24.4 C
Yogyakarta
Senin, Oktober 26, 2020

Haedar Nashir kembali Ingatkan Warga Bangsa: Pandemi Covid-19 itu Nyata Bukan Maya

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Guru SMP Aisyiyah Boarding School Pinrang Ikuti Pelatihan Figur

PINRANG- SMP Aisyiyah Boarding School (ABS) Pinrang mengutus 2 guru mengikuti Pelatihan pembuatan video Pembelajaran yang digelar oleh Figur (Forum Inspirasi Generasi...

UMSU Peduli Kemajuan Masyarakat Melayu

MEDAN, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Sumater Utara (UMSU) peduli akan kemajuan masyarkat melyayu. Di usianya yang genap setahun, Pakat Melayu merasa...

Haedar Nashir: Dokter Pelopor Kemanusiaan dan Kenegarawan

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Menyambut Hari Dokter Indonesia 24 Oktober 2020, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir, MSi berharap...

AMM Jetis Bantul Droping Air Bersih Serentak di Gunungkidul

GUNUNGKIDUL, Suara Muhammadiyah - Angkatan Muda Muhammadiyah Jetis Bantul sukses menyelenggarakan Droping Air Bersih #02 di wilayah Gunungkidul Ahad, 18 Oktober 2020....

Universitas Muhammadiyah Papua untuk Kemajuan Pendidikan Bumi Cendrawasih

JAYAPURA, Suara Muhammadiyah – STIKOM Muhammadiyah Papua bertransformasi menjadi Universitas Muhammadiyah Papua. Berdirinya Universitas Muhammadiyah Papua adalah untuk kemajuan pendidikan Bumi Cendrawasih.
- Advertisement -

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir kembali menegaskan bahwa pandemi Covid-19 itu nyata dan bukan maya. Belakangan, warga dan elite bangsa mulai apatis dan meremehkan pandemi ini.

“Lebih tujuh juta orang di berbagai negara terjangkit dan 400 ribu lebih meninggal. Di Indonesia setiap hari berapa saudara-saudara sebangsa terinfeksi positif dan meninggal dunia. Sungguh, wabah ini mematikan. Mencegahnya diutamakan untuk menyelamatkan jiwa dan kehidupan bersama,” tutur Haedar pada Selasa (18/8).

Haedar menambahkan, mencegah penularan dan sikap seksama itu wujud optimalisasi ikhtiar, bukan takut dan paranoid. Ajaran agama memerintahkan umatnya untuk memelihara nyawa dan kehidupan manusia.

“Kalau masih kurang percaya, lihatlah sekitar kita. Penyakit ini kenyataannya cepat menular dan berbahaya. Rumah sakit dan tempat-tempat isolasi menjadi saksi kunci. Para dokter dan tenaga kesehatan bertugas dengan resiko tinggi, banyak yang terkena dan meninggal sebagai syuhada. Adakah tersisa iba pada nasib sesama,” tutur Haedar.

Haedar juga mengatakan bahwa memulai kebiasaan baru memang niscaya, tetapi bukan untuk dipaksakan. Keselamatan diri dan sesama diutamakan. “Jika tidak terlalu penting dan masih bisa daring, kenapa harus berkegiatan massal?”

Semua elemen diharap untuk menyadari situasi ini. “Belajarlah bijak dan empati. Nyawa manusia itu tak ternilai harganya. Menjaga jiwa bahkan bagian dari syariat Agama,” pungkas Haedar. (rbs/ppmuh)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles

- Advertisement -