Spirit Pemuda untuk Indonesia Berkemajuan

Spirit Pemuda untuk Indonesia Berkemajuan

Oleh: Preli Yulianto

Dalam jarak waktu tujuh puluh lima tahun kemerdekaan bangsa Indonesia, dengan memiliki aset kekayaan alam melimpah. Bila dibandingkan dengan negara lain yang mungkin hanya ada satu ataupun tidak lebih dari tiga kekayaan alamnya tetapi kehidupan rakyatnya sudah cukup sejahtera.

Sungguh ironis, bangsa ini belum merasakan kemakmuran dan kesejahteraan hidup. Suatu hal yang ambyar pada negeri ini dengan potensi alam yang berlimpah namun, rakyatnya tetap dalam kondisi miskin. Peranan pemuda sangat dibutuhkan dalam mengawal bangsa ini, bahkan harus berperan aktif dalam mewujudkan negara yang berkemajuan.

Pandemi COVID-19 menjadikan pukulan mematikan/deadly punch untuk berbagai sektor negeri ini. Pasalnya, Indonesia mulai dari bulan Agustus 2020 kasus COVID-19 kian hari meningkat bahkan melampaui negara yang berjuluk tirau bambu alias China.

Indonesia mempunyai perjalanan yang berliku, dan kita sebagai pemuda bersaksi di tengah badai perjalanan negeri ini, tentu perjuangan pahlawan negeri ini melawan penjajah di masa lalu harus kita jadikan semangat berkobar untuk Indonesia hari ini dan masa depan yang lebih baik. Problematika yang dihadapi Indonesia saat ini bukan menjadikan kita menciut seperti bermental kerupuk tenggelam dilahap oleh gejolak air.

Semangat pemuda itu seperti kesatria, dan putri dalam kisah pewayangan yang selalu siap mengemban amanah mewujudkan tujuan. Kadarusman (2005) pernah berkata bahwa kalau hanya masa lalu dan masa kini yang anda pikirkan, anda akan kesulitan ketika harus berhadapan dengan masa depan.

Sejarah Singkat Sumpah Pemuda

Pada tanggal 30 April sampai 2 Mei 1926, di Jakarta diselenggarakan suatu momentum sejarah yakni, Kerapatan Besar Pemuda-Pemuda Indonesia. Sejarah mencatat bahwa Kerapatan Besar Pemuda-Pemuda Indonesia dinamakan Kongres Pemuda I.

Kongres Pemuda ini dihadiri berbagai organisasi pemuda yakni: Jong Java (1915), Jong Sumatranen Bond (1917), Jong Islamieten bond (1924), Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Ambon, dan lainnya. Tujuan diselenggarakan Kongres Pemuda I yakni yang pada intinya membentuk perkumpulan pemuda yang satu.

Setelah Kongres Pemuda I, lahir organisasi baru dengan pemakaian nama Indonesia yaitu Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) yang berpandangan bahwa perasaan kedaerahan akan memperlemah perjuangan. Organisasi PPPI memiliki semboyan “Berjuang sambil belajar”. Disusul berdirinya Jong Indonesia pada tanggal 20 februari 1927.

Baca Juga:   Indonesia Berkemajuan Digapai dengan Kerja Keras dan Istiqamah

Pada bulan Juni 1928, dibentuklah sebuah panitia untuk Kongres Pemuda II dengan susunan yakni, Ketua ialah Sugondo Joyopuspito, Wakil Ketua ialah Joko Marsaid, Sekertaris ialah Mr. Muhammad Yamin, dan Bendahara ialah Amir Syarifuddin.

Selanjutnya, Kongres Pemuda II dimulai pada tanggal 27 Oktober 1928. Rapat pertama dihelatkan di Gedung Katholieke Jongelingen Bond di Lapangan Banteng. Rapat kedua diselenggarakan pada tanggal 28 Oktober 1928 pukul 08.00 sampai pukul 12.00 bertempat di Gendung Oost Java Bioscoop (sekarang Jln. Medan Merdeka Utara nomor 14).

Rapat ketiga diselenggarakan tanggal 28 Oktober 1928 pukul 17.30 bertempat di Gedung Indonesia Clubhuis Jl. Kramat Jaya 106 Jakarta (sekarang disebut Gedung Sumpah Pemuda). Dalam Kongres Pemuda II ini hadir kurang lebih 750 orang utusan dari berbagai organisasi pemuda seperti Jong Java (1915), Jong Sumatranen Bond (1917), Jong Islamieten bond (1924), Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Ambon, dan lainya.

Pada saat istirahat, seorang pemuda yang berprofesi sebagai wartawan dan musisi bernama W.R. Supratman, meminta izin kepada ketua Kongres untuk memperdengarkan lagu ciptaannya yang berjudul “Indonesia Raya”. Konggres Pemuda II menjadi momen perdana diperdengarkan “Lagu Indonesia Raya” di hadapan umum.

Kemudian, Kongres itu yang dipelopori oleh beberapa pemuda yakni: Mr. Muhammad Yamin, Wongso Negoro, Kuncoro Purbopranoto, dan teman-teman lainnya menghasilkan ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang merupkan cerminan dari tekad dan ikrar para Pemuda, Pelajar, dan Mahasiswa. Makna penting yang terkandung dalam Ikrar Sumpah Pemuda ialah satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa.

Legenda Pemuda Dulu Kala

Andil pemuda sudah terbukti sejak negeri ini belum merdeka, dahulu kala ada seorang pemuda yang bermimpi ingin menyatukan sebuah negeri yang kala itu disebut dengan nama “Nusantara”. Sekitar tahun 1800-an pemuda berkumpul dengan spirit untuk bagaimana mewujudkan mimpi-mimpi itu. Selanjutnya, tahun 1928 pemuda kembali berkumpul dengan spirit persatuan merundingkan suatu kesepakatan yang dikenal dengan ikrar “Sumpah Pemuda”.

Berikut ini merupakan bunyi ikrar sumpah pemuda yakni: pertama, Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kedua, Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Ketiga, Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Baca Juga:   Saling Menopang Keberlangsungan Pendidikan

Hingga ahirnya tahun 1998 pemuda membuktikan kekuatannya untuk bagaimana memperjuangkan suara rakyat, penyambung lidah rakyat demi terwujudnya cita-cita kemerdekaan. Bung Karno pernah berkata kami bukan bangsa kuli dan bukan kuli bangsa-bangsa. Itulah yang harus kita tanaman dalam jiwa kita untuk menjadi bangsa yang mampu berdiri tegak alias BEDIKARI yaitu berdiri dengan kaki sendiri sehingga merdeka paripurna.

COVID-19 Sebagai Refleksi Kehidupan Lebih Baik

Kita percaya bangsa ini bermental baja, tidak terkecuali pemuda-pemudi negeri ini yang memiliki mental juang dengan spirit yang tinggi bagai laksamana tameng kejayaan visi di negeri seribu pulau ini. Mungkin bukan hari ini, kelak akan hadir pemuda-pemudi yang akan mampu merubah kondisi bangsa ini.

Tujuh puluh lima tahun Indonesia merdeka pemuda dari berbagai latar belakang pendidikan, dan keahlian berdiaspora, menyebar mengisi berbagai pekerjaan. Tinggal bagaimana kemampuan tersebut terhimpun dalam spirit juang satu tujuan demi Indonesia berkemajuan.

Semangat fastabiqul khairot dalam menghadapi COVID-19 sebagai bagian usaha dalam menghadapi pandemi yang menjadi ujian bagi kita semua. Penulis membaca di beberapa media bahwa Susilo Bambang Yudhoyono berpesan di HUT RI ke-75, beliau menjelaskan Indonesia menghadapi ujian sejarah yaitu krisis kembar yakni, pandemi corona dan krisis ekonomi. Oleh karena itu, beliau mengajak untuk bersatu dan optimis  karena pada saatnya badai berlalu.

Ujian sejarah ini musibah yang harus kita sikapi dengan positif tentu, kita ingat petuah dari KH. Ahmad Dahlan pada saat dihadapkan oleh musibah. Beliau menjelaskan agar senantiasa mengingat Allah SWT dalam setiap keadaan termasuk seperti kondisi pandemi kali ini.

KH. Ahmad Dahlan dalam hal itu, menjelaskan ketika tertimpa musibah atau kesusahan, ingatlah kepada Allah SWT dengan berucap Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya), atau bisa juga mengucap Hasbunallah wani’mal wakil (Allah-lah yang mencukupiku dan Dia-lah sebaik-baik yang diserahi).