32 C
Yogyakarta
Selasa, Oktober 20, 2020

Kiprah 17 Tahun ‘Aisyiyah dalam Penanggulangan TBC

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

UMP Semakin Berkualitas, Penerimaan Mahasiswa Baru Tidak Menurun

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) melaksanakan acara Pertemuan Orang Tua/Wali Mahasiswa Baru secara daring pada Selasa (20/10).

Talkshow NA Magelang: Perempuan Mampu Berperan secara Seimbang

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Suatu saat akan sampai pada waktu dimana seorang perempuan memiliki tanggung jawab dalam menjalankan peran sebagai seorang ibu,...

Sekda Sumut Diangkat Dosen Tetap UMSU

MEDAN, Suara Muhammadiyah –  Dr Ir Sabrina, MSi resmi menjadi dosen tetap di ligkungan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara menyusul diserahkannya surat keputusan Rektor...

Muhadjir Effendy: Fresh Graduate Segera Menjadi Angkatan Kerja Produktif

MALANG, Suara Muhammadiyah - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy didapuk memberikan orasi ilmiah di gelaran Wisuda ke-97...

Harapan Harijadi UMS ke-62: Terus Solutif dan Kontributif

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan serangkaian kegiatan dalam memperingati harijadi yang ke-62. Kegiatan di antaranya adalah kerja bakti...
- Advertisement -

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Principal Recipient (PR) TB ‘Aisyiyah menggelar seminar virtual bertajuk “Peran Masyarakat Sipil dalam Sektor Kesehatan untuk Penanggulangan TBC”. Diselenggarakan sebagai salah satu upaya ‘Aisyiyah untuk bersama-sama menguatkan peran masyarakat sipil dalam penanggulangan TBC di Indonesia.

Seminar virtual diawali pengantar dari Authorized Signatory PR TB ‘Aisyiyah dan Dewan Pembina PR TB ‘Aisyiyah serta dibuka langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah yakni Dra. Hj. Siti Noordjannah Djohantini, M.M., M.Si.

Acara dihadiri oleh 478 peserta yang terdiri dari perwakilan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, 12 Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah, perwakilan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah, PELKESI, PERDHAKI, para pengelola program SR dan SSR TBC Care ‘Aisyiyah, Manajer Kasus (pendamping pasien TBC Resisten Obat), organisasi masyarakat sipil, peneliti, pegiat sosial dan pegiat penanggulangan TBC.

Penanggulangan TBC sebagai bentuk pembangunan di bidang Kesehatan mengutamakan pendekatan partisipatoris dengan melibatkan berbagai pihak masyarakat secara langsung. Oleh karena itu, kolaborasi dan Kerjasama dalam pembangunan kesehatan, khususnya penanggulangan TBC menjadi syarat mutlak untuk dapat mencapai target eliminasi TBC. ‘Aisyiyah dalam hal ini telah turut berperan dalam upaya penanggulangan TBC dan akan tetap menjadi bagian dari komunitas yang akan terus konsisten melakukan eliminasi TBC.

Hal tersebut jelas terdeklarasi pada rangkaian pembukaan acara seminar, yang mana Dr. Rohimi Zamzami, S.Psi., SH, M.Pd, Psikologi selaku Authorized Signatory PR TB ‘Aisyiyah menyampaikan bahwa ‘Aisyiyah telah 17 tahun berkontribusi dan mengambil peran dalam penanggulangan TBC sejak tahun 2003 hingga 2020 melalui bermitra dengan Global Fund.

“Pada akhir periode ini, diharapkan bahwa seluruh elemen dapat menuntaskan program secara maksimal dan siap untuk menyambut kerja-kerja komunitas yang optimis dan berkelanjutan,” ungkap Rohimi, Kamis, 8 September 2020.

Pernyataan dikuatkan kembali oleh arahan pembukaan dari Dra. Siti Aisyah, M.Ag selaku Dewan Pembina PR TB ‘Aisyiyah yang menyampaikan bahwa meskipun ‘Aisyiyah tidak kembali bermitra dengan Global Fund, ‘Aisyiyah tidak akan pernah berhenti dalam upaya penanggulangan TBC di komunitas yang ujung tombaknya selama ini adalah kader.

“Karena itu, untuk menyongsong suasana baru, serta menguatkan semangat dan tekad baru, PR TB ‘Aisyiyah dan Majelis Kesehatan dalam hal ini berproses untuk rencana, program hingga penyusunan langkah strategis,” kata Siti Aisyah.

‘Aisyiyah dalam Penanggulangan TBC

Pembukaan acara secara resmi dilakukan oleh Ketua Umum PPA yakni Dra. Hj. Siti Noordjannah Djohantini, M.M., M.Si. yang menyampaikan 4 pokok penting. Menurut Noordjannah, tema dari seminar virtual ini sudah sangat melekat dalam kehidupan ‘Aisyiyah dalam melakukan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, salah satunya melalui penanggulangan TBC.

Pertama-tama, Noordjannah menyampaikan bahwa ‘Aisyiyah dalam penanggulangan TBC melihat konteks bahwa kelompok terdampak TBC merupakan kelompok yang lemah dan miskin. Tidak hanya secara ekonomi tetapi miskin dan kurang informasi berkaitan dengan kesehatan serta juga terhambat dalam usaha untuk bisa sehat karena kemiskinan dan kelemahannya tersebut.

“Oleh karena itu, peran ‘Aisyiyah dalam penanggulangan TBC menjadi penting untuk membantu kelompok tersebut. Hal ini dapat menjadi peran kemasyarakatan ‘Aisyiyah sebagai Gerakan praksis,” tutur Noordjannah.

Kedua, ‘Aisyiyah sebagai organisasi, melakukan peran sebagai masyarakat sipil yang telah dan akan terus melanjutkan peran-perannya dalam penanggulangan TBC. ‘Aisyiyah akan mengakhiri kemitraan di akhir Desember 2020 dengan penuh perhatian dan bijak dalam pengambilan keputusan tersebut.

‘Aisyiyah akan tetap mengupayakan pengendalian TBC sesuai dengan karakter Gerakan ‘Aisyiyah yakni Islam berkemajuan, Gerakan pencerahan dan perempuan berkemajuan. Sebagaimana sejarah dari Nyai Dahlan bahwa perlu adanya upaya mendorong perempuan untuk maju dan hal tersebut digerakan oleh kelompok perempuan. Keterdepanan Gerakan perempuan Islam harus bisa responsif untuk berbagai bidang kesehatan, salah satunya adalah TBC.

Ketiga, Noor juga menekankan pentingnya upaya penanggulangan TBC berbasis gender dengan dimulai dari adanya data pilah gender kelompok terdampak TBC serta bagaimana data ini dapat menjadi bahan advokasi serta data dasar untuk strategi penanggulangan TBC yang sesuai kebutuhan gender.

Keempat, ‘Aisyiyah yang didaulat sebagai Ibu Negeri, terdiri dari orang-orang yang memiliki kekuatan dan komitmen untuk dapat berkontribusi bagi kemaslahatan ummat.  Sebagai masyarakat sipil, kita juga memiliki peran menekan, melakukan advokasi dan peran perjuangan politik. Pengalaman dan praktik baik perlu didiskusikan dan kita ambil kebaikan dari satu dan lainnya untuk menjadi Gerakan dalam eliminasi TBC di Indonesia. Bu Noordjannah menekankan kembali bahwa ‘Aisyiyah telah dan akan terus berkontribusi untuk penanggulangan TBC di Indonesia.

Program Berkelanjutan

Setelah resmi dibuka, acara ini dilanjutkan dengan diskusi panel yang dimoderatori oleh Program Manager PR TB ‘Aisyiyah yakni Tuti Alawiyah, MSSW, PhD. Diskusi panel diawali dengan materi Tantangan dan strategi terkait keberlanjutan program penanggulangan TBC berbasis komunitas secara mandiri yang disampaikan oleh Dra. Noor Rochmah Pratiknya sebagai Wakil Ketua Majelis Kesehatan PPA.

Noor Rochmah menuturkan bahwa Organisasi Aisyiyah adalah organisasi keagamaan, kemasyarakatan dan Kesehatan yang sudah bergerak 1 abad lebih. Dalam hal ini, ‘Aisyiyah mendapatkan amanah dari Global Fund untuk mengelola program TBC sepanjang 17 tahun dengan proses pembelajaran dan praktik baik di berbagai wilayah di Indonesia.

Dengan berakhirnya kemitraan bersama Global Fund, ‘Aisyiyah melalui Majelis Kesehatan akan terus bergerak untuk mengeliminasi TBC yang terintegrasi melalui Gerakan ‘Aisyiyah Sehat (GRASS). Hal tersebut sejalan dengan semangat perjuangan organisasi untuk meningkatkan derajat kesehatan berbasis pelayanan kesehatan dan komunitas sebagaimana tercantum pada Surat Al-Maun.

Selain itu, juga pada Surat Al-Maidah ayat 32 yang mendasari ‘Aisyiyah untuk terus bergerak dan melanjutkan upaya eliminasi TBC, yakni “Barang siapa yang memelihara kehidupan seseorang maka dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya”. 

Siti Noordjannah menuturkan kegiatan di Majelis Kesehatan untuk penyakit menular dari Pimpinan Pusat sampai level Daerah sudah ada termasuk penyakit menular. Diantaranya TBC dan akan bersinergi dengan Lazismu, ZIS, sponsorship dan lintas majelis perguruan Tinggi Aisyiyah dan Muhammadiyah serta amal usaha lainnya.

Terkait keberlanjutan program Siti Noordjannah menyampaikan Terdapat praktik baik dari wilayah kerja ‘Aisyiyah berkaitan dengan penanggulangan TBC, yakni di Garut, Jawa Barat. Sejak akhir tahun 2017 Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Garut mampu bergerak secara mandiri dengan membuat desa Siaga TBC melalui “Desa Qoryah Thoyyibah” dapat mengelola kader TBC secara mandiri.

Bahkan menjadikan kader TBC sebagai kader teladan level nasional di tahun 2019, membuat rumah singgah yang bekerjasama dengan komunitas Profesi Arsitek Yayasan Hijau Nusantara [YAHINTARA].

“PDA Garut tetap bersinergi dengan Persyarikatan melalui klinik Muhammadiyah dan berbagai pihak lain diantaranya Dinas Kesehatan, Balai Paru dan yang lainnya dalam program penanggulangan TBC hingga saat ini,” ungkapnya.

Berkenaan dengan penanggulangan TBC berkelanjutan, PR TB ‘Aisyiyah menghadirkan Prof. Hilman Latief, M.A, PhD sebagai Ketua LAZISMU Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menyampaikan paparan bertajuk Potensi Kerjasama dengan LAZISMU dalam kerangka penanggulangan TBC.

Hilman membuka sesi paparan dengan menyampaikan apresiasi untuk ‘Aisyiyah sebagai sebuah pencapaian yang luar biasa untuk kerja-kerja ‘Aisyiyah di 20-30 tahun terakhir. Bergelut terlibat aktif dalam Penanggulangam TBC secara khususnya, dan jauh sebelum itu ‘Aisyiyah juga telah punya kontribusi besar dalam bidang kesehatan secara umum.

Kemudian menurut Hilman, TBC menjadi masalah besar di berbagai negara, terutama negara berkembang. Tren masyarakat sipil untuk berkecimpung dalam isu kesehatan juga semakin tinggi.

Selain itu, Lembaga Filantropi juga sudah banyak yang melihat kesehatan sebagai isu utama, yang mana pemenuhan terhadap kesehatan menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Dalam kerangka filantropi, kita bisa melihat bahwa isu TBC ini berkaitan erat dengan konteks sosial ekonomi sebagai dampak dari masalah kesehatan dan juga sebaliknya.

 “TB is not only about heathcare, TB is also about awareness, about world view, perspektif how to understand reality, how to behave, termasuk juga gizinya, suplemennya seperti apa,” ungkap Prof Hilman.

Dengan berakhirnya kemitraan dengan Global Fund, maka diperlukan strategi keberlanjutan pengelolaan program penanggulangan TBC secara mandiri. Setidaknya terdapat 3 roadmap atau peta jalan yang mendasar yang perlu direncanakan untuk 5-10 tahun kedepan yaitu “Financial Roadmap, Healthcare Roadmap dan TB-Care Roadmap” tambahnya.

Selain melalui sumber dana Filantropi, Masyarakat Sipil juga dapat mengakses sumber dana melalui kerjasama dengan pemerintah. Hal tersebut disampaikan oleh pembicara ketiga yakni Dr. Drs. Horas Mauritz Panjaitan, M. Ec. Dev yang merupakan Direktur Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Kementerian Dalam Negeri. Beliau menyampaikan informasi terkait Akses Swakelola Tipe III dari APBD/APBN.

Horas membuka paparan dengan mengapresiasi kerja-kerja ‘Aisyiyah dalam penanggulangan TBC dan menyampaikan ketertarikan serta antusiasme untuk dapat bekerjasama lebih lanjut dalam mendukung upaya ‘Aisyiyah.

Berdasarkan paparan yang disampaikan Siti Noordjannah, Horas baru mengetahui adanya kasus TBC yang tinggi yang ditemukan ‘Aisyiyah. “Ada 10 % alokasi APBD untuk kesehatan, mengapa tidak bisa disediakan untuk TBC apalagi TBC termasuk dalam SPM, ajukan saja segera untuk 2021 kalau sudah sesuai dan anggarannya ada maka bisa diakses,” tuturnya.

Kaitannya dalam keberlanjutan program penanggulangan TBC oleh ‘Aisyiyah, Horas dengan penuh semangat menyampaikan “Kemendagri siap mensupport dan menjembatani untuk ke daerah dalam musrenbang di desa di sesuaikan dengan Kebijakan desa masing-masing”

Dalam paparannya Horas juga menyampaikan tentang Alur bagaimana organisasi masyarakat sipil dalam mengakses dana APBD di tiap Kabupaten/Kota melalui Swakelola Tipe III. Hal ini menjadi  peluang yang terbuka untuk setiap Pimpinan Wilayah/Daerah ‘Aisyiyah dalam menjalankan peran dan fungsinya pada upaya penanggulangan TBC. (Bunga/Rakhma/Evie)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles