KH Abdullah Syukri Zarkasyi; Pendidik yang Memimpin

KH Abdullah Syukri Zarkasyi

KH Abdullah Syukri Zarkasyi

Pendidik dan pemimpin adalah dua identitas yang melekat pada diri KH Abdullah Syukri Zarkasyi, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Berbicara tentang pendidikan Islam modern tidak akan pernah lepas dari keterampilan memimpin yang mumpuni. Hal ini beliau tunjukkan secara konsisten melalui Lembaga Pendidikan Pesantren yang beliau pimpin sebagai pusat pendidikan kader pemimpin umat, yaitu Gontor. Tanpa idealisme yang kuat dari para pendiri dan pimpinannya, rasanya muatahil jika saat ini Gontor dapat menjadi Pondok Pesatren terkemuka serta Center of Excellence baik di tingkat nasional maupun global.

Menjadi seorang santri tentu terasa sangat istimewa. Merantau meninggalkan kampung halaman untuk memperdalam ilmu agama dan ilmu kehidupan. Sebagai seorang santri, kita tidak akan asing dengan agenda dan kegiatan pertemuan bersama dengan pengasuh, pimpinan dan dewan guru, tidak terkecuali juga di Gontor.

Di setiap perkumpulan yang berlangsung di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) Gontor atau di Masjid Jami’, dalam acara-acara penting seperti Pengenalan Pondok Modern, pembekalan ujian awal maupun akhir tahun, peringatan hari besar Islam, hingga nasehat menjelang perpulang bagi para santri, beliau selalu berpesan untuk melakukan segala sesuatu secara totalitas. Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras. Tidak ada kerja keras tanpa tekad yang kuat. Dalam mengerjakan sesuatu beliau selalu berpegang pada prinsip hidup, bondo, bahu, pikir, lek perlu sak nyawane pisan. Harta, tenaga, pikiran, dan kalau perlu nyawa saya pertaruhkan. Setiap kata atau kalimat yang beliau sampaikan adalah mantera. Mantera hidup yang paling sempurna.

Semangat pantang menyerah terus beliau gelorakan dan tularkan kepada para santri dalam berjuang menemukan makna hidup yang sesungguhnya. Menjadi seorang santri tidak boleh cengeng atau suka mengeluh. Santri harus berjiwa kesatria. “Anak-anakku harus patut bersyukur karena berada di pusat tempaan (kawah condro dimuko) dalam menimba pengalaman dan pendidikan,” pesannya.

Baca Juga:   Tata Nilai yang Jungkir Balik

Dalam hal kepemimpinan, beliau adalah sosok pemimpin yang visioner. Melihat kehidupan jauh ke depan. Membaca dan menganalisa berbagai macam persoalan dengan penuh pertimbangan. Dan kemudian menghadapi tantangan dengan kemauan dan tekad baja. Berorientasi kepada prestasi, bukan sekedar rutinitas atau tanggungjawab semata. Merugilah orang yang hidup di suatu tempat lebih dari lima tahun dan ia tidak berprestasi.  

Menurut putra pertama dari KH Imam Zarkasyi, salah seorang Tri Murti Pendiri Pondok Modern Gontor, pendidikan adalah pembiasaan. Mendidik itu mengajar, memberi tugas, dan membiasakan diri melatih. Melatih belajar dan cara belajar dengan penuh kesabaran. Jika ada santri yang sulit menghafal dan tidak paham akan pelajaran, maka guru mesti mengajarinya sedikit demi sedikit. Guru mesti memberi nasihat kepada santri tersebut agar membaca sebanyak mungkin pelajaran yang ingin dihafal, meski sampai 40 kali. Dalam hal ini beliau menekankan pada pentingnya proses yang panjang dalam belajar atau menuntut ilmu. Dengan sering membaca, nascaya pemahaman akan sesuatu yang belum dimengerti dapat muncul.

Selain itu, mendidik adalah menyetrum. Dalam mendidik harus disertai dengan jiwa kepemimpinan yang ikhlas. Ia selalu menekankan posisnya melalui berbicara dengan hati, bukan dengan mulut. Keteladanan selalu beliau tunjukkan dimana pun dan kapan pun tanpa mengenal ruang dan waktu.

Inspirasi bagi kaum santri

Pengalaman yang paling penulis ingat tentang sosok Kiai Abdullah Syukri Zarkasyi, ketika pada tahun 2011 beliau dinobatkan sebagai Tokoh Perubahan Republika. Di tengah suasana jam makan siang, tepat di samping gedung 17 Agustus Pondok Modern Darussalam Gontor, penulis berdiri di depan sebuah madding yang tertempel koran republika edisi Rabu, 18 April 2012. Terpampang dan tertulis nama Kiai Syukri sebagai penerima penghargaan bergengsi di bidang pendidikan.

Baca Juga:   Mengembangkan Ranting Muhammadiyah Berbasis Masjid

Haru dan bangga menyelimuti seluruh perasaan. Beliau telah membuktikan bahwa kaum santri tidak bisa dianggap remeh. Santri bisa berbuat banyak untuk negeri tempat ia berpijak. Hidup dengan semangat memberi, tak mengharapkan kembali. Modern bukan sesuatu paham yang bersifat statis, ia bergerak dinamis mengikuti dinamika waktu, bahkan bisa mendahului waktu. Mengukirkan prestasi sebagai penyemangat bagi generasi yang akan datang. Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja.

Diko Ahmad Riza Primadi, Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor