31 C
Yogyakarta
Kamis, Agustus 6, 2020

Dinamika Wacana Islam Indonesia

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

SMK Mutu Tegal Unggul, Jadi Pusat Studi Banding

TEGAL, Suara Muhammadiyah - SMK Muhammadiyah  1 (SMK Mutu) Kota Tegal merupakan salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah unggul di Jawa Tengah....

Haedar Nashir Ajak Warga Bermitra dengan BulogMU

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam kunjungannya ke Grha Suara Muhammadiyah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyempatkan melihat lokasi BulogMU pusat...

FKKS Muhammadiyah Jateng Gelar Rakor, Fokuskan Tiga Pembahasan

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Forum Komunikasi Kepala sekolah Muhammadiyah Jawa Tengah gelar Rapat koordinasi di Semarang pada Rabu, 5 Agustus 2020. Dihadiri...

Mentari Covid-19, Upaya Ekstra Muhammadiyah Tangani Wabah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Adanya perkembangan kasus wabah Covid-19 yang terus meningkat di Indonesia, membuat Muhammadiyah tidak bisa tinggal diam. Sebagai organisasi...

ICBAE UMP Dukung Akademisi Sukseskan Program SDGs

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Banyumas, Jawa Tengah, melalui Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) menggelar seminar internasional bertajuk “The...
- Advertisement -

Judul               : Teologi Pembaruan: Pergeseran Wacana Islam Sunni di Indonesia Abad XX

Penulis             : Fauzan Saleh

Penerbit           : Suara Muhammadiyah

Cetakan           : I, Maret 2020

Tebal, ukuran  : xxi + 484 hlm., 15 x 23 cm

Indonesia merupakan negara Muslim yang terletak paling jauh dari tanah kelahirannya di Timur Tengah. Islam di Indonesia disebut paling sedikit menerima pengaruh Islam Arab dan sering dipandang menempati posisi periferal di antara negara Islam lainnya (hlm 1-2). Mayoritas umat Islam Indonesia mengikatkan diri pada pandangan Sunni, yang mewakili Islam ortodoks. Paham ahl al-sunnah wa al-jama’ah diikuti dan menjadi pandangan kalangan tradisionalis dan modernis, yang direpresentasikan oleh Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Bagi NU, pemahaman sebagai Muslim yang taat atau ortodoks berarti harus mengikuti ajaran imam mazhab yang empat (Syafii, Maliki, Hanbali, Hanafi) secara utuh dalam bidang fikih, mengikuti ajaran al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam bidang teologi, serta ajaran al-Junayd dan al-Ghazali dalam bidang tasawuf. Mereka juga mempertahankan tradisi dan praktik keagamaan populer seperti tahlilan, yasinan, dan slametan sebagai amalan turun temurun.

“Bagi Muhammadiyah, mengikuti paham ahl al-sunnah berarti mengikuti ajaran dan sunnah yang telah ditetapkan oleh Nabi dan para sahabatnya, baik dalam hal keyakinan maupun amaliah keagamaan, dan berjuang untuk kemajuan dan keagungan Islam dan umatnya. Muhammadiyah menetapkan identitas organisasinya sebagai gerakan Islam yang mendasarkan aktivitas keagamaan dan sosialnya serta cara pandang dunianya pada Kitab Allah dan Sunah Nabi-Nya,” (hlm 365).

Harry J Benda dalam The Crescent and the Rising Sun (1958) menyatakan bahwa sejarah Islam di Indonesia pada dasarnya merupakan sejarah perluasan budaya santri dan dampaknya terhadap kehidupan beragama dan politik. Para pemikir dari kalangan pembaru mengembangkan berbagai pendekatan untuk menyampaikan ajaran agama yang diterima luas di kalangan terpelajar dan kelas menengah. Perubahan ini terkait dengan paradigma pemahaman, pemegang otoritas keagamaan, serta perubahan konteks.

Wacana Islam Sunni di Indonesia mengalami lompatan pemahaman karena kehadiran para ilmuan yang mendapatkan tempaan akademik di Barat. Dengan bekal ilmu agama sebelumnya, mereka diberi kesempatan mengembangkan pemikiran yang memadukan tradisi keilmuan Timur dan Barat. Sekembalinya ke Indonesia, mereka berkiprah secara nyata menyebarkan gagasan baru yang mencerahkan dan menggugah kesadaran umat Islam tentang pentingnya meraih kemajuan tanpa kehilangan semangat keagamaan.

Di antara  lokomotif pembaharuan pemikiran Islam Sunni di Indonesia dalam buku ini adalah Harun Nasution, M. Amien Rais, dan Nurcholish Madjid. Menurut Syafiq Mughni, mereka mempelopori pemahaman ulang doktrin agama secara rasional yang mendorong dinamisme dan aktivisme Islam. “Gagasan ketiga tokoh ini telah menandai perubahan-perubahan besar dalam kehidupan umat Islam dalam hubungannya dengan transformasi sosial-budaya masyarakat Indonesia secara umum.”

Pemahaman doktrin agama secara lebih rasional melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini menjadi syarat menuju kemajuan Islam. Pemahaman teologi rasional dimaksudkan untuk menolak pandangan teologi fatalistik yang bersumber dari ajaran Jabariyah-Asy’ariyah. Doktrin teologi Murji’ah-Jabariyah disebut juga berimplikasi pada tumbuhnya moral rendah dan berimplikasi pada lemahnya penegakan hukum, tertib sosial, dan maraknya perilaku curang dan korup. Sisi lain, pandangan saintisme yang absolut dan jumawa juga bukan solusi. (ribas)

Bukunya dapat dibeli di Suara Muhammadiyah Store

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles