Dinamika Muhammadiyah Anambas, Kepulauan Perbatasan RI

Dinamika Muhammadiyah Anambas Kepulauan Perbatasan RI

Dinamika Muhammadiyah Anambas, Kepulauan Perbatasan RI

Oleh Deri Adlis

Kabupaten kepulauan Anambas adalah sebuah kabupeten yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau. Kabupaten ini di terbentuk pada tanggal 24 Juni 2008  berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2008 tentang pembentukan Kabupaten Kepulauan Anambas.  Sebelum undang-undang itu terbentuk, dahulunya Kabupaten Kepulauan Anambas  masuk kedalam wilayah Kabupaten Natuna berdasarkan Undang-Undang No. 53. Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi dan Kota Batam.

Keberadaan organisasi Muhammadiyah di Kabupaten Kepulauan Anambas secara formal didirikan pada tahun 2010. Hal ini disebabkan karena selama ini belum ada generasi yang sanggup untuk mendirikan organisasi tersebut.  Namun paham –paham mengenai  Muhammadiyah didaerah ini sudah lama ada didaerah ini.

Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan dengan salah satu tokoh dan Pengurus Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Anambas bernama Akmaruzzaman. Beliau mencaritakan Paham-paham kemuhammadiyahan ini dalam sejarahnya dibawa oleh Tokoh-tokoh yang berasal dari Sumatera, terutama dari Sumatera Barat dan Riau. Paham ini diperkiraan masuk pada tahun 1935 yang dibawah oleh seorang dari Sumatera Barat yang bernama Buya Faqih yang bermukim di daerah Siantan. Namun beliau tidak menyebutkan Muhammadiyah secara terang-terangan. Hal ini disebabkan karena wilayah masih tergolong kecil.

Masa generasi sesudahnya juga kembali datang orang yang membawa paham kemuhammadiyahan dari daerah Midai (Kabupaten Kepulauan Natuna) yang  bernama buya Hasan Basri. Beliau merupakan generasi kedua yang masuk berkisaran pada tahun 1955. Beliau telah telah menyebarkan paham Muhammadiyah pada tiga tempat di kabupaten Kepulauan Anambas pertama yaitu di Tiangau [1], kedua di Air Bini,[2] ketiga di Tarempa.[3] Jadi secara umum paham muhammadiyah sudah ada sejaklamanya.

Hasil dari dakwah menyebarkan paham Kemuhammadiyahan dari Buya Hasan Basri ini adalah, berdirinya sekolah madrasah Ibtidaiyah pertama di Kabupaten Kepulauan Anambas. Sekolah ini terletak di Tianggau (sekarang Desa Tiangau) dan menjadi sekolah tertua di Kabupaten Kepulauan Anambas saat ini.

Baca Juga:   Mengenang Profesor Malik Fadjar

Pada  saat itu Muhammadiyah masih belum terikat menjadi sebuah organisasi, namun masa itu sudah orang mulai  banyak mengikuti paham-paham ajaran kemuhammadiyahan yang beliau bawa. Salah murid beliau yang sangat terkenal pada masa itu adalah Sutan Zebo yang berasal dari Kabupaten Kampar Prov Riau, kemudian Handri Yakub, H.Darwis dari Tarempa dll.

Mereka rutin mengikuti pengajian dari Buya yang berkaitan paham-paham Muhammadiyah pada umum dan pengajian Tafsir.  Pengjian ini rutin dilegar dari kisaran 1978-1986. Namun keberadaan Muhammadiyah sebagai organisasi masih belum ada. Hal ini masih disebabkan karena wilayah ini masih tergolong kecil. Selain itu juga masih kurannya SDM pada zaman itu.

Tapi keberadaan Buya Hasan Basri yang sering mengajarkan paham –paham kemuhammadiyahan pada zaman itu, telah mulai memberikan dampak positif yang mencerahkan di masyarat, terutama di bidang Agama.   Hal ini terbukti beliau telah berasil membasmi paham-paham yang melenceng dimasyarakat seperti syirik, khurafat dan bid’ah. Karena pada zaman tersebut sebagian masyarakat agak terkenal melakukan ritual perbuatan tersebut. Tapi dengan kegigihan beliau Alhamdulillah secara hukum masyarakat telah memahami mana akidah yang bernar dan akidah yang salah.

Dalam mengembangkan dakwah Islamiyah melalui paham-paham kemuhammadiyahan buya Hasan Basri dibantu oleh seorang tokoh yang bernama Buya Malin Parmato. Dia adalah kepala KUA Anambas pada saat itu. Buya Angku Malin Parmato juga berasal dari Sumatera Barat. Dia juga mendapat Kemuhammadiyahan langsung dari Kuman Padang Panjang.

Kisaran tahun 1986, pengikut dari murid Buya Hasan Basri dan Buya Malin Parmato, dalam mengembangkan ajaran Islam terutama paham kemuhammadiyahan di Anambas, mengutus anak-anak nya ke Sekolah-sekolah yang kental dengan paham Kemuhammadiyahan. Ada sebagian mereka sekolah ke Sumatera Barat, ada yang ke Pekanbaru Riua,ada yang ke Jawa da nada juga yang sekolah sampai ke Yogyakarta. Gunanya adalah agar anak-anak tersebut lebih memahami paham-paham keislaman tertutama paham Kemuhammadiyahan.

Baca Juga:   Respon Pers Asing Terhadap Klinik Muhammadiyah Malang Tahun 1927

Setelah mereka ini selasai dari tugas belajarnya, kerinduan mereka untuk mendirikan organisasi Kemuhammadiyahan ini ibarat tak terbendung lagi. Artinya kerinduan mereka untuk hidup bermuhammadiyah seperti yang mereka rasakan pada waktu sekolah mereka  sangatlah dalam.

Maka maka pada saat itu kisaran tahun 2009 dimulai kembali dihidupkan pengajian-pengajian rutin. Puncaknya di tahun 2010 diadakanlah suatu musyawarah yang sederhana dengan dikumpulkan tokoh-tokoh dari murid buya Hasan Basri yang masih hidup untuk membentuk organisasi kemuhammadiyahan di Kabupaten Kepulauan Anambas.

Alhammdulillah hasil dari musyawarah tersebut terbentukalah kepengurusan organisasi pertama yang diketuai oleh H. Mustansi, S.Sos.MM.  Pada  saat itu juga telah terbentuk 12 wakil ketua. Maka pada saat itu resmilah Kabupaten Kepulauan Anambas telah memiliki Pimpinan Daerah Muhammadiyah yang pertama.

Dua tahun berselang, tepatnya di tahun 2012 Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Kepuluan Anambas melakukan Musyawarah Daerahnya (MUSDA) yang pertama. Dalam MUSDA tersebut kembali terpilih sdr. H.Mustansir, S.Sos.MM kedua kalinya menahkodai kepemimpinan Muhammadiyah di Kabupaten Kepulauan Anambas.   

Pada saat ini juga mulai tersusun pogram-pogram kegiatan yang akan dilaksanakan selama lima tahun kedepan. Seperti pogram pendidikan, pendarian panti asusan, pendirian amal-amal usaha serta pendirian pengurus tingkat cabang hingga ranting.

Namun setelah Musda kedua pogram yang direncanakan itu tidak berjalan sampai saat ini. Hal ini dipicu karena terjadilah kesalahpahaman dikalangan pengurus, sehingga menyebabkan fakumnya pergerakan pengurus sampai saat ini.

Namun upaya untuk menyatukan kembali kepegurusan ini telah dilakukan, namun belum berasil. Hal ini disebabkan beberapa hal :

Pertama perbedaan paham dan prinsip yang masih mengental dikalangan pengurus. Kedua Sumberdaya manusia yang melanjutkan paham-paham kemuhammadiyahan y