Shalat Mi’raj Mukmin

Shalat Mikraj Mukmin Ilustrasi
Shalat Mikraj Mukmin Ilustrasi

Khutbah Jum’at Shalat Mi’raj Mukmin

Oleh: Athiful Khoiri

الحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ باِللهِ مِنْ شَرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالتَابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إلى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ   .

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan mulia ini, marilah kita mengungkapkan rasa syukur ke hadirat Allah SwT, yang telah memberikan rahmat, taufiq, serta hidayah-Nya. Dengan karunia dan hidayah itu, kita menjadi orang yang beriman, berislam, dan selalu terbimbing untuk mengambil pilihan hidup yang terbaik atau ihsan dalam hidup ini. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah pada Nabi Muhammad saw, beserta keluarga, sahabatnya, dan semua yang bersedia mengikuti ajarannya.

Jama’ah Jum’at yang berbahagia

Shalat adalah tiang agama. Siapa mendirikan shalat, ia menegakkan agama, dan siapa meningalkan shalat, ia merobohkan agama. Mengapa demikian? Karena shalat merupakan sarana komunikasi antara makhluk dengan Allah. Hal itu sesuai dengan firman-Nya

“Sungguh, Akulah Allah; tiada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (Qs Thaha [20]:14).

Dalam shalat inilah, seorang Muslim memuji Allah dan mengakui-Nya sebagai pengatur alam semesta: segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Dalam shalat, Muslim mengakui Allah sebagai dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dalam shalat, Muslim mengakui Allah ialah dzat yang merajai hari pembalasan. Dalam shalat, Muslim berikrar untuk semata menyembah Allah, dan hanya kepada-Nya ia memohon pertolongan. Dalam shalat, Muslim berdoa agar senantiasa dibimbing Allah menuju jalan yang lurus; yakni jalan orang-orang yang memperoleh nikmat, bukan semata jalan mereka yang dimurkai dan tersesat.

Baca Juga:   Puasa dan Akuntabilitas

Dalam sebuah Hadits Qudsi, juga disebutkan “Aku (Allah) membagi shalat (yaitu al-Fatihah) antara aku dan hamba-Ku, masing-masing separoh, dan baginya apa yang ia minta. Jika ia mengucapkan ‘alhamdulillahi rabbil ‘alamin’, maka Allah berkata, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ Jika ia mengucapkan ‘ar-rahmanir rahim’, Allah berkata, ‘Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Bilamana ia mengucapkan ‘maliki yaumiddin’, Allah berkata, ‘Hamba-Ku telah memuliakan dan pasrah kepada-Ku.’ Ketika ia mengucapkan ‘iyyaka na’budu wa’iyyaka nasta’in’, Allah berkata, ‘Inilah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku; baginya apa yang ia minta.’ Dan jika ia mengucapkan ‘ihdinash-shirathal-mustaqim, shirathal ladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim waladh-dhalin’, Allah berkata “Ini untuk hamba-Ku dan baginya apa yang ia minta(HR Muslim).

Jama’ah Jum’at yang berbahagia

Dalam Islam, kedudukan shalat sangat mulia. Di akhir hidup Rasulullah saw tak henti-hentinya menyerukan agar umatnya senantiasa mendirikan shalat. Hal ini didasari karena shalat adalah amalan pertama yang dihisab oleh Allah swt kelak pada Hari Kiamat.Rasulullah saw bersabda:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ

“Perbuatan seorang hamba Allah, yakni manusia, yang mula-mula diperiksa dan diperhitungkan pada Hari Kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka akan baik pula semua amalnya, dan jika buruk atau rusak, maka akan buruk pula amalan lainnya(HR Thabrani).

Sebagaimana shalat menjadi perkara besar, Khalilullah Ibrahim as senantiasa memohon kepada Allah swt agar dikaruniai keturunan yang taat menjalankan shalat.

“Tuhanku, jadikanlah Aku orang yang tetap mendirikan shalat, juga anak-anak keturunanku. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku!” (Qs Ibrahim [14]:40).

Jama’ah Jum’at yang berbahagia

Al-Qur’an banyak mengulas urgensi shalat beserta manfaatnya: Shalat sebagai sarana mengingat Allah swt, “Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (Qs Thaha [20]:14). Shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar, “Innash shalata tanha ‘anil fakhsya’i wal-munkar” (Qs Al-Ankabut [29]:45). Shalat benteng mukmin dari gelisah, keluh kesah, dan putus asa, “Sungguh manusia diciptakan serba gelisah; bila ditimpa bahaya berkeluh kesah, dan bila menerima kekayaan kikir, kecuali orang yang tekun mengerjakan shalat; mereka yang tetap setia mengerjakan shalat” (Qs Al-Ma’arij [70]:19-23). Shalat khusyu’ mengantarkan kepada keberuntungan, “Qad aflahal mu’minun. Alladzina hum fi shalatihim khasyi’un” (Qs Al-Mu’minun [23]:1-2). Shalat ialah sarana memohon pertolongan Yang Maha Kuasa, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat: ini sungguh berat, kecuali bagi mereka yang khusu(Qs Al-Baqarah [2]:45).

Baca Juga:   Perintah Mengikuti Ajaran Agama (2); Surat Al-Baqarah Ayat 208-212

Demikianlah uraian tentang shalat. Shalat merupakan mi’raj bagi mukmin sejati. Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah swt agar bisa istqamah menjaga shalat kita dengan semaksimal mungkin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ، اللّهُمَّ فَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْ