Aktualisasi Intelektual Kader Hizbul Wathan

Aktualisasi Intelektual Kader Hizbul Wathan

Aktualisasi Intelektual Kader Hizbul Wathan

Oleh: Fathan Faris Saputro

Menjadi kader Hizbul wathan merupakan kebanggaan sekaligus tantangan. Betapa tidak, ekspetasi tanggung jawab yang diemban oleh kader Hizbul wathan. Dari makna Hizbul wathan sebagai kader yang cinta tanah air maka seharusnya pandu dapat bertindak sebagai penggerak yang mengajak seluruh masyarakat untuk dapat bergerak dalam melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, dengan pertimbangan berbagai ilmu, gagasan, serta pengetahuan yang dimiliki. Bukan waktunya lagi sebagai kader HW hanya diam dan juga tidak peduli dengan krisis intelektual bangsa dan Negara.

Eksis atau hilang:

Terlepas dari segala makna yang diberikan kepada seorang kader HW, apakah sepadan dengan pergerakan atau perubahan yang telah dibuatnya?

Namun, ketika pandemic Covid-19 terjadi di Indonesia, bagaimana kabar intelektual kader Hizbul wathan? Apakah hanya sibuk dengan tugas? Atau nonton drama berepisode-episode setiap malam? Atau hanya bersenang-senang dengan hewan peliharaan? Atau bahkan ada niatan untuk menikah muda?

Pada masa sebelum ada pandemi, kader Hizbul wathan banyak berkegiatan dengan jadwal-jadwal rapat nan padat, masih bisa berbangga dengan pencapaian dalam ruang lingkup kemasyarakatan. Beberapa kegiatan, seperti menjadi relawan dalam mengajar anak-anak di kolong jembatan, sampai mendatangi daerah-daerah terpencil untuk melakukan peningkatan intelektual kader Hizbul wathan. Dan masih banyak lagi cerita-cerita yang menggema tentang sosok para kader HW.

Waktu begitu cepat berlalu dan kegiatan tersebut pula ikut berlalu. Bagaimana tidak, kegiatan di luar rumah dibatasi karena untuk memutus rantai penyebaran virus corona. Tidak ada persiapan dalam situasi seperti ini, karena boleh dikata hal seperti ini “dadakan” dan di luar dari dugaan.

Berpindah haluanlah kegiatan pandu HW. Dari yang masuk ekstra HW secara offline, sekarang hanya menggunakan aplikasi berbasis online sambil rebahan. Dari yang kajian di waktyu senja, sekarang hanya link grub kajian online yang bertebaran. Dari rapat-rapat yang tidak hentinya, sekarang hanya rapat virtual dengan smartphone.

Melahirkan kader progresif:

HW sebagai organisas kepanduan Islam, memikiki tanggung jawab sosial yang besar dalam memainkan arah rekayasa perubahan, menuju bangunan peradaban, menuju bangunan peradaban progresif. Di usianya yang ke-102, HW memiliki tanggung jawab sejarah yang besar dalam melahirkan aktor-aktor krisis-progresif di tengah keterpurukan bangsa Indonesia yang mengalami krisis multidimensional.

Baca Juga:   Empat Tipologi Amil Lazismu

Lahirnya kader-kader progresif tersebut merupakan keniscayaan dalam membangun peradaban baru bagi bangsa Indonesia, sebab bukan hanya akan menghadapi tantangan dari luar, berupa neolibarisme yang merupakan bagian dari neoimperialisme, tetapi juga para penguasa yang zalim, yang tidak perpihak pada rakyat kecil. Michael pother (Ekonom AS) mengatakan, bangkitnya suatu bangsa membutuhkan modal sosial, berupa kesadaran masyarakat dalam membangun bangsanya.

Ketika menempatkan intelektual hanya sebatas-batas pengetahuan semata, maka yang ada adalah kekeliruan yang akan menjerumuskan seseorang untuk berpihak kepada apa yang kuat dan bukan kepada apa yang benar atau disebut oleh Boni Hargens sebagai intelktual tukang yang setiap analisinya ditentukan kepentingan kekuasaan dan ditakar yang setiap analisinya ditentukan kepentingan kekuasaan dan ditakar dengan uang dengan kata lain mereka bekerja untuk kepentingan politik-kekuasaan.

Senada dengan itu, menurut sarumpaet, keberadaan dan peranan kaum intelektual menjadi penting lantaran langkahnya punya dasar berpijak yang di dalamnya menyimpan gagasan untuk perbaikan menghadapi masa depan. Maka, di manapun di dunia ini, kaum intelektual kerap bertindak sebagai pioner, perintis dan pemberi pencerahan atas kehidupan manusia.

Ketika intelektualitas telah menjadi gerakan itu sendiri maka itulah saat yang tepat di mana gerakan HW hadir sebagai gerakan yang mencerahkan peradaban dan seluruh penghuni bumi, termasuk di dalamnya aktivis HW dan Muhammadiyah sebagai payung pencerahan itu sendiri. Generasi HW masa telah memulai. Mari kita generasi HW hari ini untuk secara bersama-sama mengambil peran untuk mencerahkaan diri dan masyarakaat untuk lahirnya peradaban yang membawa kesejahteraan bagi seluruh umat manusia yang di atas muka bumi.

Lebih dari itu, yang mestinya dilakukan oleh kalangan intelektual khususnya kader-kader HW adalah membangun suatu diskursu yang mampu mendorong terbangunnya historical bloc dan gerakan sosial baru bagi tiap-tiap warga Negara Indonesia, khususnya dalam kampus sebagai basis gerakan intelektual.

Fathonah dalam berpikir, berwawasan dan menghasilkan karya pemikiraan:

Adalah naif jika elemen organisasi Hizbul wathan mengabaikan tugas mulianya untuk menghidupkan gerakan intelektualnya. Itu akan tercermin jika organisasi kepemudaan yang sudah berusia satu abad ini tumpul dalam menggoreskan kepanduannya. Kepanduan HW yang memiliki corak gerakan keilmuan. Dan jelas, Hizbul wathan menuntut kadernya menghasilkan ide-ide segar dalam mengintervensi sosial menuju perubahan yang progresif dengan keilmuannya. Lebih lanjut, ide-ide segar mutlak diabadikan dalam sebuah karya berupa tulisan yang tertata dengan baik oleh segenap kader Hizbul wathan.