Tahun Hijri dan Kesehatan Spiritual “Al-Faruq” Umar (2)

Tahun Hijri dan Kesehatan Spiritual “Al-Faruq” Umar

Oleh : Wildan dan Nurcholid Umam Kurniawan

Kepemimpinan Spiritual dan Keadilan Sosial

Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil” (QS Al-Maidah [5] : 8). “Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat-amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS Al-Nisa’ [4] : 58).“Apakah engkau telah melihat orang yang mendustakan Hari Kemudian? Maka itu yang mendorong dengan keras anak yatim dan tidak menganjurkan memberi pangan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalat mereka, orang-orang yang berbuat riya, dan menghalangi (menolong dengan) barang berguna” (QS Al-Ma’un [107] : 1 – 7).

Menurut Shihab (2006), Kepemimpinan apa pun bentuk atau nama dan cirinya, dan ditinjau dari sudut pandang mana pun selalu harus berlandaskan kebajikan dan kemaslahatan, serta mengantar kepada kemajuan. Kepemimpinan, antara lain, harus menentukan arah,  menciptakan peluang, dan melahirkan hal-hal baru melalui inovasi pemimpin yang kesemuanya menuntut kemampuan berinisiatif, kreativitas, dan dinamika berpikir.

Seorang pemimpin berbeda dengan seorang manajer. Pemimpin lebih peduli untuk mengerjakan untuk sesuatu yang benar (do the right thing),  bersifat proaktif dan visioner, prediktif, menciptakan dan membentuk perubahan, melibatkan aktivitas baru yang relevan untuk kebutuhan dan kesempatan yang akan datang, serta mengerjakan sesuatu berdasarkan nilai-nilai etika dan tanggung jawab sosial. Karena seorang pemimpin diharapkan dapat tampil sebaik mungkin, dan karena itu pula semua potensi dan daya yang dimilikinya perlu dikembangkan.

Seorang manajer, antara lain, sangat peduli untuk mengerjakan sesuatu dengan benar (do thing right), bersifat reaktif dan responsif terhadap perubahan dan masalah yang dihadapinya. Karena itu, manajer melibatkan hal-hal yang sudah “mapan” sesuai aturan agar implementasinya efisien dan efektif.  

Dalam pandangan Islam, setiap orang adalah pemimpin, paling tidak memimpin dirinya sendiri bersama apa yang berada di sekitarnya, sebagaimana sabda Nabi : “Setiap orang di antara kamu adalah pemimpin yang bertugas memelihara serta bertanggung jawab atas kepemimpinannya” (HR Bukhari dan Muslim, melalui Ibnu Umar). Semakin luas ruang lingkup yang dicakup oleh wewenang seseorang, semakin luas pula tanggung jawabnya semakin berat dan luas pula persyaratannya. Dari sini, lahir ungkapan yang menyatakan : “Kepemimpinan bukan keistimewaan, tetapi tanggung jawab, ia bukan fasilitas tetapi pengorbanan, ia juga bukan leha-leha tetapi kerja keras, sebagaimana ia bukan kesewenang-wenangan bertindak, tetapi kewenangan melayani. Kepemimpinan adalah keteladanan dan kepeloporan”.

Dalam konteks kepemimpinan spiritual sebagai pemimpin masyarakat, ada empat syarat pokok yang harus dipenuhi yaitu :

1) Ash-Shiddiq, yakni kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap, serta berjuang melaksanakan tugasnya.

2) Al-Amanah, atau kepercayaan, yang menjadikan dia memelihara sebaik-baiknya apa yang diserahkan kepadanya baik dari Tuhan maupun yang dipimpinnya sehingga tercipta rasa aman bagi semua pihak.

3) Al-Fathonah, yaitu kecerdasan yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan  yang muncul mendadak sekalipun.

4) At-Tabligh, yaitu penyampaian yang jujur dan bertanggung jawab atau dengan kata lain “keterbukaan”.

Bahwa kepemimpinan bukan sekedar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakat, tetapi juga merupakan ikatan perjanjian antara sang pemimpin dengan Tuhan, atau dengan kata lain kepemimpinan adalah amanat dari masyarakat dan dari Tuhan. Kepemimpinan menuntut keadilan, karena keadilan adalah lawan dari penganiayaan. Keadilan harus dirasakan oleh semua pihak, baik kawan maupun lawan. Nabi menyatakan :”Hati-hatilah terhadap doa orang yang teraniaya, karena tiada tabir antara doanya dengan Tuhan Yang Maha Kuasa” (HR Muslim dari Mu’adz bin Jabal)

Baca Juga:   Tahun Hijri dan Kesehatan Spiritual “Al-Faruq” Umar (1)

Menurut Haekal (2000), Umar sebagai Khalifah tidak sekedar kepala negara dan kepala pemerintahan, lebih-lebih dia sebagai pemimpin umat. Ia sangat dekat dengan rakyatnya, ia menempatkan diri sebagai salah seorang dari mereka, dan sangat prihatin terhadap kehidupan pribadi mereka. Keikhlasan Umar dan integritasnya mengabdi kepada Islam dan kepada umat, pribadinya yang sering disebut-sebut sebagai teladan karena ketegasannya, keadilannya yang benar-benar tanpa pilih bulu dan sikapnya yang sangat anti kolusi dan nepotisme. Semua itu dibuktikan dalam perbuatan.

Salah seorang anaknya sendiri, karena melakukan suatu pelanggaran dijatuhi hukum cambuk dan dipenjarakan, yang akhirnya mati dalam penjara. Menjelang kematiannya Umar menolak usul beberapa sahabat untuk mendudukkan anaknya yang seorang lagi, atau anggota keluarganya untuk dicalonkan duduk dalam majelis syura yang dibentuknya, yang berarti memungkinkan mereka menduduki jabatan khalifah penggantinya. Dimintanya jangan ada dari keluarga dan kerabatnya dicalonkan untuk jabatan itu. Umar tidak ingin mengangkat pejabat yang tidak mengenal amanat, tetapi karena hanya ambisinya ingin menduduki jabatan itu. Dia juga yang mempelopori setiap pejabat yang diangkat terlebih dahulu harus diperiksa kekayaan pribadinya, begitu juga sesudah selesai tugasnya.

Pemerintahan Umar sangat dicintai orang justru karena sifat kasih sayang  dan pengabdiannya. Mereka melihat Khalifah sebagai ayah bagi kaum duafa – setiap orang yang lemah – bagi setiap anak yatim dan bagi setiap orang tak punya. Mereka mencintai Umar “Al-Faruq” karena sifat adilnya sudah menjadi naluri dan bawaannya, karena kecintaannya kepada kebebasan dan persamaan ia menempatkan diri sebagai orang lemah dan miskin.

Jasmerah, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”, demikan pesan Presiden RI pertama Soekarno. Sejarah menunjukkan VOC (Vereenigde Oost-Indisch Compagnie) atau Perusahaan Belanda Hindia Timur adalah perusahaan dagang yang dibentuk pemerintah Belanda di awal abad ke-17, perusahaan terbesar di dunia jadul (jaman dulu),  hancur karena korupsi. Kerajaan besar di Nusantara, Sriwijaya dan Majapahit, juga hancur karena korupsi, bukan hancur karena musuh dari luar. Sang Proklamator RI dan Penggali Pancasila, Bung Karno (1901 – 1970), mengatakan bahwa tantangan yang dihadapi generasinya lebih mudah karena musuhnya jelas, penjajah Belanda.

Sedangkan tantangan yang dihadapi generasi sesudahnya, lebih berat karena musuh yang dihadapi bangsa sendiri yang melakukan kejahatan luar biasa (extraordinary crime), korupsi ! Buya Hamka (1908 – 1981), agar Pancasila mudah dipahami dan dilaksanakan, mengibaratkan Pancasila seperti uang 10.000, bahwa angka nol itu tidak bermakna meskipun berjumlah empat. Angka nol berjumlah empat baru punya makna karena ada angka satu didepannya. Artinya, jika orang Indonesia melaksanakan Sila Pertama ”Ketuhanan Yang Maha Esa” dengan sungguh-sungguh, pasti dengan mudah melaksanakan dan mewujudkan Sila- S