23.5 C
Yogyakarta
Jumat, Agustus 14, 2020

Hadits tentang Kebiasaan Basa-basi dalam Islam

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Pengabdian, Dosen Manajemen UMY dan Warga Bausasran Adakan Penghijauan

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Sempitnya lahan tidak menyurutkan keinginan warga RW 11 Bausasran Kecamatan Danurejan Kota Yogyakarta untuk menghijaukan wilayahnya.

Asah Kreativitas, PMM UMM Ajari Anak-Anak Seni Kolase

BLITAR, Suara Muhammadiyah - Kelompok Pengabdian Mahasiswa untuk Masyarakat (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang melakukan pengabidan masyarakat dengan mengajari anak-anak membuat kolase. Kegiatan...

Dosen FEB UMY Latih Jamaah Pengajian Membuat Kain Shibori

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pengabdian masyarakat merupakan salah satu bentuk kewajiban dalam Catur Dharma Perguruan Tinggi. Disamping itu pengabdian masyarakat di era...

Semua Siswa Dapat, SMK Mutu Tegal Bagikan Perdana Plus Kuota untuk PJJ

TEGAL, Suara Muhammadiyah - Bentuk pelayanan selama diberlakukannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dalam masa covid 19. SMK MUTU Tegal berikan kartu perdana...

Islam, Alam, dan Tugas Manusia

Alam akan membawa manfaat dan berkah bagi manusia, manakala telah melaksanakan tugasnya terhadap alam, yakni mengembalikan alam ke jalan yang benar. Yakni...
- Advertisement -

Ketika kita dimintai tolong, hakikatnya kita diberi kesempatan beramal salih, bukan direpotkan

Mohammad Fakhrudin

Ah, nggak usah repot-repot!”,  biasanya  terucap oleh lisan tamu yang dihidangkan sesuatu  oleh  tuan  rumah.  Boleh  jadi, ucapan  itu  bermaksud  menunjukkan  kesopanan kepada  tuan  rumah yang kemudian  lazim  terkesan  menjadi bagian dari akhlak bertamu. Terasa tidak sopan jika kata tersebut tidak terucap. Ucapan tersebut  terkait dengan  kisah Nabi Ibrahim As. dalam memuliakan tamu  pada  firman Allah  surat Adz-Dzariyat (26-27), ‘Dengan diam-diam dia pergi kepada keluarganya, maka datanglah dia dengan membawa anak sapi gemuk. Kemudian, dia menghidangkannya kepada mereka sambil berkata, ‘Tidakkah kalian akan makan?‘” .

Ayat  tersebut  divisualisasikan oleh Hamka dalam  Tafsir al-Azhar, bahwa  Ibrahim  ketika  didatangi  tamu   menyambutnya   dengan  sikap  hormat.  Beliau  mempersilakan  tamu  itu  duduk  di tempat penerimaan tamu. Setelah itu, beliau pergi secara diam-diam memberi tahu keluarganya bahwa ada tamu. Lalu, segeralah  seisi  rumah  sibuk menyambut tamu  dengan  sepantasnya. Ditangkaplah seekor anak sapi yang masih muda, disembelih, dan dibumbui baik-baik. Setelah itu, daging sapi itu dibakar sampai masak. Dibawanyalah hidangan anak sapi gemuk itu ke hadapan tamu itu, sebagai tanda menghormatinya.  

Sementara itu, Rasulullah SAW bersabda:

عن أبي هريرة قال: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: من كان يُؤمن بالله واليوم الآخرِ فلا يُؤذِ جارَه، ومن كان يُؤمن بالله واليوم الآخِرِ فلْيُكرِم ضَيفَه، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخرِ فلْيَقُلْ خيراً أو ليَصمُت (رواه البخاري ومسلم)

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.’ (HR Al-Bukhari dan Muslim).  Cara  memuliakan  tamu  pun bermacam-macam yang satu di antaranya adalah menjamunya. Rasulullah SAW bersabda: “Hai manusia, tebarkanlah salam, hubungkanlah silaturahim, menjamulah makan dan shalatlah  malam kamu pada waktu orang lain tidur, niscaya kamu akan masuk surga dengan selamat sejahtera.’(HR. At-Tirmidzi)

Jika  diperhatikan  dengan baik, menjamu dan memuliakan  tamu  hakikatnya  adalah bagian  dari  pelaksanaan ibadah. Karena beribadah, tentu  syarat  melaksanakan perintah tersebut harus  dengan ikhlas. Para  pelakunya  sama sekali tidak boleh  merasa direpotkan. Tentu  saja,  dalam  menghormati  dan menyediakan  jamuan  makanan  untuk tamunya, tuan rumah  menyesuaikan  kemampuannya  dengan  tetap  diusahakan  sebaik-baiknya.  Lalu,  ucapan apakah yang  tepat  diucapkan  oleh  tamu   yang  menerima  jamuan?  Tentu  ucapan  yang sesuai dengan  tuntunan   Rasul SAW dimana  menuntunkan doa untuk tuan rumah yang menjamu tamunya  sebagai berikut.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي مَا رَزَقْتَهُمْ وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ

“Ya, Allah!  Berilah  berkah apa yang Engkau rezekikan kepada mereka, ampunilah dan belas kasihilah mereka (HR Muslim).

Artinya,  si  tamu   yang  mendoakan tuan rumah juga termasuk  beribadah  karena mengikuti amalan Rasul SAW. Doa lain dari Nabi:

اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى

 “Ya, Allah. Berilah ganti makanan kepada orang yang memberikan aku makan dan berilah minuman kepada orang yang memberiku minuman.” (HR Muslim)

Ucapan, “Ah, repot-repot” tidak hanya sering digunakan oleh tamu yang mendapat hidangan, tetapi juga digunakan oleh tuan rumah ketika menerima oleh-oleh dari tamu. Padahal,  oleh-oleh    merupakan  bunga  silaturahim. Bertamu untuk silaturahim dengan membawa oleh-oleh sebagai hadiah pun merupakan akhlak yang dituntunkan oleh Rasul yang  bersabda, “Saling memberi hadiahlah kalian. Niscaya kalian akan saling  mencintai.” (HR Al-Bukhari).  

Dengan  demikian, orang  yang   mengamalkannya  berarti beribadah. Dalam hal ini pun jika kita mengucapkan, “Ah, repot-repot” kepada orang yang memberikan oleh-oleh dalam  bersilaturahim  dengan niat beribadah, berarti kita telah berucap yang tidak sejalan dengan tuntunan Rasul.   Mirip  dengan ucapan, “Ah, repot-repot” adalah, “Ah, jadi merepotkan.”  

Kata-kata itu biasanya diucapkan oleh orang sakit ketika dijenguk teman, tetangga,  atau juga saudaranya. Kadang kata-kata  itupun  diucapkan  oleh keluarga orang yang  sakit. Ucapan itu tidak  sejalan dengan perintah Rasulullah agar sesama muslim menjenguk jika ada  saudaranya yang sakit sebagaimana dalam Hadis berikut: ‘Sesungguhnya  Allah SWT berfirman   pada  hari  kiamat, “Hai anak  Adam, Aku sakit, kenapa kamu tidak datang  mengunjungi-Ku?” Anak Adam menjawab, “Ya, Tuhan, bagaimana  aku akan mengunjungi-Mu, sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah berfirman, “Tidakkah kamu tahu bahwa si Fulan hamba-Ku sakit, kenapa kamu tidak mengunjunginya? Tahukah  kamu  jika kamu  mengunjunginya  niscaya  kamu  akan menemui-Ku di sisinya …” (HR.  Muslim)

Dalam  hubungannya  dengan  menjenguk  orang  sakit,  Rasulullah yang diriwayatkan ‘Aisyah RA.  memberikan tuntunan doa:

أذهِبِ الباس، ربَّ الناس، اشف وأنتَ الشافي، لا شِفاءَ إلا شِفاؤُك، شفاءً لا يغادِرُ سَقَماً

‘Tuhanku, Tuhan segala manusia, hilangkanlah penyakit. Sembuhkanlah, Engkaulah penyembuh. Tak ada penawar selain dari penawar-Mu, penawar yang menghabiskan sakit dan penyakit.’ (HR Al-Bukhari)

Seperti  menjamu tamu, menjenguk dan mendoakan orang sakit termasuk ibadah karena  melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.  Maka, masihkah kita mengucapkan, “Ah, jadi  merepotkan” untuk menyambut orang yang menjenguk kita atau keluarga ketika sakit? Lalu, kata-kata apa yang harus diucapkan? Jawabannya  tidak lain adalah  ucapan  terima kasih atas kunjungannya dan doa  agar apa yang dilakukan merupakan amal  salihnya. 

Ucapan  “Ah, jadi merepotkan” sering diucapkan pula oleh orang yang menerima bantuan. Sesuaikah  ucapan  itu  dengan  firman  Allah  dalam  surat  al-Maidah: 2? “Dan tolong-menolonglah  kamu  atas  kebajikan  dan  takwa, dan  janganlah  kamu bertolong-tolongan atas dosa dan permusuhan.”  

Dalam  ayat  tersebut,  orang  menolong  dalam kebajikan dan takwa adalah beribadah karena melaksanakan perintah Allah. Karena beribadah, tentu tidak boleh merasa repot dan direpotakan. Tetapi merasa bahagia dan bersyukur yang bahkan di hatinya tumbuh subur semangat menolong.

Maka  mari kita ubah kebiasaan mengucapkan, “Ah, repot-repot” dan “Ah, jadi merepotkan” dengan ucapan terima kasih dan doa, baik ketika menerima  jamuan makanan maupun  minuman;  ketika menerima  kunjungan dan doa pada waktu kita dan  atau keluarga kita  sakit;  juga ketika menerima bantuan. Mari luruskan  niat  kita menjamu  tamu, menjenguk  orang sakit, membawa  oleh-oleh ketika bersilaturahim, dan membantu  orang lain sebagai ibadah dan menjadikannya  sebagai ladang beramal salih. Jika kita dimintai tolong, hakikatnya kita diberi kesempatan beramal salih, bukan direpotkan.

Mohammad Fakhrudin, Dosen  Universitas  Muhammadiyah Purworejo

Sumber: Majalah SM No 14 Tahun 2017

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles