Tragedi Perang Karbala dan Sikap Muslim Sejati Menanggapinya

Tragedi Perang Karbala dan Sikap Muslim Sejati Menanggapinya

Tragedi Karbala dan Sikap Muslim Sejati Menanggapinya

Oleh: Sibt Umar

Menjelang wafatnya Muawiyah bin Abu Sufyan, dia sempat meluangkan waktu sibuknya -dalam menjalankan roda pemerintahan- untuk berkhutbah dihadapan masyarakatnya:

 “Wahai umat muslim, ketahuilah! Sungguh setiap orang yang mau menebar benih kebaikan di muka bumi ini pasti akan menuai hasilnya.”

“Dan aku sungguh telah menuntaskan urusan pemerintahan ini.”

“Maka setelahku tidaklah akan lebih baik dariku, karena tidaklah berputar roda zaman kecuali zaman setelahnya lebih buruk dari sebelumnya.”

“Karena seperti itulah ketentuan Rasulullah di dalam haditsNya.”

Setelah berkhutbah di hadapan khalayak umum, Muawiyah ingin menyampaikan suatu wasiat kepada anaknya Yazid:

 “Wahai Yazid  jika nanti tiba ajalku, suruhlah orang yang ahli fiqh untuk memandikanku.”

“Karena Allah lebih memuliakan ahli fiqh dari selainnya.”

 “Wahai anakku, jika nanti tiba ajalku ambillah secarik kain yang aku letakkan di lemari.”

“Jadikan kain bekas baju Rasulullah itu sebagai kafanku, dan taruhlah seikat kain yang di dalamnya sebuah rambut dan kuku Rasulullah didalam kafanku.”

 “Wahai Yazid, tetaplah kamu berbakti kepada orang tua.

“Maka ketika kau letakkan jasadku ini di liang lahat, cepatlah kamu selesaikan.”

“Biarkan aku (Muawiyah) sendiri menghadap Dzat Maha Pemurah.”

 “Wahai Yazid, perhatikan Husein! Ia adalah orang yang paling dicintai muslimin.”

“Sambunglah tali silaturahmi dengannya, karena dengan begitu segala urusanmu akan lancar.”

“Jangan sampai terulang kejadian yang telah menimpaku (aku telah membelot atas perintah ayah dan saudaranya).”

Lantas ketika datang waktu ajalnya, Muawiyah berdoa seraya menangis:

 “Wahai Allah, sungguh kau akan mengampuni seluruh hamba yang tidak menyekutukanMu. Maka limpahkanlah ampunanMu itu kepada hambaMu ini.”

Telah wafat Muawiyah sahabat rasul pada: malam Jumat, 8 Rajab tahun 60 Hijriah di kota Damaskus, Syiria, dengan Yazid sebagai imam di sholat jenazahnya.

Ahli tarikh berbeda pendapat dalam memvonis sebab kematian dari Muawiyah sendiri.

Sebagian berpendapat: karena Muawiyah mengidap penyakit ”lauwqah” (penyakit yang disebabkan karena kelebihan zat lemak dalam tubuh).

Profil Singkat Yazid, Putra Mahkota Dinasti Umayyah

Yazid adalah anak dari Muawiyah.

Adapun ibu dari Yazid adalah Maysun binti Bahdal bin Aniyf yang merupakan salah satu dari istri Muawiyah.

Ahli tarikh bertutur:

 “Maysun termasuk wanita yang memiliki paras nan cantik, martabat yang mulia serta tekat dan usaha yang kuat.”

Karena sebab inilah Allah karuniakan anaknya Yazid sebagai pengemban roda pemerintahan dinasti Umayyah setelah kematian ayahnya.

Sengketa Politik dalam Penentuan Khilafah Setelah Muawiyah

Setelah berita kematian Muawiyah tersebar ke seantero jagat, muncul percikan politik yang di sebabkan pembaiatan serta pemberian jabatan dinasti Muawiyah kepada anak dari Muawiyah: “Yazid”.

Sontak keputusan ini mengundang amarah serta penolakan dari mayoritas Ahlu bait dan para pembesar sahabat yang masih hidup.

Di karenakan sosok dari Yazid yang tidak pantas untuk mengemban pemerintahan di karenakan gaya hidup serta usia yang dikatakan masih dini.

Tak heran juga, Rasulullah pun jauh-jauh hari sudah memprediksi kejadian ini.

Dalam haditsnya yang diriwayatkan Rowyani di kitab Musnadnya, dari Abu Dzar dia berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

 (( أول من يبدل سنتي رجل من بني أمية يقال له: يزيد ))

 “Orang pertama yang akan menentang sunnahku ialah seorang lelaki dari Bani Umayyah yang bernama: ‘Yazid’.”

Hal inilah yang menjadi sebab penolakan mayoritas Ahlul bait untuk menerima dan membaiat Yazid sebagai Khalifah pengganti.

Sosok yang tidak setuju atas keputusan ini adalah: Sayidina Husen, Sayidina Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas se