Pandemi dan Motivasi Keimanan

Masjid Era Pandemi Ilustrasi Dok Dribble

Khutbah Jum’at Pandemi dan Motivasi Keimanan

Assalaamualaikum Wr Wb

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimani wa Rahimakumullah

Puji dan syukur kehadirat Allah swt yang senantiasa memberikan seluruh nikmatnya kepada kita semua, yang mustahil kita bisa menghitungnya. Dengan kenikmatan tersebut kita dapat menjalan perintah dan menjauhi laranga-Nya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah dan limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw.

Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimani wa Rahimakumullah

Nabi Ibrahim as terkenal dengan sejarah menemukan keimanan dan ketauhidannya. Sejak Ibrahim as kecil, tantangan kehidupanya adalah menemukan Tuhan yang mampu memberikan perlindungan, manfaat dan mengawasinya. Kegelisahan dengan keadaan sekitar, membuat Ibrahim as bertanya-tanya akan keberadaan Tuhan. Ayahnya yang bernama Azar atau dalam riwayat lain dikatakan bahwa nama tersebut adalah nama berhala, merupakan pembuat patung untuk disembah oleh masyarakat sekitar. Dengan keadaan ini membuat Ibrahim bertanya kepada Ibunya “Wahai Ibuku, siapa Tuhanku?”. Lalu ibunya menjawab “Tuhanmu adalah aku!”. Kemudian Ibrahim bertanya lagi “Siapa Tuhanmu?”. Lalu ibunya menjawab “Tuhanku adalah Ayahmu!”. Kemudian Ibrahim bertanya lagi “Lantas, siapa Tuhanya ayahku?”. Lalu ibunya menjawab “Tuhanya Ayahmu adalah rajamu sekarang (Raja Namrud)”.

Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimani wa Rahimakumullah

Singkat cerita, dengan keadaan semacam ini membuat Ibrahim as bertanya kepada Azar yang sedang membuat berhala. Tercatat dalam firman Allah swt:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (٧٤)

“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”

Pertanyaan ini merupakan kegelisahan Ibrahim as yang tidak mau dibodohi untuk menyembah berhala. Berhala yang merupakan benda mati, tidak dapat memberikan apapun, tidak dapat memberi manfaat dan perlindungan, tidak pantas untuk disembah. Dzat yang berhaq disembah adalah dzat yang mampu memberikan manfaat dan perlindungan. Kemudian Allah memberikan tanda-tanda dari kekuasaan-Nya untuk meyakinkan Ibrahim akan keberadaan Tuhanya.

Baca Juga:   Sang Pemikir

75. “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.” 76. “Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.77. “Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” 78. “Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” 79. “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimani wa Rahimakumullah

Tanda-tanda kekuasaan Allah swt menjadi bukti keimanan Nabi Ibrahim, dengan melihat adanya bintang yang dipercayai sebagi Tuhan hanya muncul pada malam hari, begitu juga dengan bulan. Melihat kekuasaan Allah swt yang lebih besar, berupa matahari pada siang hari juga lenyap setelah malam tiba. Keyakinan Ibrahim as semakin kuat, bahwa benda-benda yang ia lihat bukanlah Tuhan, melainkan tanda kebesaran Tuhan. Sehingga, Ibrahim as berkeyakinan dengan hati yang murni (disebutkan dalam Tafsir al-Kabir bahwa Ibrahim as menemukan Tuhanya dengan al-Qalb as-Salim dan dengan cara Ta’ammul yaitu berfikir mendalam) bahwa Tuhanlah yang menciptakan alam semesta ini baik itu bumi, langit, bintang, bulan dan matahari serta seluruh jagat raya ini tundudk di bawah kekuasaanya. Lantas Ibrahim as mengajak kepada kaumnya untuk kembali kepada dzat yang maha besar yaitu Allah swt dan meninggalkan sesembahan yang tidak dapat memberikan manfaat sama sekali.

Baca Juga:   Semangat Ramadhan dari Negeri Formosa

Perjuangan Nabi Ibrahim as dalam mencari Tuhan, menjadi tolak ukur untuk kita semua yang sedang di timpah bencana berupa virus corona (COVID-19). Selaku Umat Islam yang memperjuangkan asas-asas keislaman, tentu menaggapi persoalan ini sebagai tanda kasih sayang Allah kepada makhluknya. Seharusnya umat Islam bertanya-tanya seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim ketika mencari Tuhanya, kenapa virus ini Allah turunkan kepada kita. Seharusnya umat Islam berfikir, bahwa ini merupakan tanda kekuasaan Allah. lebih konkritnya bahwa seharusnya dengan adanya bencana ini umat Islam semakin kuat aqidahnya. Jika umat Islam berfikir layaknya Nabi Ibrahim as, ini menjadi contoh nyata bahwa Allah ingin hambanya kembali kepadanya dengan cara mendekatkan diri lagi kepada Allah swt.

Shalat, do’a, menjaga keluarga, kerabat, tetangga dan orang-orang tersayang merupakan bukti keimanan seorang hamba dengan adanya pandemi ini. Menjaga istri agar bisa menjaga jarak dalam sosial, menjaga anak agar selalu hidup bersih, dan mengajak sanak kelurga untuk beribadah adalah contoh keimanan yang senantiasa dijaga. Pandemi COVID-19 dapat dihadapi dengan rasa iman kepada Allah, dengan cara tetap waspada dan menaati aturan pemerintah.

Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimani wa Rahimakumullah

Sebaliknya, jika umat Islam berfikir negativ kepada Allah dengan diturunkan pandemi ini, bahwa Allah sudah tidak sayang lagi kepada hambanya adalah perbuatan yang sangat dibenci Allah swt. semua cobaan, bencana dan ujian yang Allah berikan kepada hambanya tidak lain dan tidak bukan pasti ada kemaslahatan yang lebih utama. Oleh karenaya, sebagi umat Islam, berhaq mencontoh cara berfikir Nabi Ibrahim as dalam memperkuat keimanan dan Aqidah, terlebih lagi dalam menghadapi musibah virus corona ini.

Mudah-mudahan umat Islam mampu menjalani bencana ini dengan penuh keikhla