Warga Panti Dilatih Penetasan Telur Puyuh

LLHPB ‘Aisyiyah Bengkulu Latih Warga Panti Penetasan Telur Puyuh

BENGKULU, Suara Muhammadiyah – Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Bengkulu dalam rangka mensukseskan pogram Membangun Kelentingan Keluarga dan Komunitas dalam Masa Pandemi Covid-19 mengadakan pelatihan penetasan telur puyuh yang diikuti 13 orang anak Panti Asuhan ‘Aisyiyah Kasih Ibu, Rabu 19 Agustus 2020.

Kegiatan berlangsung di peternakan Dian Hidayatullah, S.Pt, M.Ling Pematang Gubernur Kota Bengkulu. Program ini merupakan  bentuk kerjasama antara Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah (PPA) dan The Asia Foundation (TAF) yang mendukung inisiatif PPA dalam mengembangkan inovasi ketahanan pangan menghadapi pandemi covid-19.

Inovasi ketahanan pangan tersebut dikembangkan dalam rangka untuk memperkuat resiliensi keluarga, karena pandemi ini berpotensi menyebabkan berkurangnya supply pangan di Indonesia dan dunia.

Panti Asuhan ‘Aisyiyah Kasih Ibu yang berada dibawah naungan Majelis Kesejahteraan Sosial PWA Bengkulu ikut merasakan dampak yang ditimbulkan pandemi ini yaitu berkurangnya jumlah donatur.

Sehingga hal ini mendapat perhatian dari LLHPB PWA Bengkulu untuk mewujudkan kemandiriian panti dalam memenuhi kebutuhan pangan, khususnya melalui program beternak puyuh ini.

Ketua LLHPB PWA Bengkulu, Hj. Ir. Rita Zurina, MP mengatakan pelatihan penetasan telur puyuh ini bertujuan agar anak panti mengetahui bagaimana teori dan praktik penetasan telur puyuh yang nantinya mereka akan diberikan tugas untuk merawat peternakan puyuh.

“Sehingga hasil peternakan ini dapat dikonsumsi sendiri maupun di jual guna membeli kebutuhan pangan lainnya seperti membeli beras, sayur mayur, ikan, daging dan sebagainya,” ujar Rita.

Dalam melakukan penetasan telur puyuh dibutuhkan majemen yang baik agar telur dapat menetas dengan sempurna. Beberapa hal penting untuk diperhatikan yaitu kualitas telur yang dibuahi, mengatur suhu dan kelembaban, membolak-balikkan telur serta kondisi lampu yang  menyala.

Baca Juga:   Deklarasi ‘Aisyiyah Kota Sukabumi Menolak dan Melawan Aktifitas LGBT

Dian Hidayatullah, S.Pt, M.Ling selaku narasumber menjelaskan telur puyuh memerlukan waktu normal 16-18 hari untuk menetas dengan suhu optimal 37,5 oC.

Adapun kelembaban optimal antara 55-65 oC, apabila kelembaban rendah maka air dapat ditambahkan menggunakan nampan. Kemudian membolak-balikkan telur dilakukan minimal 3x sehari agar penyerapan sempurna, karena terlalu lama penyinaran akan menimbulkan kecacatan pada telur,”kata Dian.

Setelah selesai menjelaskan, narasumber memberikan kesempatan kepada anak-anak panti untuk melakukan penyortiran telur puyuh terbaik yang dipilih untuk masuk ke inkubator penetasan.

Dengan hati-hati mereka secara bergantian memilih dan meletakkan telur puyuh di rak penampungan agar tidak terjadi keretakan pada kulit telur. Telur-telur yang berada di inkubator penetasan dapat menetas dengan sempurna pada hari ke-16 atau 18 nanti. (Riz)