Hukum Menyusui (4): Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 233

Hukum Menyusui (4) Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 233

وَالْوَالِدٰتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَۚ وَعَلَى الْمَوْلُوْدِ لَهٗ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَاۚ لَا تُضَآرَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُوْدٌ لَّهٗ بِوَلَدِهٖۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذٰلِكَۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَاۗ وَإِنْ أَرَدْتُّمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوْآ أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَّآأٰءَاتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوْفِۗ وَاتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوْآ أَنَّ اللهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ ٢٣٣

Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan, dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan ahli waris berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (233)

Ayat ini memberi bimbingan yang luar biasa kepada orang tua untuk memperhatikan dan melakukan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Bahkan ketika terjadi perceraian sekalipun. Jangan sampai persoalan ketidakharmonisan hubungan suami istri berdampak negatif kepada anak-anak mereka. Seperti mengabaikan mereka atau menjadikan mereka sebagai objek pelampiasan kekesalan dan kemarahan kepada pasangan.

Dalam realitas kehidupan tidak sedikit anak-anak yang terabaikan, terutama oleh orang tua yang bercerai. Bahkan mereka diajari untuk membenci salah satu dari orang tuanya. Hal ini tentu tidak boleh terjadi karena anak adalah masa depan kita dan salah satu investasi yang berharga untuk kehidupan dunia dan akhirat.

Baca Juga:   Sural Al-Baqarah Ayat 178-179; Beberapa Aspek Hukum Qishas (2)

Dengan tuntunan ini, setiap anak yang dilahirkan mendapat jaminan pemenuhan kebutuhan lahir dan batin yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan mereka. Bahkan pada lanjutan ayat ini ditegaskan bahwa jaminan itu harus tetap diberikan, walaupun ayahnya telah meninggal. Kewajiban itu dibebankan kepada ahli waris. Allah berfirman,

وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذٰلِكَۗ

Dan kewajiban ahli waris juga demikian.

Artinya kalau ayah meninggal, maka ahli waris diwajibkan memikul beban ayah ini. Ulama tidak sependapat tentang siapa yang dimaksud ahli waris dalam ayat ini. Apakah ahli waris ayah karena konteks kalimat lebih dekat kepada pengertian itu, atau wali dari anak karena para walinya wajib menafkahinya, atau anak itu sendiri. Artinya, anak membiayai sendiri penyusuannya, jika ia punya harta. Jika anak tidak punya harta, dibebankan kepada dzu al-ashabah-nya.

Sebagian yang lain berpendapat bahwa yang dimaksud adalah ahli waris dari anak, khususnya ayah dan ibu. Jika salah satu meninggal maka dibebankan kepada yang lain untuk biaya penyusuan dan nafkah anak (Ibid., hlm. 413-414). Namun demikian, semua perbedaan di atas menunjukkan bahwa anak tidak boleh diabaikan kebutuhannya untuk menyusu dan segala hal yang terkait dengan tumbuh kembangnya setelah ayahnya meninggal.

Di awal ayat ditegaskan bahwa ibu diwajibkan menyusukan anaknya selama dua tahun bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Bagaimana seandainya kedua orang tua memutuskan untuk menyapih anaknya sebelum dua tahun karena berbagai pertimbangan dan untuk kepentingan anak setelah keduanya bermusyawarah dan sepakat? Lanjutan ayat ini menjelaskan hal itu. Allah berfirman,

فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَاۗ وَإِنْ أَرَدْتُّمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوْآ أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَّآأٰءَاتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوْفِۗ

Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut.

Ayah dan ibu boleh menyapih anak itu sebelum dua tahun jika mereka telah sepakat dalam musyawarah. Mereka telah mendiskusikan segala hal yang terkait  dampak positif dan negatifnya. Dalam