Hijrah Versi Islam Berkemajuan

Jateng Bermunajat

Fenomena bertambahnya pemeluk agama Islam memang terjadi secara global. Di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa, semangat berislam tengah mengalami peningkatan. Walau pada sisi lain, wacana Islamophobia juga sedang menguat.

Di Indonesia, sebagai negara mayoritas muslim, pun mengalami peningkatan semangat dalam mengamalkan Islam. Misalnya, pada Februari 2019 berdasarkan Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), antrean terpendek pendaftaran pemberangkatan haji adalah 11 tahun. Yaitu untuk daerah Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Maluku. Sedang di Sulawesi Selatan antreannya sampai 39 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa animo masyarakat untuk berhaji, mengamalkan Islam begitu tinggi.

Pada tahun 2015, Kantor Urusan Haji Kementrian Agama Republik Indonesia juga mencatat, rata-rata tiap bulannya warga Indonesia yang pergi melaksanakan umrah mencapai 5,602. Menurut uraian Hasanuddin Ali CEO and Founder Alvara Strategic Research pada tirto.id, kenaikan jamaah umrah karena 3 faktor. Pertama, karena lamanya antrean keberangkatan haji. Kedua, keagresifan biro umrah dengan berbagai penawaran menariknya. Dan ketiga, meningkatnya jumlah kelas menengah muslim Indonesia yang kemudian berimbas pada meningkatnya daya beli.

Sebagaimana dilansir Center for Middle Class Consumer Studies (CMCS) pada forum Indonesia Middle Class Consumer Report 2013, angka kenaikan kelas menengah Indonesia mencapai 7-8 juta penduduk per tahun, sekitar 130 juta jiwa. Tentu kenaikan daya beli ini berpengaruh terhadap gaya hidup, pola pikir, dan pola konsumsi.

Terbaru, muncul gerakan shalat berjamaah yang menjadikan masjid lebih hidup dan makmur. Hingga gerakan Hijrah yang ramai di dunia nyata mapun dunia maya. Bukan hanya orang biasa, kalangan publik figur, artis papan atas pun, turut lebur dalam gerakan kembali pada agama ini.

Berorientasi Masa Depan

Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam arahan dan sambutannya pada Tanwir Aisyiyah 2019 mengatakan, agama semacam menjadi kanopi suci bagi kalangan menengah yang haus akan spiritualitas. Agama menjadi obat penentram jiwa akan kegundahan, kegoncangan, dan kecemasan yang mereka alami. Pada satu sisi, Haedar mengatakan, hal ini tentu sangat menggembirakan, tapi pada sisi lain, berlebihan dalam beragama juga tidak baik.

Baca Juga:   Ketika Islam Bersenyawa dengan Kearifan Lokal

Kembali kepada agama berarti merujuk pada Al-Qur’an dan hadist. Tidak mengurangi, tidak pula melebih-lebihkan. Ketua Umum Pimpinan Pusat ini mencontohkan, sebagaimana putusan Tarjih, bahwa aurat perempuan itu meliputi seluruh anggota tubuh kecuali tangan dan muka. “Maka lebih dari itu tidaklah sejalan dengan Al-Qur’an dan hadits,” tandasnya.

Bagi Muhammadiyah, kembali kepada AlQur’an dan hadits (ar-ruju’ ila al-qur’an wa assunnah) itu orientasinya adalah masa depan, bukan romantisme masa lalu. Mengagung-agungkan kebesaran masa lalu, bahkan mempertahankan tradisi seolah warisan ahli sufi dan para salafi. Alasan seperti ini, menurut Abdul Mu’ti Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, muncul karena ketidakmampuan seorang muslim menjawab problem dan tangan zaman kekinian, apalagi menjawab cita-cita Islam masa yang akan datang.

Menurut Abdul Mu’ti, gerakan ar-ruju’ ila al-qur’an wa as-sunnah mestinya melakukan dialog dengan Al-Qur’an. “Kita kembali kepada Qur’an tapi tidak berdialog dengan Qur’an. Tidak berani mengeluarkan cara-cara baru dalam memahami itu,” Kritiknya mengutip pendapat Muhammad al-Ghazali.

Hijrah Berkemajuan

Karenanya, Tafsir Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah menyebut, fenomena hijrah yang ada, cenderung ke arah berkemunduran bukan berkemajuan, cenderung konservatif bukan progresif, cenderung lari ke masa lalu bukan ke masa depan. Sebaliknya, hijrah versi Muhammadiyah adalah bersifat progresif, melihat jauh ke depan, dan berkemajuan.

Berani keluar dari teks, dalam beberapa hal memang melawan arus, counter culture. Tapi inilah yang sejatinya dilakukan oleh Nabi dalam misi dakwahnya. Yaitu mengubah budaya lama, budaya nenek moyang kepada budaya yang lebih bermoral untuk masa depan yang lebih baik. Abdul Munir Mulkhan pada Kajian Selasa yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta, menjelaskan, misi dakwah counter culture, yang melawan arus inilah yang dimaksud dalam hadist Islam sebagai agama yang asing. “Kenapa asing? Ya karena dakwah yang dibawa Nabi itu memberikan kemajuan melampaui zamannya,” terangnya.

Baca Juga:   Adab Bergurau Dalam Islam

Hal ini pula, Munir melanjutkan, yang dilakukan oleh pendiri Muhammadiyah Kiai Ahmad Dahlan. Gerakan pemurnian ar-ruju’ ila al-qur’an wa assunnah tidak lain adalah upaya untuk menjawab tantangan dan problem keumatan di zamannya sekaligus jalan untuk meraih cita-cita masa depan.

Melihat semangat berislam ini, Haedar berpesan, sudah semestinya Muhammadiyah dan Aisyiyah hadir dalam rangka mencerahkan umat. Tujuannya tidak lain ialah untuk menyebarluaskan paham Islam berkemajuan. Dalam berbagai kesempatan Tafsir mengatakan, dakwah Muhammadiyah itu memang seharusnya menyapa semua orang dari lorong gemerlap hingga lorong gelap, dari kaum elit hingga wong alit, dari orang bertahta hingga rakyat jelata.

Sayangnya, kritik Abdul Mu’ti, dakwah Muhammadiyah belum mampu tampil dengan personal yang menarik, charming, wangi, gaul, dan kekinian. Sehingga kalah dengan mereka yang pemahaman tentang keislamannya kurang mendalam, instan, berprinsip ballighu ani walau ayah, tapi popular karena mereka lebih menarik. (gsh)

Sumber: Majalah SM Edisi 23 Tahun 2019