Haedar Nashir: Menunda RUU Yang Kurang Perlu Bukan Tindakan Memalukan

Prof Dr Haedar Nashir, foto by Budi Setiawan

Suaramuhammadiyah.id. Saat ini, masalah yang harus mendapatan perhatian seluruh anak bangsa adalah masalah covid-19. Dari hari ke hari korban yang jatuh terus bertambah, yang meninggal dunia juag sudah banyak. Demikian juga yang ada di Indonesia, di dunia atau pun di Indonesia, pandemi ini adalah hal yang nyata, bukan ilusi. Ini problem nyata yang harus segera di atasi. Di sinilah moral kemanusiaan kita dipertaruhkan.

Itulah pesan yang disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir, saat membuka tanwir Muhammadiyah yang diselenggarakan secara daring 19 Juli 2020 pagi tadi.  Dalam pidato pembukaan tanwir yang mengambil tema “Hadapi Covid-19 dan dampaknya: Beri solusi untuk negeri” tersebut, Haedar Nashir juga mengingatkan tentang moralitas kemanusiaan anak negeri ini.

Menurut Haedar Nashir, saat ini kita tengah hidup dalam kondisi kedaruratan karena musibah wabah yang parah. Islam yang merupalan risalah rahmat untuk seluruh alam harus dapat tampil memberi solusi. Untuk mencegah adanya musibah, dan mencegah musibah yang ada agar tidak berkembang menjadi lebih besar. Secara tegas, dalam Islam ada doktrin menyelamatkan satu jiwa sama dengan menyelamatkan nyawa semua manusia (al-maidah: 32).

Dalam konteks ini Muhammadiyah dan kelompok Islam yang lain sudah berijtihad untuk beribadah di rumah untuk mencegah penyebaran wabah ini, untuk memelihara nyawa manusia. Menurut Haedar, kepedulian yang sama seharusnya juga dilakukan komponen anak bangsa yang lain, terutama oleh para elite negeri ini.

“Muhamadiyah dan ummat Islam berijtihad untuk ibadah di rumah, yang ini merupakan hal yang fundamental, para elite negeri seharusnya dapat mengesampingkan hal lain yang kurang penting yang bisa ditunda.” Tutur Haedar.

Bagi Haedar, kalau para elite politik negeri ini bersedia menunda hal-hal yang tidak perlu dan memilih untuk memprioritaskan hal yang lebih penting seperti penyelesaian Covid-19 ini, bukanlah hal yang memalukan di hadapan rakyat. Justeru sebaliknya.

Baca Juga:   Disambut PCIM, Sembilan Kader Muhammadiyah Tiba di Al-Azhar Mesir

Hal kurang penting yang dimaksud Haedar dapat dikesampingkan saat ini adalah pembahasan RUUHP dan RUU kontoversi lain yang lebih banyak mafsadat dan madaratnya apabila dipaksakan untuk diteruskan dan disahkan saat ini.

“Jangan sampai, pada saat ini ketika ada yang bertaruh nyawa untuk menyelamatkan nyawa warga bangsa yang lain, ada yang kita tidak bisa menunda hal yang pantas ditunda.” Haedar mengingatkan dengan nada haru.

Haedar juga menyatakan kalau Muhammadiyah melakukan kritik pada situasi kebangsaan yang tidak semestinya itu adalah juga solusi untuk negeri ini. Selama ini Muhammadiyah memberi dukungan pada yang positif tapi juga memberi masukan dan kritikan.  Ini merupakan wujud dari implementasi Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid  dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

“Kita melakukan kritik secara tegas agar RUU HIP atau apapun namanya ini dihentikan, agar negeri lebih konsetrasi menghadapi covid-19 yang tidak sederhana ini. Sekaligus menjaga agar kiblat bangsa ini tetap lurus sesuai dengan yang diletakkan oleh para pendiri bangsa.” Jelas Haedar.

Dalam kerangka moral kemanusiaan dan memelihara kehidupan serta mementngkan hal yang lebih penting itu pulalah Muhammadiyah memutuskan menunda Muktamar untuk kedua kalinya.

“Agar kita bisa lebih berkonstribusi untuk negeri, menyelesaikan masalah pandemi yang memang harus lebih diprioritaskan dan lebih penting ini.” Tandas Haedar. (mjr-8)

PP Muhammadiyah: RUU HIP Tidak Perlu Dilanjutkan

Merugikan Rakyat, Muhammadiyah Menolak RUU Cipta Kerja