Para Pejuang yang Ikhlas

foto: @Rspku_gombong

Oleh: Abduh Hisyam

Sebelum saya tiba di RS PKU Muhammadiyah Gombong untuk menghadiri acara pelatikan BPH pagi ini, (05/09/20), saya berbelok ke kiri di seberang BRI. Saya sempatkan menengok Ibu Hj Masiyah Jarot, tokoh Muhammadiyah yang ikut membangun PKU Muhammadiyah Gombong. Beliau sudah sepuh. Bersama sang suami, Muhammad Jarot, pak Mujahid, Pak Saad, Ibu Nurrohmah Saad, Muhammad Daldiri, pak Siswosudibyo, dan pak Sriyono mereka merintis Muhammadiyah dan mendirikan PKU Muhammadiyah Gombong.

Para tokoh itu bukan orang-orang yang berpendidikan kedokteran atau ilmu kesehatan. Tidak. Namun mereka memiliki visi jauh ke depan, membangun sebuah Amal Usaha untuk kemaslahatan umat. Berapa banyak dokter, perawat, ahli gizi, bidan, apoteker yang terhimpun di sini. Berapa banyak orang mencari nafkah di PKU Muhammadiyah Gombong. Para tokoh Muhammadiyah itu adalah orang-orang sederhana. Yang mereka punya hanya iman, keikhlasan, dan ihsan. Mereka ingin melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya.

Bu Jarot yang sudah sepuh, kini mobilitasnya harus menggunakan kursi roda adalah tokoh yang mengawali kegiatan Wisata Dakwah, sebuah pengajian kolosal se karesidenan Kedu yang hingga kini tetap berlangsung meriah dan dihadiri ribuan manusia.

Saya juga menengok tokoh perintis Muhammadiyah yang masih sugeng lainnya yaitu Bapak Siswosudibyo. Saya tidak banyak berinteraksi dengan beliau sehingga tidak banyak mengenal secara dekat. Namun pelbagai kisah perjuangannya banyak saya dengar. Saat masih enerjik setiap kali mengisi pengajian di Sadang, beliau harus menyeberangi sungai dengan turun ke air karena saat itu belum ada jembatan. Saat sungai meluap airnya, yang acapkali hingga setinggi dada, maka beliau menyeberang dengan telanjang sambil tangannya diangkat ke atas memegangi pakaian agar tetap kering. Sesampai di seberang beliau kenakan kembali.

Baca Juga:   Allah Memperkenalkan Diri (14) Bagaimana Cara MenyembahNya

Pak Mudhofir pernah ikut pak Siwosudibyo bersama para siswa PGA Muhammaidyah, di antaranya adalah mas Ediyanto, kepala SMP Muhammadiyah Kutowinagun. Usai menyeberang sungai mereka berjalan kaki hingga mencapai desa Cangkring. Saat pulang hujan turun hingga mereka basah kuyup. Tiba-tiba Ediyanto, sambil berkelakar dengan teman-temannya berucap, “Kita mengaji jauh-jauh dan kehujanan namun tak ada berkat yang kita bawa.” Mendengar itu, pak Sis (panggilan akrab pak Siswosudibyo) segera menegur. Esok paginya ia perintahkan pak Mudhofir menjelaskan kepada para siswa PGA Muhammadiyah Kebumen itu tentang keikhlasan dalam berdakwah.

Pak Sriyono, mantan lurah Wonokriyo, adalah tokoh Muhammadiyah. Bersama pak Jarot beliau mendirikan SMP Muhammadiyah yang hinga kini Alhamdulillah masih berdiri dengan siswa cukup banyak. Agar sekolah tidak mengeluarkan dana, pak Sriyono setiap hari berangkat mengajar sambil membawa kapur tulis milik sendiri dari rumahnya.

Tahun 1997 beliau berangkat haji. Saat berada di Mina, sambil dipijiti putranya mas Purwanto, beliau berkata, “Pur, aku mulang puluhan tahun nang SMP Muhammaidyah, bayaran saiki kiye.”

Pak Mujahid dan pak Saad sebagai pengusaha sangat mudah mengeluarkan harta untuk perjuangan umat, untuk dakwah. Mereka adalah orang-orang yang ikhlas, yang tidak berharap apa-apa. Alhamdulillah, lihatlah hasilnya sekarang ini. Setiap kesembuhan seorang pasien di RS ini, insyaAllah pahalanya mengalir ke para tokoh tadi.

Ada sebuah kutipan:
لا يصلح هذه الامة الا اذا سلك كما سلك اوائلها
Generasi umat ini tak akan berjaya kecuali mengikuti jalan yang pernah ditempuh para pendahulunya.
Apakah jalan yang ditempuh para pendahuu kita? Jalan itu adalah adalah jalan dakwah, yang dijiwai ikhlas dan ihsan. Jalan dakwah adalah jalan yang terjal mendaki:

وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡعَقَبَةُ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ
Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu. (Albalad/90:11-12)
فَكُّ رَقَبَةٍ ١٣ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ١٤
(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan atau memberi makan pada hari kelaparan (Albalad/90:12-13)

Baca Juga:   Tradisi Ikhlas dan Suka Menolong adalah Budaya Muhammadiyah

Mereka adalah orang-orang yang ikhlas karena para pejuang Muhamamdiyah itu tidak berharap apa pun kecuali ridha Allah.

وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ
إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ
padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi (Al-Lail/19-20)

Jika kita ikhlas dalam bekerja, ihsan dalam berbuat, insyaAllah dalam waktu dekat RS PKU Muhammadiyah Gombong akan akan menjadi RS yang modern, islami, dan berkemajuan.

Tulisan ini disampaikan dalam pidato sambutan Pelantikan BPH RS Muhammadiyah Gombong, 5 September 2020