Tirai Tren Hijrah

Lema Hijrah menjadi fenomena menarik yang mengalami perluasan sekaligus penyempitan maknanya. Dari suatu peristiwa yang merupakan ikhtiar Nabi Muhammad saw dalam rangka melanjutkan risalahnya kepada perubahan sikap maupun perilaku seseorang ke arah yang lebih baik ataupun sebuah kisah pertobatan.

Fenomena hijrah menjalar di masyarakat tak terkecuali generasi milenial. Tren hijrah berubah menjadi gaya hidup (lifestyle) yang disebut lebih Islami. Seperti gaya berpakaian, tontonan, bacaan, hingga berbagai event festival. Pun begitu endorsement kalangan selebriti lewat layar kaca maupun dunia maya sehingga hijrah menjadi populer.

Pengamal hijrah menyebutnya sebagai bagian dari perjuangan. Seperti yang pernah dilalui oleh Lalan Maulana, dalam Hijrah Bang Tato, seorang preman, seniman tato yang sekujur tubuhnya juga penuh dengan tato. Lalan pernah ditolak untuk bertaubat oleh seorang ustaz lantaran tubuhnya yang penuh rajah.

Boleh jadi dulu dia preman, gangster, penjahat, bandit, melakukan berbagai aksi kriminal. Serta mempunyai masa lalu yang sedemikian gelapnya. Akan tetapi Islam adalah agama yang damai dan rahmat bagi semesta. Kita tak bisa mengadili orang karena masa lalunya dan tak bisa mengira masa depan karena fisiknya.

Di mana Muhammadiyah? Gelombang berkembangnya ghirah berislam masyarakat tengah meningkat. Bahkan perkembangan Islam di belahan dunia lain juga terus menunjukkan pertumbuhan yang cukup pesat, bila tidak dikatakan sangat melesat. Pew Research Center dalam hasil penelitiannya menyebut pada tahun 2050 mendatang satu dari 10 orang Eropa bakal memeluk agama Islam.

Lembaga penelitian yang berbasis di Amerika Serikat itu menyebutkan apabila dihitung dari populasi global, pada tahun yang sama jumlah umat muslim kira-kira mencapai atau setara angka 32 persen. Secara hitunghitungan umat Islam progresif secara kuantitas begitu juga mesti maju secara kualitas.

Baca Juga:   Ketua Umum PP Muhammadiyah Ajak Renungi Peristiwa Hijrah

Di sini peran penting dakwah Muhammadiyah. Keputusan Tanwir Muhammadiyah 2019 Bengkulu menghasilkan Risalah Pencerahan. Disebutkan, dengan spirit beragama yang mencerahkan, umat Islam dalam berhadapan dengan berbagai permasalahan dan tantangan kehidupan yang kompleks dituntut untuk melakukan perubahan strategi dari perjuangan melawan sesuatu (al-jihad li-al-muaradhah) kepada perjuangan menghadapi sesuatu (al-jihad li-al-muwajahah). Dalam wujud memberikan jawabanjawaban alternatif yang terbaik untuk mewujudkan kehidupan yang lebih utama.

Gerakan pencerahan menampilkan agama untuk menjawab masalah kekeringan ruhani, krisis moral, kekerasan, terorisme, konflik, korupsi, kerusakan ekologis, dan bentuk-bentuk kejahatan kemanusiaan. Termasuk dalam dakwah yang mengedepankan bagaimana untuk merangkul dan bukan memukul.

Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 218 dalam tafsir At-Tanwir : Allah menjanjikan bahwa orang-orang yang beriman, kemudian melakukan hijrah dan bersungguh-sungguh dalam menegakkan agama Allah, dan mengharap rahmatNya, maka Allah Maha Pengampun dan Penyayang.

Apakah gejala ini hanya sekedar gejala permukaan, atau memang dari kesadaran, atau malah ada permainan dan kepentingan di baliknya? (Riz)

Sumber: Majalah SM Edisi 23 Tahun 2019