29.6 C
Yogyakarta
Selasa, Agustus 11, 2020

Kemenag: Tidak Ada Agenda Penghapusan Bahasa Arab dan PAI Di Madrasah

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Haedar Nashir: Kerjasama Jadikan Unismuh Unggul dan Berkemajuan

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Prof Dr H Ambo Asse, M.Ag resmi dilantik jadi Rektor baru Unismuh Makassar periode 2020-2024. Prof Ambo Asse...

Prof Ambo Asse Resmi Dilantik Jadi Rektor Baru Unismuh ke-11

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Prof Dr H Ambo Asse, M.Ag resmi dilantik menjadi Rektor Unismuh Makassar. Guru Besar dari UIN Alauddin Makassar...

Kiprah Prof Rahman Rahim Memajukan Unismuh

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Rektor Unismuh  Makassar, Prof Dr H Abdul Rahman Rahim, SE,MM telah berakhir masa periodenya  sebagai rektor sejak Sabtu...

Olah Inovasi Produk dari Bengkuang, Pertanian UMP Dampingi Desa Linggasari

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Purwokerto menyelenggarakan program tahunan yaitu Program Desa Mitra terhadap Desa atau Daerah yang mempunyai...

KKN Alternatif Fikes UMP Peduli Masyarakat Terdampak Covid-19

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah -Mahasiswa yang tergabung dalam kelompok KKN Alternatif Kelompok 9 FIKES UMP membagikan sembako kepada masyarakat diantaranya lansia dan masyarakat...
- Advertisement -

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama A Umar memastikan tidak ada penghapusan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab. Ia menyampaikan bahwa suratnya yang dikirim ke Kanwil dan Kantor Kemenag merupakan surat biasa. Bukan perintah menghapus PAI dan Bahasa Arab seperti disalahpahami masyarakat. 

Surat edaran KMA No 183 tahun 2019 tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab yang menjadi kontroversi di masyarakat tersebut berfungsi menggantikan KMA 165 tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah. “Itu surat biasa yang bersifat mengingatkan tentang pelaksanaan kurikulum sesuai KMA 183 tahun 2019 dan KMA 184 tahun 2019 secara serentak di semua jenjang MI, MTs, MA seluruh Indonesia,” ujarnya.

Sebenarnya masyarakat madrasah sudah mendapat sosialisasi pada tahun 2019. Sehingga masalah ini bukan hal yang baru. Surat itu ditujukan kepada Kepala Kakanwil Kemenag Provinsi, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten-Kota, dan Kepala Madrasah Seluruh Indonesia. 

Umar menegaskan bahwa mapel agama merupakan ciri khas madrasah, sehingga tidak mungkin Kemenag menghapus atau menggantinya. Justru surat tersebut meminta seluruh madrasah untuk menggunakan kurikulum yang baru ini. Ia mengaku sangat kaget ketika muncul salah paham dari masyarakat luas bahwa surat edaran tersebut dipahami sebagai penghapusan PAI dan Bahasa Arab.

Beberapa hari ini viral di media sosial bahwa Kementerian Agama akan meniadakan mapel Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab. Sehingga pada Jumat (10/7) Direktur KSKK Madrasah menegaskan mata pelajaran dalam Pembelajaran PAI dan Bahasa Arab pada KMA 183 Tahun 2019 sama dengan KMA 165 Tahun 2014.  Mata Pelajaran itu mencakup Alquran, hadits, akidah akhlak, fiqih, dan sejarah kebudayaan Islam serta bahasa Arab. “Jadi beda KMA 183 dan 165 lebih pada adanya perbaikan substansi materi pelajaran karena disesuaikan dengan perkembangan kehidupan abad 21,” ungkap Umar.

Dia mengatakan Kemenag juga sudah menyiapkan materi pembelajaran PAI dan Bahasa Arab yang baru ini sehingga baik guru dan peserta didik tidak perlu untuk membelinya. Buku-buku tersebut bisa diakses dalam website e-learning madrasah. Dengan demikan madrasah akan memulai tahun pelajaran 2020/2021 mulai 13 Juli 2020. mengatakan bahwa Madrasah, baik Ibtidaiyah (MI), Tsanawiyah (MTs), maupun Aliyah (MA), akan menggunakan kurikulum baru untuk Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab. (diko)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles