Riwayat Sa’ad Bin Khaulah: Sahabat yang Dikasihani Rasulullah

Riwayat Sa'ad Bin Khaulah: Sahabat yang Dikasihani Rasulullah

Riwayat Sa’ad Bin Khaulah: Sahabat yang Dikasihani Rasulullah

Oleh: Faisal Dzikri

Sa’ad bin Khaulah adalah seorang sahabat nabi Muhammad SAW yang berasal dari suku Quraisy, tepatnya bani Amir. Ia merupakan keturunan dari Bani Malik bin Hasl bin Amir bin Lu’ai, dikatakan pula ia adalah sekutu mereka, dan yang lainnya berpendapat bahwa ia adalah seorang budak dari Ibnu Abi Ruhmin bin Abdul Uzza Al-Amiri. Ibnu Hisyam mengatakan: “Ia adalah orang Persia yang berasal dari negeri Yaman sekutu Bani Amir,” dan ia di gelari dengan sebutan Abi Said. Adapun mayoritas para pakar sejarah dan Ibnu Tiin serta para ahli hadits mengatakan bahwa ia bernama Ibnu Khaulah, berbeda dengan Abu Mi’syar yang berpendapat bahwa namanya ialah Ibnu Khauli. .

Ibnu Mundah membedakan antara Sa’ad bin Khaulah dan Sa’ad bin Khauli, Oleh karena itu ia telah menulis biografi kedua orang tersebut secara berbeda. Adapun opini yang paling tepat adalah perkataannya Abu Nu’aim, beliau meyakini bahwa dua nama tersebut di miliki oleh satu orang yang sama. Sebagaimana perkataannya Imam Ibnu Asir Al-jazariy:

“Saya mengatakan bahwa opini yang paling benar adalah perkataannya Abu Nu’aim, mereka adalah orang yang sama walau dengan nama yang berbeda. Dan saya tidak tahu, mengapa para pakar sejarah menjadikannya dua orang yang berbeda. Mereka memiliki adat dalam menentukan nasab seseorang dengan mengedepankan perkiraan dan prasangka mereka sendiri.”

Dengan ini dapat dipahami bahwa apa yang menjadi opini dari Ibnu Mundah dan Abu Umar yang menyatakan kedua nama tersebut adalah orang yang berbeda, ini masih belum jelas. Sedang perkataannya Abu Musa bahwa ia adalah dua nama yang berbeda namun dengan orang yang sama, yaitu Sa’ad bin Khaulah. Sedangkan yang di nukil dari Urwah namanya ialah Sa’ad bin Khauli. Oleh karena itu, sudah banyak riwayat yang telah disebutkan untuk menentang perkataannya Urwah. Dan yang paling utama dalam perkara ini ialah bersandar dan meyakini perkataan selainnya, Wallahu ‘alam.”

Sa’ad bin Khaulah termasuk golongan orang-orang terdahulu yang masuk ke dalam agama Islam. Dan ia juga adalah orang yang telah berhijrah ke negeri Habasyah pada tahun ke-dua Hijriyyah dalam riwayat Muhammad bin Ishaq dan Muhammad bin Umar, sedang dalam riwayat Musa bin Uqbah dan Abu Misyar belum menyebutkannya. Sa’ad bin Khaulah telah ikut serta dan berperan dalam perang Badar ketika ia berumur 25 tahun, begitu juga telah menyaksikan perang Uhud, Khandaq, dan perjanjian Hudaibiyah.
Ia adalah seorang suami dari Subai’ah Al-Aslamiyah, dan ia wafat dalam peristiwa Haji wada’ (perpisahan) ketika istrinya sedang mengandung. Setelah beberapa hari, atau ada yang mengatakan satu bulan, atau dua puluh lima hari dari hari kewafatannya, istrinya melahirkan. Selepas itu, ia datang menemui Rasulullah SAW seraya menjelaskan keadaannya, maka Rasulullah SAW berkata padanya:

Baca Juga:   Pembagian Hati Dimata Ibnu Qayyim

“Sungguh sekarang kamu sudah dalam keadaan halal, maka menikahlah sesuka-Mu.”

أخبرنا أبو إسحاق إبراهيم بن محمد الفقيه وغيره قالوا: أخبرنا أبو الفتح الكروخي بإسناده إلى أبي عيسى محمد بن عيسى السلمي، حدثنا ابن أبي عمر، أخبرنا سفيان، عن الزهري، عن عامر بن سعد بن أبي وقاص، عن أبيه قال: مرضت عام الفتح مرضاً أشفيت منه على الموت، فأتاني رسول الله صلى الله عليه وسلم يعودني، فقلت: يا رسول الله، إن لي مالاً كثيراً وليس يرثني إلا ابنتي، أفأوصي بمالي كله؟ وذكر الحديث إلى أن قال: قلت: يا رسول الله، أخلف عن هجرتي؟ قال: ” إنك لن تخلف بعدي، فتعمل عملاً تريد به وجه الله تعالى إلا ازددت به رفعةً ودرجةً اللهم امض لأصحابي هجرتهم، ولا تردهم على أعقابهم ” ، لكن البائس سعد ابن خولة! ” يرثي له رسول صلى الله عليه وسلم أن مات بمكة.

Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad Al-faqih mengabarkan kepada kita, mereka berkata: “Abu Fath Al-Karukhi telah mengabarkan kepada kita dengan sanadnya yang sampai hingga Abu Isa Muhammad bin Isa As-silmiy, Ibnu Abi Umar telah menceritakannya kepada kita, Sufyan telah mengabarkan kepada kita dari Zuhri dan ia mendapatkannya dari Amir bin Sa’ad bin Abi Waqash dari ayahandanya berkata:
“Ketika pembebasan kota Makkah, aku tertimpa penyakit yang amat mengenaskan sehingga aku merasakan bahwa ajal telah datang mendekat, maka datanglah Rasulullah SAW menjengukku di kota tersebut. Aku berkata kepada beliau:

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki banyak harta dan aku tidak memiliki ahli waris kecuali satu orang perempuan saja, apakah boleh akRasulullaht wasiatkan seluruh hartaku ini untuknya?

Hadits ini berlanjut hingga perkataan: Aku (Sa’ad bin Abi Waqash) berkata:

“Wahai Rasulullah, apakah aku harus meninggalkan hijrah yang telah ku lakukan?”

Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya kamu tidak akan meninggalkannya setelah-ku, maka dari itu berbuat amal shalihlah untuk mendapatkan ridho-nya Allah SWT, karena tidaklah engkau berbuat seperti itu melainkan akan mendapatkan kemuliaan dan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.” Kemudian beliau mendoakan:

Baca Juga:   Secuil Janji Bani Israil

“Ya Allah, teruskanlah perjuangan untuk para sahabat-sahabatku dalam hijrah mereka, dan janganlah engkau kembalikan mereka kepada tempat asal mereka berpijak di muka bumi ini, akan tetapi orang yang sangat disayangkan (البائس) adalah Sa’ad bin Khaulah,”

Dalam hadits ini, Rasulullah SAW merasa iba dengan apa yang terjadi dengan Sa’ad bin Khaulah karena ia wafat di Makkah.

Defin