Pendidikan Agama Islam yang Pluralistis, Pidato Pengukuhan Guru Besar Abdul Mu’ti

Prof Dr Abdul Mu'ti, MEd

Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran yang sangat penting, strategis, dan diperlukan dalam konteks tujuan pendidikan nasional, pembentukan karakter bangsa, dan identitas nasional bangsa Indonesia. Di tengah problematika moral, meningkatnya intoleransi, dan kekerasan bernuansa agama, kehadiran pendidikan agama dan PAI semakin diperlukan untuk memelihara pluralitas agama, membangun harmoni, kedamaian, kerukunan, dan persatuan bangsa. PAI juga diperlukan agar agama dapat berperan lebih bermakna dalam mendorong kemajuan bangsa dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena itu, PAI tidak terbatas mempelajari masalah-masalah ritual ibadah dan muamalah dengan pendekatan klasik, tetapi harus dikembangkan beyond fiqh dengan konstektualisasi agama dengan kehidupan kekinian dan menjawab tantangan masa depan. Melalui PAI murid diharapkan lebih hirau dengan masalah-masalah keummatan, kebangsaan, dan kemanusiaan global.

Di tengah dunia global dan teknologi digital, diperlukan pembaruan sistem PAI sehingga lebih dalam membentuk generasi yang pluralis. PAI perlu dikembangkan ke arah yang lebih pluralistis berdasarkan nilai-nilai pluralisme Islam dan pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful: pembelajaran yang inklusif, mencerahkan, menggerakkan, penuh makna dan menggembirakan. PAI tidak cukup melahirkan generasi yang memiliki kesalehan spiritual, tetapi kesalehan sosial, kebangsaan, dan digital. Penguasaan dan penggunaan teknologi digital adalah sebuah keniscayaan. Kurikulum PAI perlu disempurnakan.

Kemampuan guru mutlak harus ditingkatkan. Untuk itu semua, profil guru PAI harus berubah. Kompetensi akademik, profesional, dan sosial perlu diperkuat dengan keterampilan digital. Pemerintah perlu memenuhi jumlah guru PAI, memenuhi sertifikasi, dan meng-upgrade kompetensi guru PAI secara berkesenimbangun. Masih banyak guru PAI generasi kolonial yang berjiwa feodal. Generasi milenial memerlukan guru PAI yang terbuka, pluralis, dan berwawasan global. Masalah ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tugas Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK).

Baca Juga:   Abdul Mu’ti: Kepala Sekolah Muhammadiyah Harus Ikhlas, Kolaboratif dan Otoritatif

Selengkapnya Pidato Pengukuhan Guru Besar Prof Dr Abdul Mu’ti, MEd