29.6 C
Yogyakarta
Selasa, Agustus 11, 2020

Nelayan Aceh, Pahlawan Kemanusiaan

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Haedar Nashir: Kerjasama Jadikan Unismuh Unggul dan Berkemajuan

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Prof Dr H Ambo Asse, M.Ag resmi dilantik jadi Rektor baru Unismuh Makassar periode 2020-2024. Prof Ambo Asse...

Prof Ambo Asse Resmi Dilantik Jadi Rektor Baru Unismuh ke-11

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Prof Dr H Ambo Asse, M.Ag resmi dilantik menjadi Rektor Unismuh Makassar. Guru Besar dari UIN Alauddin Makassar...

Kiprah Prof Rahman Rahim Memajukan Unismuh

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Rektor Unismuh  Makassar, Prof Dr H Abdul Rahman Rahim, SE,MM telah berakhir masa periodenya  sebagai rektor sejak Sabtu...

Olah Inovasi Produk dari Bengkuang, Pertanian UMP Dampingi Desa Linggasari

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Purwokerto menyelenggarakan program tahunan yaitu Program Desa Mitra terhadap Desa atau Daerah yang mempunyai...

KKN Alternatif Fikes UMP Peduli Masyarakat Terdampak Covid-19

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah -Mahasiswa yang tergabung dalam kelompok KKN Alternatif Kelompok 9 FIKES UMP membagikan sembako kepada masyarakat diantaranya lansia dan masyarakat...
- Advertisement -

LHOKSEUMAWE, Suara Muhammadiyah – Dunia kembali dihebohkan dengan peristiwa para nelayan yang membantu para pengungsi ditengah lautan bebas. Kejadian ini terjadi pada hari Kamis(25/6). Dimana segerombolan orang yang merupakan pengungsi terombang-ambing di dalam perahu yang tidak cukup besar untuk menampung mereka semua.

Para pengungsi ini merupakan korban genosida yang dilakukan oleh pemerintah mereka sendiri yaitu pemerintah Myanmar. Pemerintah Myanmar meyakini bahwa mereka bukanlah bagian dari kedaulatan negara Myanmar. Sudah sejak lama permasalahan ini terjadi dan menimbulkan polemik internasional mengenai penduduk yang terkena pengusiran. Dan sudah seharusnya dunia internasional bersama-sama menyelesaikan hal ini.  

Sebelumnya kapal yang membawa 94 orang etnis Rohingnya terlihat diperairan pantai Seunuddoen Kabupaten Aceh Utara, Aceh, sekitar pukul 12.00 WIB, Rabu (24/6). Adanya kapal yang membawa orang-orang Rohingnya itu telah diketahui oleh nelayan yang berasal dari kecamatan setempat dan pada saat itu kebetulan mereka sedang melintas di sekitar lokasi.

Sejak kekerasan yang marak di negara bagian Rakhine, Agustus 2017 lalu, diperkirakan 700.000 etnis Rohingnya mengungsi dan sebagian besar melintasi perbatasan darat ke Bangladesh.

Gelombang pengungsi Rohingnya yang menempuh jalur laut dilepas pantai Indonesia sebenarnya sudah berkurang sejak Thailand dan Malaysia meningkatkan pemberantasan jaringan penyelendup manusia.

Melihat efek yang ditimbulkan oleh kebijakan pemerintah Myanmar, maka pemerintah Myanmar dikecam oleh dunia internasional. Karena mereka dituduh menyerang warga sipil Rohingnya.

Terkait fenomena yang disebut diatas Menteri Luar Negri Indonesia, Retno Marsudi menegaskan bahwa perlu dilakukan langkah-langkah preventif guna mencegah warga Rohingnya melakukan perjalanan laut yang berbahaya.

“Perlu diambil langkah-langkah preventif agar mereka tidak menjadi korban perdagangan manusia,” tuturnya pada Rabu(24/6), sebagaimana dikutip kantor berita Antara, usai menghadiri pertemuan informal para menlu ASEAN( ASEAN Ministerial  Meeting) secara virtual dari Jakarta.

Menlu Retno Marsudi juga menyebutkan upaya repatriasi ribuan warga Rohingnya dari kamp-kamp pengungsian di Bangladesh ke Rakhini State, Myanmar. Mengenai hal ini ASEAN harus terus memprioritaskan hal tersebut. Walau memang rencana agenda ini terhambat dengan situasi keamanan dan pandemi Covid 19.

Sudah semestinya sebagai seorang individu akan miris dan prihatin melihat individu lainnya yang sedang dalam keadaan tidak sebaik dia. Karena memang kita tumbuh dengan rasa saling antara satu sama lain. Terlebih lagi hal ini terjadi pada diri seorang Muslim. Muslim itu ibarat satu tubuh. Apabila salah satu bagian tubuh merasakan sakit, maka bagian tubuh lainnya juga merasakan hal yang sama. Begitu juga yang dirasakan oleh para nelayan Aceh.

Rasa persaudaraan mereka sebagai Muslim-lah yang memperkuat empati mereka kepada saudara mereka yang membutuhkan pertolongan. Para nelayan itu sadar mereka bukanlah orang yang berharta, dan mereka-pun sadar bahwa mereka juga bukan orang yang mempunyai wewenang dalam sebuah kebijakan. Namun, satu hal yang membuat mereka berani melakukan hal tersebut ialah keimanan mereka kepada Allah swt. Inilah yang seharusnya menjadi ujung tombak kita sebagai seorang Muslim untuk melakukan apapun.(Syifana)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles