22.7 C
Yogyakarta
Selasa, Agustus 11, 2020

Kisah Teladan Athiyah bin Khalaf Seorang Pedagang Kurma

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Lazismu Medan Jaring Milenial Berdayakan UMKM

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Pembinaan UMKM menjadi demikian ditengah hawa resesi yang semakin panas. UMKM memiliki dayatahan dalam menghadapi guncangan ekonomi. Hal itu...

Uji Kompetensi 14 Skema LSP UMP Bersama BNSP

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Lembaga Sertifikasi Profesi Universitas Muhammadiyah Purwokerto tengah melakukan penambahan ruang lingkup LSP. Hal in ditandai...

Peduli UMKM di Saat Pandemi, KKN 117 UMY Kembangkan Potensi Batik Trisno Idaman

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Tim 117 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melakukan pengabdian masyarakat di Batik Trisno Idaman.  Sebuah...

UMSU Dampingi Peningkatan Kualitas Ponpes Kwala Madu

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara berkomitmen mendamping pengelolaan dan pengembangan pendidikan pesantren modern Kwala Madu, Langkat.

Mencegah Cyber Bullying Dimulai dari Keluarga

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Perkembangan internet yang semakin cepat dan meluas memunculkan berbagai dampak, tidak hanya positif tetapi juga negatif. Salah satu...
- Advertisement -

Dahulu, ada seorang pedagang kurma di Mesir bernama Athiyah bin Khalaf mengalami kesuksesan dan harta bendanya melimpah ruah. Meskipun dalam gelimang kekayaan, Ia tetap tekun beribadah dan makin banyak bersedekah di jalan Allah. Karunia Allah yang diterimanya tidaklah menambah kecuali ketakwaannya, kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah SAW juga makin meningkat.

Tetapi sepertinya Allah ingin menguji keimanan dan ketakwaan Athiyah lebih lanjut, tiba-tiba saja usahanya mengalami kemunduran, pelan tetapi pasti Ia menjadi bangkrut sehingga tidak memiliki apapun kecuali rumah dan sekedar pakaian yang dipakainya itu.

Untuk makan sehari-harinya Ia harus berusaha pada hari itu juga, bahkan tidak jarang Ia tak memperoleh apapun untuk dimakan. Namun dalam keadaan yang seperti itu, Ia tetap bersyukur kepada Allah, karena dengan tidak adanya kesibukan mengurus perniagaannya, Ia mempunyai waktu lebih banyak untuk beribadah kepada Allah. 

Teladan Athiyah bin Khalaf

Pada suatu hari Asyura, yakni tanggal 10 Muharam, setelah mengerjakan shalat subuh Athiyah langsung beri’tikaf di masjid Amr bin Ash. Salah satu masjid bersejarah di Mesir yang dibangun oleh sahabat Nabi SAW, Amr bin Ash ketika Ia menjadi gubernur di sana.

Pada hari-hari biasa masjid ini tidak pernah (tidak boleh) dimasuki oleh kaum wanita (untuk saat itu), tetapi khusus pada hari Asyura mereka (kaum wanita) diijinkan i’tikaf di sana untuk bisa berdoa dan memperoleh kebaikan (pahala) pada hari mustajabah tersebut. Athiyah mengambil jarak agak jauh dengan para wanita tersebut.

Setelah merasa cukup i’tikaf dan berdoa, Ia keluar dari masjid untuk pulang. Tetapi belum jauh berjalan, Ia dihampiri seorang ibu dengan beberapa anaknya yang juga baru keluar dari masjid. Sang ibu berkata, “Wahai tuan, saya meminta atas nama Allah, tolonglah untuk bisa memberi makanan pada anak-anak yatim ini. Saya ini seorang syarifah yang belum lama ditinggal wafat suami saya tanpa meninggalkan harta apapun. Sudah tujuh hari saya berada di sini tanpa mengenal siapapun, dan baru hari ini saya keluar untuk mencari makanan bagi putra-putra saya ini.”

Mendengar permintaan wanita syarifah (keturunan Nabi SAW) itu, Athiyah berkata di dalam hatinya, “Aku tidak mempunyai apapun yang bisa kuberikan kepada wanita ini, kecuali pakaian yang kupakai ini. Sekiranya aku buka disini untuk kuberikan, maka akan terbuka auratku, tetapi jika aku menolak permintaannya, bagaimana aku akan mempertanggung-jawabkan sikapku ini kelak di hadapan Rasulullah SAW.??”

Sejenak tenggelam dalam kebimbangan, akhirnya Athiyah berkata, “Marilah ikut ke rumahku dan saya akan memberi sesuatu kepada kalian.”

Mereka berjalan beriringan, dan ketika sampai di depan rumahnya, Ia meminta wanita itu menunggu sesaat di depan pintu rumahnya. Setelah masuk rumah, Ia melepas semua pakaian yang dipakainya dan memberikannya kepada waniat syarifah tersebut dari balik pintu, yakni dengan membuka sedikit pintunya dan mengulurkan tangannya. Ia berkata, “Juallah pakaian ini, dan gunakan uangnya untuk membeli makanan bagi anak-anakmu.”

Wanita itu sangat bergembira dengan pemberiannya itu, dan serta merta berdoa, “Semoga Allah memberikan kepada tuan pakaian dan perhiasan dari surga, dan semoga setelah hari ini, tuan tidak lagi berhajat (memerlukan) kepada orang lain.”

Athiyah sangat gembira dengan doa wanita tersebut dan mengaminkannya. Ia mencari kain sekedarnya yang masih ada di rumahnya, walau mungkin tidak sepenuhnya bisa menutup auratnya sehingga Ia tidak mungkin keluar rumah lagi. Ia hanya berdzikir dan shalat di dalam rumahnya, dan menutup pintunya untuk tidak menerima tamu dengan keadaannya seperti itu. 

Pada malam harinya, ketika Ia tertidur karena terlalu larut dalam dzikirnya, Ia bermimpi didatangi oleh seorang wanita yang sangat cantik layaknya seorang bidadari, tidak pernah Ia bertemu dengan wanita secantik itu. Wanita itu, yang ternyata memang seorang bidadari, membawa sebuah apel, yang kemudian menyerahkan kepadanya.

Setelah Athiyah membelah apel tersebut, ternyata keluar pakaian dan perhiasan yang sangat indah dari dalamnya. Sang bidadari memakaikan pakaian dan perhiasan itu kepada Athiyah kemudian Ia duduk di pangkuannya. 

Antara kaget dan senang, Athiyah bertanya, “Siapakah engkau ini??”

Bidadari itu berkata, “Aku adalah Asyura’, istrimu kelak di surga.”

Athiyah berkata lagi, “Sepertinya aku tidak mempunyai amalan yang istimewa, dengan amalan apakah aku memperoleh karunia yang sebesar ini??”

Bidadari itu berkata, “Berkat doa dari wanita janda dan anak-anak yatimnya yang engkau tolong kemarin itu.”

Seketika itu Athiyah terbangun, Ia masih di dalam rumahnya yang gelap dan pakaian (kain)-nya yang seadanya, tetapi bau harum pakaian dan bidadari dari surga itu masih menyebar di sekelilingnya. Ia sangat gembira dengan mimpi yang begitu nyata dirasakannya. Ia segera berwudhu dan shalat dua rakaat, kemudian berdoa, “Ya Allah, bila mimpiku itu memang benar dari sisi-Mu, dan Asyuraa’ itu memang istriku di surga, maka segerakanlah kematianku, ambillah ruhku sekarang juga.”

Usai berdoa itu, tubuhnya jatuh terkulai ke atas sajadahnya, dan ruhnya terbang ke hadirat Allah SWT dengan senyum yang lebar.

Banyak hikmah yang dapat kita ambil, salah satunya menolong orang lain yang lebih membutuhkaan itu lebih utama sedangkan balasan di sisi Allaah amatlah nyata. (rahel)

- Advertisement -
Berita sebelumyaPosisi Tangan Saat Iktidal
Berita berikutnyaLima Modal Muhammadiyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles