Jaga Tangga Gerakan Kultural Jateng Lawan Corona

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo pada Milad UMP ke-55 secara Virtual Dok UMP/SM

SEMARANG, Suara Muhammadiyah – Peran organisasi keagamaan dan tokoh masyarakat sangat penting dalam memahamkan masyarakat terkait bahaya virus corona serta pencegahannya. Selain itu kekuatan komunitas ini juga dapat menekan laju penularan karena memiliki basis pengikut yang sangat banyak.

Gerakan berbasis kearifan lokal dengan nama “Jaga Tangga” menjadi opsi pemerintah Jawa Tengah yang diharapkan dapat mengurangi kasus penularan Covid-19 di masyarakat. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyampaikan bahwa asal mula terbentuknya gerakan berbasis kearifan lokal dalam penanganan Covid-19 adalah munculnya keresahan atas kurang baiknya koordinasi dalam pembagian bantuan sosial (bansos) di masyarakat, beberapa waktu lalu.

“Pada saat itu bansos menjadi isu nasional. Sangat ramai diperbincangkan serta menuai pro dan kontra di masyarakat. Banyak data yang tidak tepat. Sebagai pemerintah tentu saya sangat paham karena ukuran setiap penerima yang berbeda-beda satu dengan lainnya,” ujarnya pada acara Covid-19 Talk yang diselenggarakan oleh MCCC PP Muhammadiyah (17/7).

Semua masyarakat meminta kepada pemerintah untuk diberi bansos. Kultur masyarakat sudah mulai bergeser, yang sebelumnya tangan di atas menjadi tangan di bawah. Semua merasa aji mumpung. Semua merasa menjadi korban. “Tahap pertama pemberian bantuan sosial langsung tunai itu dedel duel. Semua saling berebut, marah, dan saling menyalahkan,” ujar Ganjar.

Banyaknya kendala yang terjadi di lapangan mulai dari masyarakat yang berebut untuk mendapatkan bansos, rumah sakit yang menjadi sangat sibuk menangani pasien Covid-19, sampai kebijakan pemerintah daerah yang bersifat top-down sehingga membuat masyarakat menunggu, mendorong pemerintah Jawa Tengah untuk membentuk satuan tugas berbasis kekuatan komunitas yang ada di bawah.

“Selama ini kita seperti bermain kucing-kucingan. Pemerintah dan masyarakat saling berhadap-hadapan. Ada pemerintah yang mencoba mengatur dan ada pula masyarakat yang mencoba mencuri-curi ruang dan waktu dengan tidak mentaati protokol kesehatan,” jelas Ganjar.

Baca Juga:   PKU Karanganyar Didorong Raih Akreditasi Paripurna

Ganjar mengaku bahwa ia mendapat masukan dari para pakar. Masukan tersebut adalah dengan cara memberdayakan masyarakat desa. Di desa ada ibu-ibu PKK, perangkat desa dan lain sebagainya. Mulai saat itulah pemerintah melakukan diskusi secara serius dan disepakatilah sebuah desain gerakan kepedulian kepada sesama. Sebuah gerakan yang akan selalu eksis di masyarakat. Sudah ada di masyarakat sejak lama. bukan hal baru. Gerakan ini bisa terkonsulidasi dengan baik. Dari situlah pemerintah terdorong untuk menghidupkan kembali gerakan ini.

Covid-19 di Jawa Tengah dipastikan akan terus naik. Agar setiap penanganan menjadi lebih efisien maka harus segera dilakukan tracing. Kepada mereka yang memiliki hubungan erat, hubungan dekat, dan hubungan sosial dengan pasien. Dan betul-betul di target.

“Metode ini sama seperti menjaring ikat di kolam. Jika kita menangkap ikan dengan menggunakan satu tangan, kemungkinan kita tidak dapat. Kalau memakai pancing, kemungkinan juga hanya dapat satu. Tapi kalau kita memakai jaring dan kita geser ke pojok, maka ikannya akan berkumpul di situ semua,” paparnya.

“Jaga Tangga” merupakan gerakan kultural sehingga gerakan ini sangat relevan di masyarakat. Diharapkan nantinya gerakan ini dapat memberikan sangsi sosial. “Gerakan ini akan kita masifkan dari bawah. Maka Jaga Tangga bukan lembaga yang berjalan sendiri-sendiri. Namun kita dukung penuh dan kita fasilitasi. Agar lembaga ini memiliki instrument untuk dipakai dalam melawan Covid-19,” jelas Ganjar.

Tafsir, Ketua PWM Jawa Tengah mengungkapkan, masyarakat memiliki peran dan kapasitas dalam penanggulangan bencana. Khususnya budaya Indonesia yang khas dengan ketimurannya. Membantu tetangga dan sesama sudah sangat mengakar bagi masyarakat Indonesia. Agama tidak bisa lepas dari kearifan lokal. Bahkan samapi level tertentu ada kaidah fikih yang berbunyi “al-adah muhakkamah”, adat merupakan bagian dari kearifan lokal.

Baca Juga:   Belajar Tahsin dan Tilawah di Taman Qur’an Suara Muhammadiyah

Ada tiga peran yang dimainkan oleh PWM Jawa Tengah. Pertama, yang bersifat pragmatis. Begitu terjadi pandemi kita langsung melakukan langkah yang bersifat darurat. Kepada masyarakat kita bagikan sembako, dalam hal kesehatan kita bagikan masker dan APD bersama LazisMu dan MCCC. Kedua, memberikan edukasi kepada masyarakat untuk sadar bersama-sama menanggulangi pandemi Covid-19. Ketiga, melakukan kerja pendampingan. Pendampingan kepada keluarga korban dan penanganan jenazah. (diko)