajar yang interaktif. Yang ada guru memberikan tugas sebanyakbanyaknya bagi siswa sehingga siswa merasa terbebani. Karena itu kita mendengar di awal pandemi ketika siswa mulai belajar dari rumah, mereka merasa bosan dan berat karena terlalu banyaknya tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Akhirnya timbul persepsi bahwa pembelajaran on-line itu berat, padahal tidak demikian halnya.

Pembejaran dari rumah juga tidak selamannya harus menggunakan on-line. Ada sebagian siswa-siswa kita yang keluarganya tidak memiliki jaringan internet. Untuk menjawab tantangan ini sebagian guru kita berinisitiaf menjemput dan mengantar tugas ke rumah siswa-siswanya tersebut. Sekali lagi, ini dilakukan tanpa harus mengeluh.

Di samping itu, kita temui juga munculnya inovasi-inovasi baru di bidang pendidikan oleh warga Muhammadiyah. Kebetulan kemarin saya mengikuti Rakorwil Majelis Dikdasmen se-Lampung, sedang diinisiasi Rumah Belajar Muhammadiyah Lampung, yang akan merupakan Learning Management System yang memuat berbagai hal yang dibutuhkan oleh guru-guru Muhammadiyah termasuk konten-konten pembelajaran. Ini tentunya juga akan semakin memperkaya khazanah pembelajaran sekolah dan madrasah Muhammadiyah.

Pada kegiatan silaturahim dengan adik-adik PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), juga timbul gagasan untuk diselenggarakan Fortasi (Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa) secara virtual, yang saya kira akan menjadi embrio kreatif bagaimana kegiatan ekstrakulikuler kita seperti Tapak Suci dan Hizbul Wathan diselenggarakan di masa pandemi Covid-19.

Terkait hal ini, mari kita melakukan perenungan mengenai visi pendidikan Muhammadiyah. Pada muktamar sebelumya disebutkan bahwa visi pendidikan Muhammadiyah adalah : “Berkembangnya fungsi pendidikan dasar dan menengah Muhammadiyah mencakup sekolah, madrasah , dan pondok pesantren yang berbasis Al-Islam-Kemuhammadiyahan, holistik integratif, bertata kelola baik, serta berdaya saing dan berkeunggulan.”

Di sinilah peran kegiatan ekstrakurikuler seperti IPM, TS dan HW dalam mempraktikkan the living values of Al Islam dan Kemuhammadiyahan dalam membentuk karakter siswa. Ini menjadi tantangan bagi kita semua bagaimana mewujudkan visi ini dengan cara belajar dari rumah. Kita memahami bahwa kita dituntut untuk mencetak kader yang sempurna dan paripurna, siswa-siswa kita setelah lulus nanti diharapkan bukan hanya menjadi insan yang cerdas, pintar, terampil, tapi juga berakhlaqul karimah, berjiwa kepemimpinan dan berjiwa kepeloporan, siap memberikan kontribusinya bagi kemajuan masyarakat dan peradaban sekaligus juga siap berdakwah amar ma’ruf nahi munkar. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna, karena itu sebagai insan pendidik kita berkewajiban mensyukuri dan memelihara kesempurnaan siswa-siswa kita sebagai makhluk ciptaan Allah SwT. Sebagaimana disebut di surat At Tin:

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Karena itu Fortasi Virtual yang digagas PP IPM merupakan hal yang kreatif dan inovatif dan berpotensi menjadi best practice yang menjadi model bagi sekolah-sekolah yang lain.

Dari sisi finansial, pandemi ini juga memberikan pengaruh yang signifikan. Sebagian orang tua meminta untuk keringanan biaya karena anak mereka tidak masuk ke sekolah. Sebagian sekolah juga meyakini bahwa di masa yang sulit ini, kalau terus seperti ini hingga akhir tahun sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak akan mampu lagi memenuhi biaya operasional sehari-hari.

Karena itulah Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah setelah berkonsultasi secara intensif dengan Muhammadiyah Covid Command Centre (MCCC) mengeluarkan surat edaran No 66/I.4/F/2020 mengenai penyelenggaraan pendidikan sekolah/madrasah/pesantren Muhammadiyah, dengan memperhatikan beberapa hal berikut:

Memprioritaskan keselamatan jiwa (hifzhu an-nafs) dan kesehatan para peserta didik/santri/kiai, ustadz, guru, pamong, musyrif, dan tenaga kependidikan.

Penyebaran dan penularan wabah Covid-19 belum menunjukkan pelandaian dan penurunan di 34 provinsi Indonesia.

Protokol Covid-19 mengharuskan warga Indonesia untuk menjaga jarak aman (physical and social distancing) dalam berinteraksi satu sama lain, menjauhi kerumunan, mengenakan masker saat berada di luar rumah, selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik, mengenakan hand sanitizer di tempat tertentu atau ketika masuk rumah, mengutamakan tetap tinggal di rumah, dan sebagainya.

Kepentingan dan hak-hak pemangku kepentingan sekolah/madrasah/ pesantren Muhammadiyah, khususnya peserta didik/santri, dan guru/ustadz hendaknya tidak dirugikan.

Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, penyelenggaraan pendidikan sekolah/madrasah/pesantren Muhammadiyah diatur sebagai berikut:

Tahun Pelajaran Baru 2020/2021 dimulai 13 Juli 2020

Proses pembelajaran secara tatap muka /luring sekolah/ madrasah/pesantren Muhammadiyah dilakukan setelah pandemic Covid-19 dinyatakan aman oleh pemerintah daerah.

Selama masa pandemi COVID-19 belum dinyatakan aman, proses pembelajaran dilakukan secara daring atau belar dari rumah (BDR) dengan memperhatikan situasi dan kondisi peserta didik/santri.

Dengan surat edaran ini diharapkan pihak sekolah dapat meyakinkan orang tua bahwa anak-anak mereka tetap mendapatkan haknya menerima pembelajaran walau ada penyesuaian namun tidak berkurang substansinya. Dengan demikian diharapkan orang tua juga menyadari bahwa kewajiban mereka untuk memenuhi adminsitrasi juga tidak berkurang.

Yang juga sangat penting adalah kita tetap memprioritaskan keselamatan jiwa (hifzhu an-nafs), karena itu dalam memenuhi hak siswa untuk mendapatkan proses pembelajaran, belajar dari rumah masih merupakan pilihan yang tepat saat ini.

Di samping itu periode ini juga menjadi masa kita untuk menanam kebajikan antarsesama. Gagasan subsidi silang sebagaimana saya mendengarnya saat mengikuti Rakorwil Majelis Dikdasmen se-Lampung perlu juga untuk didorong dengan dilandasi semangat ta’awun atau tolong menolong. Semangat ta’awun atau tolong-menolong dan kepedulian merupakan perintah dalam Islam.

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (al-Mâidah [5]: 2).

Periode ini juga menjadi ladang ujian kita untuk senantiasa bersabar. Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orangorang yang sabar. — Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 153.

Akhirul kalam, selain kita dituntut untuk senantiasa melakukan terobosan-terobosan inovatif dalam pembelajaran, kita juga dituntut untuk senantiasa saling tolong-menolong dalam kebajikan, saling menasihati dan bersabar dalam menjalani masamasa sulit ini. Semoga Allah SwT senantiasa memberikan kita kekuatan dan kesabaran.

H. R. Alpha Amirrachman, M.Phil., Ph.D. Sekretaris Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles

- Advertisement -