Hikmah dan Masalah

Masalah, musibah, ujian, atau apapun sebutannya akan selalu menghampiri hidup manusia. Semua itu harus dihadapi dengan sabar atau mengeluh. Karena sesunguhnya, ini adalah proses hidup manusia. Ada hikmah di setiap kepingya.

Oleh: Bahrus Surur At-Tibyani

Masalah yang dihadapi manusia senantiasa silih berganti. Masalah keluarga di rumah belum selesai, sudah ada lagi persoalan di kantor. Bahkan, belum sampai di kantor, di jalan pun muncul masalah. Ada yang ringan dan langsung bisa dituntaskan. Dan, ada pula yang menguras tenaga, pikiran, waktu dan kekayaan.

Dalam Islam, masalah yang dihadapi manusia itulah yang disebut ujian atau musibah. Boleh jadi, perjalanan hidup seseorang memang melangkah dari satu ujian (masalah) ke ujian berikutnya. Namun, justru dari ujian (musibah) itulah manusia dididik lebih dewasa, yang akhirnya bisa menyadari siapa sesungguhnya dirinya.

Namun, seringkali manusia mudah mengeluh dengan masalah yang dihadapi. Hal ini sudah disindir oleh Allah dalam QS. Al-Maarij 19-22 , “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.” Begitu juga, ketika Allah mengujinya dengan berbagai kebaikan dan kemuliaan, mereka merasa bah­wa Tuhan telah memuliakannya. Sebaliknya, bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi dan mengurangi rizkinya, maka ia katakan, “Tuhanku menghinakanku”. (QS. Al-Fajr: 15-16).

Padahal, apa yang diujikan Allah kepada manusia bukan tanpa maksud. Pertama, Allah ingin menjaga seseorang dari kenistaan.  Dalam QS. Asy-Syura: 27, “Dan Jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha melihat.

Baca Juga:   Kata Maaf Seorang Ibu

Kedua, bahwa ujian atau musibah yang menimpa manusia itu sebagai alat untuk menghapus dosa dan kesalahannya. Dalam sebuah hadis Qudsi disampaikan, “Apabila telah Ku bebankan kemalangan (musibah) kepada salah seorang hamba-Ku pada badannya, hartanya atau anaknya, kemudian ia menerimanya dengan sabar yang sempurna, Aku merasa enggan dan malu menegakkan timbangan baginya pada hari kiamat atau membukakan buku catatan amalnya baginya.” (HR. A-Dailami, al-Hakimut Turmudzi dari Anas r.a.). Dalam hadis yang lain juga disebutkan, “Tidak ada musibah yang menimpa seorang muslim seperti keletihan, kelesuan, sakit, susah atau gangguan sekedar tertusuk duri sekalipun, melainkan allah akan menghapus sebagian dosanya” (HR. Bukhari Muslim)

Ketiga, musibah dimaksudkan sebagai jalan untuk memupuk kesabaran pada diri seorang muslim. Dari sini ia akan mendapatkan rahmat dan petunjuk Allah. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun“. Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)

Keempat, musibah yang menimpa manusia merupakan pengasah mata batin keimanan manusia. Dalam QS Al-Ankabut: 2-3, Allah mengingatkan, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah ingin mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Kelima, musibah yang menimpa seorang mukmin adalah bentuk kerinduan Allah pada hamba-Nya. Dalam hadis Qudsi Rasulullah menuturkan, “Allah berfrman kepada para malaikat: “Pergilah kepada hamba-Ku. Lalu timpakan kepadanya berbagai ujian kepadanya, karena Aku mau mendengar suaranya.” (HQR. Thabrani dari Abu Umamah).

Baca Juga:   Ketum PP IPM Lantik IPM Sumbar

            Keenam, Allah ingin memberikan yang lebih baik. Tidak sedikit seseorang yang “gagal” di satu bidang, tetapi sukses di bidang lain. Dan seringkali, kesuksesannya itu lebih baik dari yang diinginkan sebelumnya. Dalam QS. Al-Baqarah: 216 Allah menyatakan, “Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.Wallahu a’lam bi al-shawab.

Bahrus Surur Tibyani, Guru SMA Muhammadiyah I Sumenep, Penulis Buku Agar Imanku Semanis Madu (2017).