Edaran MCCC PP Muhammadiyah: Larangan Pembelajaran Tatap Muka di AUM Pendidikan

Muhammadiyah Covid-19 Comand Center MCCC

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang Pelarangan Pembelajaran/Perkuliahan Tatap Muka di Amal Usaha Muhammadiyah Bidang Pendidikan.

Ketua MCCC PP Muhammadiyah Drs Agus Samsudin, MM memandang pelaksanaan kegiatan tatap muka secara epidemiologi masih mengkhawatirkan dan akan berdampak panjang bagi kelangsungan sekolah/ pesantren/ kampus.

SURAT EDARAN
No. 01/EDR/Covid-19/2020

TENTANG PELARANGAN PEMBELAJARAN/PERKULIAHAN TATAP MUKA
DI AMAL USAHA MUHAMMADIYAH BIDANG PENDIDIKAN

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Ba’da salam, semoga kita semua senantiasa berada dalam perlindungan Allah SWT dan
dapat melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. Aamiin.

Memperhatikan maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah nomor: 02/MLM/I.0/H/2020 tentang “Wabah Corona Virus Disease 2019 (COVID-2019)” bersama ini Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan beberapa hal sebagai berikut:

Pertama, MCCC memahami berbagai keresahan yang dialami Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bidang pendidikan terkait berbagai tantangan yang dihadapi sekaligus dalam masa pandemi ini, yaitu tantangan kualitas pembelajaran dan tantangan keberlanjutan amal usaha akibat pemberlakukan kebijakan penerapan protokol kesehatan selama enam bulan terakhir berupa penutupan kegiatan tatap muka di sekolah/pesantren/kampus.

Kedua, Muhammadiyah sebagai sebuah Gerakan Berkemajuan yang menjunjung tinggi kemanusiaan telah menjadi bagian terdepan dalam penanggulangan Pandemi Covid-19 ini, telah banyak energi dan sumber daya yang diperjuangkan untuk menanggulangi Pandemi, mulai dari upaya pencegahan guna menahan laju penularan, penanganan pasien terdampak Covid-19 hingga berjibaku menangani dampak sosioekonomi melalui program ketahanan pangan atau bantuan langsung tunai dimana di dalamnya pun ada sumbangsih Amal Usaha Muhammadiyah Bidang Pendidikan. Maka, perjuangan tersebut jangan sampai ternoda oleh aksi kontradiktif yang bisa menyebabkan semakin masifnya penularan/penyebaran Covid-19.

Ketiga, Wabah belum selesai, kedaruratan bencana masih terus berlangsung. Laju persebaran kasus Covid-19 di seluruh daerah di Indonesia saat ini masih belum dapat dikendalikan, penularan masih tinggi. Hal ini semakin diperparah dengan terbatasnya pemeriksaan PCR, tingginya kasus Carrier atau Orang Tanpa Gejala (OTG), serta banyaknya kasus under reported. Data 10 September 2020 menunjukkan bahwa 20.7203 orang telah terinfeksi dan 8.456 jiwa diantaranya telah meninggal dunia. Semestinya semua pihak fokus kepada upaya penanggulangan pandemi covid-19 hingga dapat teratasi secara tuntas, baru kemudian mengatasi dampak ikutannya seperti dampak ekonomi, sosiokultural, termasuk di bidang pendidikan.

Baca Juga:   MTs Muhammadiyah Pulau Kangean adakan Olimpade SD dan MI

Keempat, Penularan covid-19 terjadi karena masuknya virus Covid-19 yang dapat dicegah dengan memakai masker, faceshiled, menjaga higienitas tangan, tubuh dan lingkungan, dan menghindari kontak fisik serta kerumunan/ jarak yang berdekatan. Optimalisasi upaya pencegahan harus diutamakan karena keterbatasan fasilitas perawatan pasien dan terus gugurnya tenaga kesehatan di Indonesia yang berarti sumberdaya penopang upaya penyembuhan pasien semakin berkurang.

Kelima, termonitor oleh MCCC bahwa beberapa AUM Pendidikan telah membuka kegiatan pembelajaran tatap muka atau berencana dalam waktu dekat untuk membuka kegiatan pembelajaran tatap muka. Rencana kegiatan tersebut tentu membawa konsekuensi yang perlu diwaspadai kita semuanya terkait kemungkinan resiko yang harus ditangani, karena itu MCCC memandang :

1. Rencana pelaksanaan kegiatan tatap muka di sekolah/pesantren/perguruan tinggi disaat seluruh wilayah Indonesia secara epidemiologi masih mengkhawatirkan akan mengakibatkan peningkatan kedaruratan yang disengaja di dalam lingkungan sekolah/pesantren/kampus.

Kejadian kedaruratan ini tidak mudah dikendalikan. Bila akan dilaksanakan harus disediakan berbagai protokol- protokol kesehatan, perlengkapan pelaksanaan dan penegakan protokol kesehatan, penyediaan peralatan dan perlengkapan pengendali komando kedaruratan, dukungan keuangan yang cukup, maupun tersedianya sumberdaya manusia pelaksana sistem komando kedaruratan di AUM pendidikan yang terlatih dan memiliki kompetensi yang bisa dipertanggungjawabkan.

2. Untuk memastikan kegiatan perkuliahan/pembelajaran tatap muka yang aman memerlukan biaya tes yang tidak sedikit, untuk memastikan tidak ada satu orangpun Orang Tanpa Gejala (OTG) maupun Happy Hypoxia yang masuk ke lingkungan AUM pendidikan.

Orang Tanpa Gejala (OTG) hanya bisa dideteksi dengan tes PCR (Swab Tes) dan Happy Hypoxia yang hanya bisa dideteksi menggunakan alat khusus. Ketersediaan alat-alat tersebut sangat terbatas di Indonesia.

3. Pergerakan siswa/santri/mahasiswa antar daerah berbeda zonasi harus menjadi perhatian yang seksama karena akan berdampak pada masyarakat di lingkungan sekolah/pesantren/perguruan tinggi.