Corona: Kesadaran Teologis dan Sosial

Covid-19
Wabah Covid-19

Khutbah Jum’at Corona: Kesadaran Teologis dan Sosial

اْلحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيْدًا أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلهَ إِلاَّاللَّهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اتَّقُوْا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita panjatkan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia sehingga kita dapat menjalani kehidupan ini dengan penuh keridhaan-Nya. Shalawat dan salam tetap dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, keluarga dan para sahabat serta pengikutnya.

Jama’ah Sholat Jum’at yang Berbahagia

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَقُعُوْدًا وَعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْاَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya:

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S. Ali Imron: 191)

Allah SWT menegaskan berdasarkan ayat di atas bahwa semua yang telah, sedang, dan akan terjadi di dunia bahkan di akhirat tidak ada yang sia-sia. Keimanan secara kontemplatif berarti mengerahkan segala potensi, jasmani dan ruhani baik pikiran maupun intuisi untuk mencermati serta mendalami segala yang menjadi ketentuan dari Allah SWT. Semua menjadi tanda akan adanya Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui segala yang terjadi untuk makhluk-Nya.

Baca Juga:   Menjadi Pedagang Mulia

Begitu pula halnya dengan wabah Corona hingga saat ini yang belum beranjak dari kesibukan mobilitas sosial manusia secara utuh. Pandemi yang jika dilihat dari sudut pandang medis merugikan kesehatan jasmani seseorang, namun bisa menjadi anugerah dalam perspektif teologi filosofis-humanis. Bermuara dari kerangka berpikir teologi filosofis-humanis, akan menggugah kesadaran teologis dan sosial dalam mengkonstruk cara pikir dan tingkah laku untuk mengejawantahkan pandemi Corona ini dalam suatu hikmah dengan muatan positif untuk berlaku secara teologis dan sosial dalam kehidupan bersama dengan masyarakat.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Di era new normal yang sedang menjadi perhatian publik saat ini, perlu diketengahkan konsep perilaku yang menggugah kesadaran teologis dan sosial sebagai upaya memulihkan kembali kondisi dan situasi pasca pandemi secara spiritual dan fisikal. Sesuai dengan yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Q.S. al-Baqarah ayat 177:

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Q.S. al-Baqarah: 177)

Terminologi kebaikan dalam pandangan al-birru adalah kebaikan bersifat teologis dan sosial. Maksudnya di masa-masa pasca pandemi, menjadi acuan tentang konsistensi untuk menghilangkan virus Corona dengan melakukan upaya konkrit dan reflektif. Misal beberapa kegiatan sehari-hari selama masa wabah, seperti mencuci tangan merupakan kegiatan sederhana namun penuh makna. Satu contoh kegiatan tersebut dari beribu-ribu kegiatan manusia yang dilakukan dalam suatu hari, berubah menjadi kegiatan reflektif untuk mengingatkan arti penting kebersihan.

Baca Juga:   Pemuda Harus Produktif

Jama’ah Sholat Jum’at yang Berbahagia

Belum lagi, era new normal bisa dimanfaatkan untuk menebar benih-benih kebaikan bagi masyarakat luas yang tetap membutuhkan pertolongan. Kegiatan sosial maupun bantuan-bantuan logistik masih bisa menjadi sarana untuk memaknai Cororna sebagai anugerah agar saling berbagi. Sebagaimana konsep kebaikan berdasarkan Q.S. al-Baqarah ayat 177 yang terdiri atas kebaikan teologis dan kebaikan sosial. Wujud ibadah kita secara syari’at seperti sholat dan lain sebagainya, harus terejawantahkan menjadi perbuatan sosial yang sangat diperlukan bagi masyarakat di masa-masa pandemi saat ini, misalkan membagikan masker secara gratis bagi warga terdampak atau kebutuhan pokok lainnya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Adanya wabah bukan berarti mengendurkan keyakinan kepada Allah SWT, namun harus tetap menjaga konsistensi keberimanan sekaligus tidak menutup mata dengan fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar. Sikap peduli yang ditunjukkan untuk saling membantu, berbagi, menjaga kesehatan dan lain-lain mejadi kunci penting untuk berusaha melakukan yang terbaik di tengah masa krisis kesehatan fisikal.

Makna dari kesadaran teologis dan sosial sebenarnya tercermin pada sifat dan sikap yang melekat pada diri orang yang beriman, kemudian diimplementasikan demi kemanfaatan dan keberlangsungan hidup masyarakat luas. Aspek syari’at dan mu’amalat berjalan saling melengkapi untuk menuju tingkat kemuliaan yang telah Allah SWT janjikan, dengan begitu seorang mukmin adalah orang yang tidak buta hatinya untuk memikirkan kehidupan di dunia dan di akhirat.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإ