24.4 C
Yogyakarta
Senin, Oktober 26, 2020

Hadits: Orang-orang yang Dimusuhi Allah pada Hari Kiamat (2)

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Guru SMP Aisyiyah Boarding School Pinrang Ikuti Pelatihan Figur

PINRANG- SMP Aisyiyah Boarding School (ABS) Pinrang mengutus 2 guru mengikuti Pelatihan pembuatan video Pembelajaran yang digelar oleh Figur (Forum Inspirasi Generasi...

UMSU Peduli Kemajuan Masyarakat Melayu

MEDAN, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Sumater Utara (UMSU) peduli akan kemajuan masyarkat melyayu. Di usianya yang genap setahun, Pakat Melayu merasa...

Haedar Nashir: Dokter Pelopor Kemanusiaan dan Kenegarawan

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Menyambut Hari Dokter Indonesia 24 Oktober 2020, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir, MSi berharap...

AMM Jetis Bantul Droping Air Bersih Serentak di Gunungkidul

GUNUNGKIDUL, Suara Muhammadiyah - Angkatan Muda Muhammadiyah Jetis Bantul sukses menyelenggarakan Droping Air Bersih #02 di wilayah Gunungkidul Ahad, 18 Oktober 2020....

Universitas Muhammadiyah Papua untuk Kemajuan Pendidikan Bumi Cendrawasih

JAYAPURA, Suara Muhammadiyah – STIKOM Muhammadiyah Papua bertransformasi menjadi Universitas Muhammadiyah Papua. Berdirinya Universitas Muhammadiyah Papua adalah untuk kemajuan pendidikan Bumi Cendrawasih.
- Advertisement -

Hadits: Orang-orang yang Dimusuhi Allah pada Hari Kiamat

Balasan ketiga  untuk orang yang berdusta mengatasnamakan Allah, akan memperoleh kerugian, baik di dunia maupun di akhirat. Sekalipun andai mereka mendapatkan kesenangan  dunia, namun di akhirat kelak  akan mendapat siksaan yang amat pedih. Firman Allah SwT:

قُلْ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ (٦٩) مَتَاعٌ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ نُذِيقُهُمُ الْعَذَابَ الشَّدِيدَ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ. (يونس: 69-70)

Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, mereka tidak akan beruntung”. (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan (timpakan) kepada mereka siksaan yang berat, disebabkan kekafiran mereka (Qs Yunus: 69-70).

Kelompok kedua, menjual orang (merdeka) lalu memakan hasil penjualannya (Human Trafficking)

Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah dalam bentuk  terbaik dan sempurna (ahsanu taqwim: Qs At-Tiin: 4),  dimuliakan  oleh-Nya, dan miliki kelebihan dibanding makhluk- lainnya (Qs  Al-Isra’: 70). Sekalipun secara sosial, manusia pada masa pra dan awal kehadiran Islam mengenal dua  status  sosial masyarakat, yaitu orang yang merdeka (al-hur) dan budak sahaya (al-‘abd).

Jika dikaji  seksama, semangat Islam sejak  awal hadirnya sangat menentang sistem  perbudakan  dan menghapusnya secara bertahap. Terbukti dalam Islam, terdapat beberapa strategi membebaskan umat manusia dari sistem perbudakan, antara lain: dalam kasus tawanan perang, seorang tawanan dapat dibebaskan ketika mau dan sanggup membayar upeti, atau mengajarkan baca tulis, atau memerdekakan budak  muslim.

Juga dalam kasus pembunuhan disengaja (al-qatlu al-‘amdu) yang mendapatkan ampunan dari keluarga korban, atau  pembunuhan  semi  sengaja (al-qatlu  syibhu  al-‘amdi), bagi pelakunya diwajibkan membayar kaffarat (ganti)  sebagai  bentuk  hukuman  dan pertaubatannya  pada Allah berupa; memberi makan 60 fakir miskin, atau memerdekakan  budak  mukmin. 

Inilah semangat Islam untuk menghapuskan sistem perbudakan  secara  bertahap hinga berlanjut dengan penegasan al-Qur’an, bahwa Islam tidak mengenal kasta, pun kemulian seseorang bukan karena status sosialnya, tapi karena kualitas keimanan dan ketakwaannya (Qs Al-Hujurat: 13).

Konsekuensi  Islam  memuliakan  manusia  adalah  larangan  merendahkan martabatnya dan menyamakannya    seperti  hewan, atau   komoditas  (barang dagangan)  untuk  diperjual belikan. Maka  spirit  Hadits  di atas  adalah larangan  merendahkan harkat dan martabat manusia, terlebih  lagi  menjadikan manusia  sebagai  komoditas  oleh  siapapun , dengan tujuan apapun juga, yang saat ini dikenal  dengan human trafficking (perdagangan manusia).

Hal ini selaras  dengan  komentar   Ibnu Abidin  (madzhab  Hanafi), bahwa; ” Anak  Adam  (manusia)  sangat  dimuliakan  oleh  syariat  Islam, sekalipun ia kafir (kafir dzimmi). Akad  penjualan  manusia  serta menyamakannya  dengan  komoditas  adalah  bentuk  penistaan  dan  perendahan  martabatnya.”  Terlebih  lagi  dengan  tujuan  untuk  memperjual belikan organ tubuh  seperti  kornea mata dan  ginjal.  Terkait  hal  ini,  syariat  Islam  tegas mengharamkan jual beli  organ  tubuh  manusia  (al-a’dha’ al-jism al-basyariyah),  pun  orang  yang  menghilangkan satu  nyawa  manusia,    disamakan  dengan membunuh seluruh umat manusia (Qs Al-Ma’idah: 32).

Kelompok ketiga, orang yang tidak membayar upah pekerja

Inilah kelompok  yang  termasuk  dimusuhi oleh Allah pada hari kiamat dalam Hadits di atas. Saat ini berbagai kasus yang digambarkan oleh Hadits tersebut banyak terjadi, misalnya: makelar atau  sindikat (banyak yang ilegal) yang  mempekerjakan seseorang menjadi buruh maupun tenaga kerja (seperti  Tenaga  Kerja  Indonesia  di luar negeri), lalu upah  mereka  diambil oleh para makelar atau  penyalur  tenaga kerja yang tidak bertanggung jawab, sehingga para pekerja tidak mendapatkan  upahnya. Contoh lain adalah majikan yang zalim, yang menguras tenaga pembantu rumah tangga, namun tidak diberi gaji/upahnya, bahkan tidak sedikit disertai dengan kekerasan/penganiayaan dan berbagai tindakan tidak terpuji lainnya.

Para ulama berpendapat,  menunda  pembayaran  upah/gaji  pekerja,  atau  tidak memberikan  haknya  setelah  usai bekerja, termasuk dosa besar dan mendapat  ancaman sangat berat,  adalah  bentuk kezaliman terhadap para pekerja. Bentuk  kezaliman  lain adalah  membebani pekerjaan  yang tidak sesuai dengan hak-hak yang diterimanya, atau menambah waktu kerja (lembur),  namun  tidak  mengapresiasinya  dengan sewajarnya karena lemahnya posisi dan perlindungan terhadap hak-hak mereka. Ada pula  yang sengaja  menunda  dengan tujuan, agar uang gaji mereka bisa dimanfaatkan atau diputar untuk keperluan  bisnis  sang  majikan   atau  maksud  negatif  lain. Sikap  semacam ini sangat dimurkai oleh Allah dan Rasul-Nya, yang   bahkan   dalam  Hadits lain, Nabi  bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ فَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِيٍّ فَلْيَتْبَعْ. (رواه البخاري ومسلم)

“Dari  Abu Hurairah ra.  bahwa  Rasulullah saw bersabda: “Menunda membayar hutang (termasuk upah pekerja, pent.) bagi orang yang mampu adalah  kezaliman dan apabila seorang dari  kalian dialihkan kepada orang yang mampu, maka hendaknya dialihkan” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas  oleh  para ulama adalah  penegasan  tentang keharaman menunda pembayaran  hutang,  termasuk  pemberian gaji atau upah bagi orang yang mampu menunaikan tepat pada waktu. Secara mafhum aulawi  (logika maksimalnya): jika  menunda  saja termasuk  suatu  kezaliman,  maka  terlebih  lagi  jika sengaja tidak membayar,  tentu menjadi  kezaliman yang lebih besar dan keji.  Dalam Hadits  lain,  lebih spesifik Rasul  bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ. (رواه إبن ماجة والطبراني)

“Dari  Abdullah bin Umar ia berkata, “Rasulullah saw bersabda: “Berikanlah upah kepada pekerja  sebelum  kering  keringatnya” (HR Ibnu Majah dan at-Thabrani).

Maksud matan Hadits  ini yaitu perintah untuk segera memberikan gaji/upah  kepada pekerja setelah usai melaksanakan tugas dan pekerjaannya secara tepat waktu dan disesuaikan dengan beban kerja mereka. Karena menunda, mengurangi, terlebih lagi tidak membayar upah pekerja,  termasuk  kezaliman  dan  dimusuhi  Allah dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam bis-shawab.

Ruslan Fariadi, Dosen  Pendidikan  Ulama’ Tarjih  Muhammadiyah  Yogyakarta dan  mengabdi di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta

Artikel sebelumnya Hadits: Orang-orang yang Dimusuhi Allah pada Hari Kiamat (1)

Sumber: Majalah SM No 17 Tahun 2017

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles

- Advertisement -