Merdeka Di Mata iGeneration

Nabil Syuja Faozan Merdeka Di Mata iGeneration

Oleh: Nabil Syuja Faozan

Bulan Agustus merupakan bulan yang cukup penting bagi bangsa Indonesia. Di bulan ini, bangsa Indonesia meraih kemerdekaanya setelah dijajah selama 350 tahun. Karenanya, rakyat Indonesia setiap bulan Agustus merayakan kemerdekaan dengan antara lain untuk mengibarkan bendera merah putih.

Dengan kemerdekaan yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa, kita sebagai rakyat Indonesia harus menghormati jasa para pahlawan dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai wujud rasa nasionalisme. Bung Karno mengatakan “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”.

Bangsa Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun ke-75 kemerdekaan RI dalam suasana masih tersebarnya wabah Covid-19. Tentu saja, nuansa peringatan HUT RI tahun ini sangat berbeda dengan tahun sebelum-sebelumnya. Yang tadinya upacara pengibaran bendera merah putih dilaksanakan secara langsung kini berubah menjadi virtual, jumlah paskibraka yang tadinya 68 orang kini hanya berjumlah 8 orang dan masih ada beberapa perbedaan lainnya. Akan tetapi hal tersebut bukanlah suatu masalah untuk kita agar tetap memaknai kemerdekaan dengan penuh khidmat.

Ada beberapa makna yang bisa kita petik dari peringatkan kemerdekaan bagi kaum IGeneration, yakni; Pertama, kemerdekaan sebagai momentum untuk bersyukur, baik dalam hati, ucapan maupun kemerdekaan. Bersyukur kata yang sederhana akan tetapi maknanya luas dan mendalam. Sudah sepatutnya kita berterima kasih kepada para pahlawan bangsa karena telah menjadikan negara Indonesia sebagai bangsa yang utuh.

Bagaimana tidak? bayangkan ada beberapa negeri yang hancur karena berbagai masalah seperti Palestina, Afghanistan, Yaman, Syria, dan lain sebagainya. Saudara-saudara kita di negara tersebut sulit untuk bisa hidup berdiri  dengan aman, tentram, damai dan utuh. Ada yang hancur karena perang saudara, perebutan wilayah dan lain sebagainya. Karenanya, kita sebagai bangsa yang sampai detik ini bisa tetap hidup dengan aman, tentram, damai dan utuh sudah sepatutnya bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga:   Kartografi Kriminal di Indonesia

Kedua, Memperkuat persaudaraan dan tali silaturahmi. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar. Kemerdekaan yang telah kita raih dan rasakan bukan semata-mata karena suatu etnis atau golongan saja. Melainkan karena adanya persaudaraan serta keinginan yang kuat dari seluruh pendiri bangsa (founder) Indonesia agar bangsa ini menjadi bangsa yang berdaulat, adil dan makmur.

Untuk itu, agar bangsa ini tetap utuh kita sebagai kaum milenial harus menjaga persaudaraan dan tali silaturahmi. Contohnya, tidak memperolok-olok suatu etnis, tidak bersifat primordial, tidak bersifat etnosentrisme dan menghilangkan sikap stereotype dengan yang berbeda suku, agama, ras dan golongan.

Ketiga, tetap berjuang dan jangan pernah menyerah. Perjuangan ini belum usai dan tak akan ada habisnya. “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Kalimat yang diucapkan oleh Bapak Proklamator Indonesia yakni Ir. Soekarno merupakan trigger  bagi bangsa Indonesia agar senantiasa berjuang dan jangan pernah menyerah.

Selain ketiga hal diatas, dalam rangka mewujudkan tujuan Indonesia merdeka, kita harus mengisi kemerdekaan dengan rajin belajar dan bekerja. Agar bisa menjadi generasi yang cerdas, unggul dan, meminjam istilah Bung Karno, berdikari : mampu berdiri di atas kaki sendiri. Sehingga akan mampu menjadi penerus pemimpin bangsa dan mengisi kemerdekaan dengan baik dan benar.

Meski sedang dilanda wabah pandemi Covid-19, pada peringatan hari kemerdekaan ini tidak sepatunya kita patah semangat. Seyogyanya kita menjadikan ini semua sebagai momentum untuk menyatupadakan langkah dalam memperbaiki keadaan dan menyiapkan strategi terbaik agar harapan dari tema perayaan 75 tahun kemerdekaan, yakni Indonesia maju dapat terwujud.

Sebagai iGeneration yang antara lain bercirikan; memiliki ambisi besar untuk sukses, percaya diri, menyukai hal yang detail, keinginan untuk mendapatkan pengakuan, dan digital dan teknologi informasi, mari kita isi kemerdekaan dengan karya nyata dan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh bangsa.  Sehingga, suatu saat kita siap untuk menjadi pemimpin bangsa dan negara  yang besar ini dengan penuh bangga dan percaya diri.  Wallahu’alam.

Nabil Syuja Faozan, Alumni Darul Arqam Muhammadiyah Garut, Sekretaris PD IPM Garut

Baca Juga:   Merawat Asa Pendidikan, Melewati Pandemi dengan Inovasi