75 Tahun Kemerdekaan Muhammadiyah untuk Indonesia

75 Tahun Kemerdekaan Muhammadiyah untuk Indonesia

Prof Dr H Haedar Nashir, MSi

Ketika Indonesia merayakan kemerdekaan ke-75, sejarah mencatat peran penting Muhammadiyah. Sejumlah jejak telah digoreskan oleh organisasi Islam modern terbesar di Indonesia ini. Muhammadiyah, termasuk Aisyiyah di dalamnya, merupakan organisasi kebangkitan nasional generasi awal bersama Sarikat Dagang Islam dan Boedi Oetomo.  Tidak kurang dari lima belas Pahlawan Nasional berlatarbelakang dan merupakan tokoh Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Bung Karno mengingatkan,  “Jasmerah”: Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Salah satu kekuatan bangsa yang terlibat dalam gerakan kebangkitan nasional awal abad ke-20 dan ikut menentukan titik sejarah Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 maupun pasca kemerdekaan, adalah Muhammadiyah. Muhammadiyah ibarat ibu yang ikut melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Siapa yang mengabaikan Muhammadiyah dan peran kesejarahan lainnya, berarti lupa dan terputus dari sejarah Indonesia.

Peran Kesejarahan

Muhammadiyah hadir menjadi gerakan Islam yang memiliki dan menorehkan kesadaran Indonesia merdeka. Tentu, pertama kepeloporan Kyai Haji Ahmad Dahlan melalui Muhammadiyah yang didirikannya tahun 1912 melalui berbagai usaha pendidikan, kesehatan, sosial, dan pembaruan pemikiran memberi modal utama bagi bangsa Indonesia untuk sadar akan keterjejahan dan ketertinggalannya, kemudian lahir kekuatan untuk menjadi bangsa merdeka.

Kiprah Kyai Dahlan tersebut diakui pemerintah dengan diangkatnya beliau sebagai Pahlwan Nasional melalui Keputusan Presiden nomor 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai berikut: (1) KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat; (2) Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan Islam; (3) Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam; dan (4) Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita yaitu Aisyiyah,  telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.

Nyai Walidah Dahlan yang bersama Kyai Dahlan mendirikan Aisyiyah juga diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Peran Nyai sampai beliau wafat tahun 1946 sangat besar dalam menyadarkan kaum muslimah dan perempuan Indonesia untuk hidup setara dengan kaum pria. Aisyiyah sendiri berperan besar selain dalam pendidikan dan usaha sosial kesehatan, dalam jejak sejarah ikut memelopori Kongres Perempuan Pertama tahun 1928, yang saat ini diperingati sebagau Hari Ibu. Dari rahim Muhammadiyah-Aisyiyah lahir tokoh pergerakan perempuan lainnya yaitu Siti Bariyah sebagai Ketua pertama Aisyiyah, kemudian Siti Hayyinah dan Siti Munjiyah sebagai pelopor dan narasumber Kongres Perempuan 1928. Sejarah juga mencatat Raden Nganten Siti Supartinah Soenarjo waktu muda aktif di Siswoprojo embrio Nasyiatul Aisyiyah / Aisyiyah, sebagai anggota BPUPKI dan tokoh pergerakan perempuan Indonesia, kendati aktifnya kemudian di Taman Siswa. Mr Hajjah Raden Ayu Maria Ulfah, tokoh pergerakan Indonesia anggota BPUPKI yang setelah merdeka menjadi Menteri Sosial, juga menjadi guru di Sekolah Menengah Muhammadiyah Jakarta tahun 1934-1942. Muhammadiyah dan Aisyiyah peletak dasar pergerakan perempuan Islam Indonesia berkemajuan. Inilah tonggak sejarah kebangkitan perempuan Indonesia untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa.

Muhammadiyah juga menorehkan jejak emas dalam pencerdasan bangsa dan gerakan keilmuan. Selain melalui pendidikan sekolah modern sejak satu tahun sebelum Muhammadiyah berdiri, juga tahun 1915 melahirkan publikasi Majalah Suara Muhammadiyah (SM), yang memperkenalkan bahasa Indonesia sejak tahun 1922. Gerakan Taman Pustaka dan majalah SM membawa dampak besar bagi kesadaran hidup dengan cara modern sejalan nilai-nilai Islam yang berbasis Iqra dan tajdid. SM terus bertahan dan berkembang sampai saat ini memperoleh penghargaan pemerintah dan lembaga lain sebagai Majalah Dakwah Islam tertua yang berkesinambungan. Inilah tonggak gerakan literasi kebangsaan dari organisasi Islam modern terbesar di Indonesia dan Dunia Islam, yakni Muhammadiyah.

Berdirinya Hizbul Wathan tahun 1918 merupakan jejak sejarah lainnya dari gerakan Muhammadiyah untuk Indonesia. Gerakan Kepanduan Islam ini memakai nama “Hizbul Wathan” atau “Kepanduan Tanah Air” yang diartikan pula “Pasukan Tanah Air” , sebagai bukti kecintaan dan pengkhidmatan untuk gerakan “wathaniyah” atau kebangsaan. Sebelum organisasi Islam lainnya menggunakan istilah “wathaniyah”, Muhammadiyah memeloporinya. Dari rahim Hizbul Wathan inilah kahir seorang Soedirman, yang kemudian menjadi tokoh sentral Perang Gerilya dan dinobatkan sebagai Panglima Besar dan Bapak Tentara Nasional Indonesia. Tidak ada tokoh sekuat itu posisi dan heroismenya setelah Seokarno dan Hatta yang menjadi milik seluruh bangsa Indonesia.

Muhammadiyah juga mencatatkan nama KH Mas Mansur sebagai tokoh Empat Serangkai bersama Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hadjar Dewantara. Keempat tokoh tersebut menjadi wakil Indonesia dalam persiapan kemerdekaan Indonesia dengan pemerintah Jepang. KH Mas Mansur juga terlibat dalam perlawanan 10 November 1945 di Surabaya, bahkan beliau pernah dipenjara di Surabaya sebagai bukti kepahlawanannya. Ki Bagus Hadikusumo didukung Kahar Muzakkir dan Kasman Singodimedjo menjadi penentu konsensus nasional penetapan UUD 1945 tanggal 18 Agustus 1945 sebagai konstitusi dasar sekaligus di dapamnya penetapan Pancasila sebagai dasar negara. Rumusan final Pancasila tersebut merupakan bukti kebesaran jiwa umat Islam, yang oleh Menag Alamsjah Ratu Perwiranegara disebut sebagai “hadiah terbesar umat Islam” untuk Negara Republik Indonesa. Dengan demikian Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara tidak lepas dari tokoh-tokoh kunci Muhammadiyah.

Baca Juga:   PTMA Dituntut Tingkatkan Pengelolaan Manajemen Reputasi

Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan, kontribusi Muhammadiyah selain melalui Soedirman dalam perang gerilya yang menentukan tegaknya kedaulatan Indonesia ketikan agresi Belanda II 1948-1949. Bersamaan dengan perang gerilya, aksi mempertahankan Indonesia dari serbuan kembali Belanda di DIY dan Jawa Tengah para tokoh Muhammadiyah menggerakkan aksi Askar Perang Sabil (APS), yang merupakan perlawanan umat Islam yang luar biasa militan demi mempertahankan bangsa dan tanah air. APS merupakan sebuah organisasi kelaskaran yang terbentuk atas prakarsa para ulama Yogyakarta yang sebagian besar berasal dar