Literasi Muhammadiyah, Suluh Peradaban Bangsa

Literasi Muhammadiyah Foto Dok SM

Oleh : Hendra Hari Wahyudi

Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan dan keterampilan di era digital sekarang menjadi sangat penting, dimana arus informasi mudah dijangkau dan diterima oleh masyarakat.

Muhammadiyah sebagai organisasi yang sudah lahir sejak sebelum bangsa ini merdeka, sehingga Muhammadiyah menjadi salah satu penggerak literasi bangsa. Dimana pada awal berdirinya, Persyarikatan yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan ini memberikan perannya dalam meluruskan arah kiblat bangsa. Literasi Muhammadiyah tidak hanya sampai disitu, Muhammadiyah dengan semangat amar ma’ruf nahi mungkarnya pun memberikan pencerahan terhadap bangsa, dengan memerangi tahayul, bid’ah, dan khurafat yang pada masa itu masih kental di masyarakat.

Gerakan literasi KH. Ahmad Dahlan pun berlanjut, dengan mendirikan Madrasah/Sekolah. Spirit mencerdaskan kehidupan bangsa yang tertanam pada diri Kiai Dahlan, membuatnya berani dan tidak mundur dalam perjuangannya. Kiai Dahlan percaya, bahwa dengan memadukan antara ilmu pengetahuan dan ilmu agama, akan mewujudkan masyarakat yang utama. Yakni masyarakat yang unggul dalam akhlak, dan juga intelektualnya.

Dalam pendidikan, peran Muhammadiyah sudah tidak dapat diragukan lagi, bahkan menjadi prioritas. Dimana sekolah dan perguruan tingginya sudah menjadi penggerak literasi di hampir seluruh penjuru negeri, sehingga Muhammadiyah bukan hanya sebagai gerakan dakwah, tapi juga suluh peradaban bangsa.

Jika melihat definisi literasi dari Wikipedia diatas, terdapat kalimat memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Dan Muhammadiyah sudah menunjukan peran literasinya bagi umat dan bangsa, terutama di masa pandemi yang masih belum usai melanda. Muhammadiyah konsisten memberikan edukasi dan teladan dalam menghadapi berbagai masalah kebangsaan dan keumatan dikala pandemi, terwujud dalam surat edaran saat menjelang Ramadhan lalu, serta pada saat Idul Fitri dan Idul Adha. Selain itu, Muhammadiyah memberikan apa yang dapat ia beri untuk membantu bangsa, dengan ikhlas tanpa mengharap balasan.

Baca Juga:   Klarifikasi Imam Shamsi Ali Terkait dengan Penangkapan Daud Rasyid Harun

Dalam dakwahnya sebagaimana uraian diatas, Muhammadiyah memberikan literasi yang sudah menjadi ciri khasnya. Dimana ajaran Islam, mulai dari apa yang ada pada Al Qur’an dan Hadits, bukan hanya kemampuan membaca, menulis, ataupun menghafalnya. Namun Muhammadiyah memberikan keteladanan bagaimana ayat yang terkandung didalam kitab suci umat Islam tersebut, juga tercermin dalam perilaku kehidupan, yang kemudian dikenal dengan Teologi Al – Ma’un yang dipelopori oleh KH. Ahmad Dahlan. Semangat itulah yang terus menjadi prioritas Muhammadiyah dalam memberikan pelayanan sosial, dengan dasar literasi dari ayat-ayat Al – Qur’an dan Hadits Rasulullah. Yang dimana dengan semangat ta’awun tersebut, Muhammadiyah berusaha memberikan solusi dalam mengatasi berbagai masalah sosial yang ada di negeri ini.

Rasanya Muhammadiyah dan literasi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, sedari awal berdirinya Muhammadiyah merupakan gerakan literasi dalam beragama dan juga sosial kemasyarakatan. Sehingga melalui berbagai amal usahanya, Muhammadiyah menjadi suluh peradaban bangsa. Bukan hanya menerbitkan berbagai macam buku sebagai referensi umat melalui Majalah Suara Muhammadiyah, dan juga melalui berbagai media milik Persyarikatan lainnya. Namun dengan literasinya, Muhammadiyah memberikan teladan, edukasi, dan juga wawasan yang luas dalam kehidupan. Tidak hanya perihal beragama, namun juga seluruh aspek kehidupan.

Gerakan literasinya juga selalu mengalami pembaharuan dan berkemajuan, sehingga gerak langkah Muhammadiyah tidak monoton dan selalu memiliki inovasi dalam berdakwah. Maka, Muhammadiyah dari sejak lahirnya hingga kini menapaki usia ke 111 tahun Hijriyah, menjadi salah satu penggerak literasi yang sebagaimana tujuannya mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dilakukannya dengan wujud aksi dan upaya yang nyata. Gerakan Muhammadiyah dengan literasinya pula turut serta membangun dan mencerahkan bangsa, serta mampu menjadi suluh peradaban yang dimana semua itu dari hasil memahami ajaran Islam untuk memberikan solusi dalam memecahkan permasalahan bangsa.

Baca Juga:   Peran Sosial Ekonomi pada Masa Pandemi Covid-19

Maka, memahami ilmu agama dan ilmu pengetahuan dengan baik, merupakan kekuatan literasi Muhammadiyah. Selain itu, peka terhadap masalah sosial yang ada di sekitar kita, menjadi sebuah keharusan serta kita manfaatkan sebagai ladang amal kita guna meraih ridho Allah SWT. Persyarikatan Muhammadiyah merupakan organisasi yang selalu menjadi penggerak pendidikan sedari masa penjajahan hingga kini, sehingga literasi tidak dapat dipisahkan dari Muhammadiyah. Serta, dengan kekuatan literasi dalam memahami agama pula, Muhammadiyah menjadi teladan dan pelopor kebaikan. Semua itu dilakukan dengan dasar ikhlas dalam membangun dan mewujudkan bangsa yang berperadaban, dan juga bangsa yang berkemajuan.

Hendra Hari Wahyudi, Guru Muhammadiyah Lamongan