Lima Modal Muhammadiyah

Muhammadiyah Ideal

18 November 2019, Muhammadiyah berusia 107 tahun. Ketika pertama didirikan oleh KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah baru merupakan gerakan lokal. Sekarang, Muhammadiyah menjadi gerakan internasional. Sejak 2011, Muhammadiyah resmi masuk Ecosoc, sebuah lembaga sosial ekonomi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Melalui Cabang Istimewa (PCIM), bendera Muhammadiyah berkibar di lebih dari 20 negara. Relawan kemanusiaan Muhammadiyah menebarkan sinar surya ke berbagai penjuru dunia. Lembaga-lembaga internasional memilih Muhammadiyah sebagai mitra melayani masyarakat.

Di dalam negeri, Muhammadiyah berkhidmat memajukan bangsa melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi dan berbagai layanan sosial-kemanusiaan lainnya. Ribuan amal usaha berdiri dari Aceh sampai Papua.

Semua capaian tersebut adalah anugerah Allah dan buah ikhtiar kolektif semua warga Muhammadiyah. Banyak pihak yang bertanya bagaimana Muhammadiyah bisa terus bertahan dan berkembang.

Sebagian berpendapat Muhammadiyah didukung para konglomerat. Anggotanya adalah aghniya dengan harta berlipat. Mungkin ada benarnya. Kekayaan berperan penting dalam membangun gerakan. Akan tetapi, kekuatan Muhammadiyah terletak bukan pada kekayaan material dan finansial. Modal dan kekuatan Muhammadiyah bertumpu pada aspek non-material: sikap mental dan kualitas anggota serta sistem organisasi.

Pertama, modal spiritual yaitu ikhlas. Muhammadiyah adalah gerakan Islam. Niat utama ber- Muhammadiyah adalah untuk berdakwah dan beribadah. Ikhlas adalah modal yang membangkitkan semangat doing (berbuat) dan spending (berderma). Bertriliun aset Muhammadiyah terhimpun dari keikhlasan warga Muhammadiyah.

Kedua, modal sosial yaitu trust (kepercayaan). Di mata publik, Muhammadiyah memiliki nama besar (big brand) dan nama baik (branding). Modal sosial inilah yang mendorong berbagai pihak untuk tidak pernah ragu bekerjasama, bersedekah, dan berinvestasi di Muhammadiyah. Publik berkeyakinan, Muhammadiyah dan warganya akan menjaga amanah dengan penuh tanggung jawab.

Ketiga, modal intelektual berupa ide, gagasan, dan kreativitas warga Muhammadiyah. Dilihat dari tingkat pendidikan dan ekonomi, mayoritas warga Muhammadiyah terdiri atas kelas menengah yang berpendidikan tinggi dan mapan secara ekonomi. Modal intelektual merupakan salah satu faktor determinan dalam pertumbuhan, perkembangan, diversivikasi, dan prestasi amal usaha Muhammadiyah. Di rumah Muhammadiyah berhimpun insan cerdas dengan pikiran ber-nas dan langkah-langkah yang tangkas dan trengginas.

Baca Juga:   Muhammadiyah dan Salafi Wahabi

Keempat, modal managerial yaitu tata kelola organisasi yang tertib dan rapi. Muhammadiyah memiliki tradisi good governance dan clean goverment yang teruji. Dengan sistem organisasi yang teratur, Muhammadiyah bergerak efektif berbasis kinerja dan tidak bergantung kepada perseorangan. Muhammadiyah tetap stabil walaupun kepemimpinan silih berganti.

Terakhir, kelima, modal jaringan berupa persebaran organisasi dan anggota lintas profesi. Jejaring (network) Muhammadiyah terbangun melintas batas. Muhammadiyah memiliki jaringan internal antar amal usaha dan anggota. Selain itu juga jaringan eksternal dengan lembaga lain baik di dalam negeri maupun dunia, pemerintah maupun swasta, dan muslim maupun non-muslim.

Tentu masih banyak hal yang belum dikerjakan oleh Muhammadiyah. Masih banyak aspirasi yang belum bisa dipenuhi. Tetapi, dengan segala kelebihan dan kekurangan, semua capaian adalah nikmat Ilahi yang harus disyukuri. Berbekal lima modal, Muhammadiyah ingin melangkah lebih jauh dan berbuat lebih banyak dan lebih baik lagi.

Sebagai gerakan dakwah yang mulai membuana, di usia ke 107, Muhammadiyah bertekad dan berkhidmat memajukan Indonesia, mencerahkan semesta. (Abdul Mu’ti)

Sumber: Majalah SM Edisi 23 Tahun 2019