Keadaan Memang Belum Normal

Karena keadaan belum normal dan penuh kedarutan maka semua kegiatan, termasuk kegiatan peribadatan terpaksa dijalankan dengan cara tidak normal pula, sesuai protokol kesehatan. Tidak perlu ada perdebatan di sini, karena semua protokol itu sudah sesuai dengan tujuan syariat Islam.

Jamaah shalat masjid Siti Djirzanah Malioboro Dok Herry Zudianto

Pemerintah akhirnya mengakui bahwa istilah new normal atau normal baru itu sebagai istilah yang  salah. Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyatakan kalau istilah new normal ini sudah diganti dengan istilah adaptasi kebiasaan baru. Diksi new normal yang pada awalnya digaungkan pemerintah itu ternyata dipahami secara salah oleh masyarakat yang cenderung hanya fokus pada kata normalnya saja dan melupakan kata new yang ada di depan kata itu.

Di kalangan masyarakat, New normal bahkan dipahami sebagai keadaan yang “sudah kembali normal”. Tidak perlu pakai masker, pusat keramaian kembali buka, dan warga merasa bebas berkerumun, seperti saat wabah belum merambah.

Baca juga: https://www.suaramuhammadiyah.id/2020/06/06/memahami-new-normal-dan-edaran-terbaru-pp-muhammadiyah/

Baca juga: https://www.suaramuhammadiyah.id/2020/06/14/banjir-bandang-apakah-new-normal-kembali-normal/

Pada saat kemunculan pertamanya istilah new normal ini juga “ditolak” oleh Muhammadiyah yang lebih memilih  istilah new reality (kenyataan baru). Sudahlah, akhirnya pemerintah akhirnya merevisi istilah itu, karena pada kenyataannya hari ini keadaan masih jauh dari kata normal. Sertiap hari masih ada penambahan seribu lebih pasien positif covid-19. Dua hari yang lalu (kamis) malah mencapai angka 2.657. Cluster-cluster baru juga terus bermunculan.

Tempat industri, Kegiatan keagamaan, tempat ibadah, pesantren, asrama pelajar, bahkan sekolah militer juga tidak luput dari ancaman penyebaran covid-19 ini. Di sisi yang lain, jumlah dokter dan tenaga medis yang gugur dan menjadi korban penyakit ini juga terus bertambah dengan aneka cerita mereka yang memilukan.

Untuk itu, masyarakat Indonesia khususnya warga Muhammadiyah perlu menyimak arahan ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr H Haedar Nashir yang disampaikan dalam pengajian daring menyongsong Iduladha tadi malam.

Di acara itu Haedar mengingatakan tren penularan Covid-19 di Indonesia masih tetap tinggi sampai hari ini. Kondisi saat ini adalah kondisi darurat. Pandemi ini jelas bukan ilusi atau konspirasi. Pandemi ini merupakan realitas obyektif yang dihadapi bukan hanya oleh bangsa Indonesia, tapi juga dihadapi oleh seluruh bangsa di dunia.

Baca Juga:   Manhaj Moderat Berkemajuan

Sebagai organisasi yang sejak awal terlibat penanggulangan wabah ini, Muhammadiyah sudah menyusun sejumlah protokol dan panduan pencegahan penularan covid-19. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain bagi seluruh keluarga besar persyarikatan selain untuk mengikuti pedoman, tuntunan, dan kebijakan PP Muhammadiyah tersebut.

Semua protokol itu memang terkesan membatasi berbagai kegiatan warga, termasuk dalam merayakan hari raya kurban yang akan datang. Namun, karena keadaan memang masih tidak normal, untuk keselamatan bersama protokol itu harus dijalankan bukan malah diperselisihkan.

Perselisihan ini memang layak disudahi karena memang ada hal-hal mendasar yang harus dipahami secara bersama dalam konteks darurat pandemi. Muhammadiyah harus membuktikan bahwa Islam itu harus menjadi solusi dalam menghadapi seluruh keadaan, termasuk keadaan pandemi Covid-19.

Jangan sampai Islam dan umat muslim justru menjadi bagian dari masalah atau malah menambah masalah. Maka Islam harus menjadi solusi ketika terjadi musibah yang besar ini, dan Muhammadiyah telah mengambil langkah untuk menjadi solusi.

Sekali lagi, mari kita patuhi panduan dan tuntunan itu. Dari kaca mata agama, tidak ada alasan syar’i untuk tidak mematuhi panduan itu, karena semua tuntunan itu disusun berdasarkan prinsip-prinsip maqashidu syari’ah, atau tujuan dan grundnorm syariah islam itu sendiri. (mjr-08)