Vaksinasi Covid-19 dalam Perspektif Agama dan Kesehatan

 YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Vaksinasi merupakan ikhtiar yang dianjurkan agama untuk menanggulangi Covid-19. Menghadapi kondisi darurat Covid-19 yang masih terus berlangsung dan belum menunjukkan grafik melandai, vaksinasi diharapkan mempercepat berakhirnya kondisi darurat. Upaya vaksinasi harus tetap diikuti dengan kedisiplinan menjalankan 3 M (Mencuci tangan, Memakai masker, dan Menjaga jarak) dan 3 T (Testing, Tracing, Treatment). Pesan ini disampaikan para narasumber Pengajian PP Muhammadiyah via Zoom Meeting, 15 Januari 2021.

Ketua PP Muhammadiyah, Prof Syafiq A Mughni MA menyatakan bahwa Muhammadiyah dengan slogan Islam berkemajuan tidak tinggal diam menghadapi pandemi ini. “Muhammadiyah terus bergerak untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh umat manusia,” ujarnya. Termasuk yang dilakukan Muhammadiyah adalah memberi pemahaman kepada masyarakat.

Menurut Syafiq, ada beberapa wabah yang terjadi dalam sejarah Islam, di antaranya diabadikan oleh Ibnu Abi al-Dunya dalam kitab Al-I’tibar dan Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Badzlul Ma’un fi Fadhl al-Tha’un. Ketika menghadapi Covid-19 sekarang ini, umat Islam seharusnya dapat belajar dari sejarah kelam ini untuk tidak mengulanginya dan bersikap lebih responsif.

Syafiq menyebut bahwa sikap pasrah pada takdir menjadi salah satu tantangan tersendiri di internal umat Islam. Padahal, Allah tidak mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka berusaha maksimal. “Ada juga tantangan budaya yang tidak peduli terhadap keselamatan orang lain dan keselamatan dirinya.”

Di luar itu, ada tantangan post truth, bahwa orang hanya percaya jika suatu fakta sesuai keyakinannya, sementara yang tidak sesuai kepercayaannya dianggap salah. Warga Muhammadiyah diharapkan mau belajar dan membuka diri. Syafiq mengutip Al-Isra’: 36, “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak ada ilmu pada dirimu tentangnya.”

Vaksinasi dalam Perspektif Kesehatan

Prof Zullies Ikawati PhD, Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, menjelaskan bahwa gejala Covid-19 sering disebut punya seribu wajah. Antara satu orang dan orang lain punya gejala yang berbeda. Ketika terkena virus, tubuh kita akan merespons dan menghasilkan antibodi. Ketika seseorang terinveksi Covid-19, biasanya antibodi baru akan muncul pada hari ketujuh. Antibodi ini bertahan di dalam tubuh dalam jangka waktu tertentu. Untuk memunculkan antibodi ini, dapat dipicu secara buatan, melalui vaksinasi.

Sistem imun atau kekebalan tubuh dibagi: (1) imunitas bawaan, telah ada sejak kita lahir; (2) imunitas adaptif yang muncul kemudian, ada yang alami atau buatan. Baik yang alami maupun yang buatan, ada yang aktif dan pasif. “Vaksinasi merupakan cara menginduksi kekebalan tubuh secara buatan yang bersifat aktif,” katanya.

“Vaksinasi adalah proses memasukkan vaksin ke dalam tubuh mansia dengan tujuan untuk mendapatkan efek kekebalan terhadap penyakit tertentu. Vaksin adalah patogen yang dilemahkan atau diinaktifkan, yang dibuat dengan teknologi khusus, untuk menstimulasi sistem imun supaya memproduksi antibodi. Ada banyak teknologi untuk membuat vaksin seperti mRNA, viral vector, dan lain-lain,” urai Zullies.

Vaksin setelah dimasukkan ke dalam tubuh melalui injeksi, lalu memicu sel-sel imun tubuh menghasilkan antibodi terhadap virus. Antibodi akan bertahan dalam beberapa waktu tertentu, sehingga ketika seseorang terpapar virus, tubuh telah siap melawan dan mengeliminasi virus yang masuk. “Jika pun tetap terinfeksi virus, maka jumlah virus yang bereplikasi tidak terlalu banyak dan gejala lebih ringan,” paparnya.

Menurut Zullies, ada beberapa jenis vaksin yang digunakan di Indonesia, yang menjadi prioritas saat ini adalah vaksin Sinovac karena berbagai pertimbangan, seperti: platformnya sudah dikuasai dengan baik oleh PT Bio Farma, efek sampingnya rendah dan relatif aman, dapat disimpan pada suhu 2-8 derajat Celcius yang relatif mudah. Dasar pemilihan vaksin perlu mempertimbangkan aspek efikasi atau kemanjuran dan keamanan atau efek samping.

“Vaksinasi merupakan salah satu ikhtiar kita untuk mengakhiri pandemi Covid-19 di Indonesia. Negara sudah berikhtiar memberikan vaksinasi secara gratis, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,” tukas Zullies Ikawati.

Vaksinasi dalam Perspektif Agama

Prof Syamsul Anwar MA, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menyampaikan prinsip-prinsip ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Menurutnya, sabar adalah kunci yang sangat penting dalam menanggulangi Covid-19. Sabar harus disertai dengan ikhtiar. Selain menjalankan protokol kesehatan 3 M dan 3 T, vaksinasi adalah salah satu upaya untuk keluar dari kondisi darurat penyebaran Covid-19. Sebelumnya, Majelis Tarjih telah mengeluarkan beberapa maklumat.

Menurutnya, usaha maksimal mengakhiri pandemi adalah bagian dari ajaran agama. Misalnya ayat, “dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (Al-Baqarah: 195). Ayat lainnya, “barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (Al-Maidah: 32).

Ada juga beberapa hadis yang dikutip oleh Syamsul, seperti tentang larangan Nabi untuk mencampur antara orang yang sakit dengan orang yang sehat. Hal ini sesuai dengan prinsip pembatasan mobilitas sosial. Hadis lain, “Tidak boleh berbuat mudarat dan menimbulkan mudarat” (HR. Ibnu Mājah).

Guru besar hukum Islam UIN Sunan Kalijaga ini juga menyatakan bahwa Islam mengajarkan sejumlah nilai hidup. Di antaranya nilai hidup sebagai insan mukmin yang kuat. “Sesungguhnya sebaik-baik orang untuk engkau pekerjakan adalah orang yang kuat dan jujur (terpercaya) (Qs. 28: 26). Dinyatakan juga dalam hadis, “Sesungguhnya orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah. Di dalam segala sesuatu itu ada kebaikan, maka hendaklah engkau senantiasa mengupayakan segala yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah” (HR Muslim).

Umat Islam wajib melakukan upaya-upaya ke arah itu, antara lain dengan meningkatkan kebugaran dan kesehatan fisik dan rohani, menjaga kesehatan dan kebersihan badan dan lingkungan serta menghindari berbagai sumber penyakit, dan mengupayakan pengobatan apabila sakit. “Vaksinasi adalah bagian dari usaha untuk membentuk pribadi yang kuat,” kata Syamsul.

Nilai hidup yang juga penting dalam Islam adalah kesehatan itu sendiri. Sabda Nabi,“Sesungguhnya kesehatan dan waktu lapang adalah dua nikmat yang dianugerahkan Allah, (tetapi) banyak manusia yang tertipu (mengalami kerugian) di dalamnya” (HR ad-Dārimī, dan disahihkan oleh Ḥusain Salīm Asad). Hadis ini menegaskan bahwa kesehatan dan waktu senggang yang cukup merupakan nilai hidup yang penting karena merupakan nikmat yang dianugerahkan Allah. Hadis ini sekaligus mengingatkan agar orang tidak lengah menjaga dan memanfaatkannya secara tepat.

Nabi juga memerintahkan umat Islam untuk berobat. Dari Usāmah Ibn Syarīk (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Beberapa orang Arab pedalaman bertanya: Wahai Rasulullah, haruskah kami berobat? Rasulullah menjawab: Ya. Wahai hamba-hamba Allah, berobatlah, sesungguhnya Allah tidak membuat penyakit melainkan membuat pula penyembuh untuknya [atau ia mengatakan: obat] (HR at-Tirmiżī, dan menurutnya ini adalah hadis hasan sahih). Hadis lainnya, “Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit sekaligus obatnya. Oleh karena itu, berobatlah, namun jangan berobat dengan yang haram” (HR. al-Ṭabarānī).

Syamsul Anwar mengingatkan bahwa keadaan darurat yang terjadi hingga hari ini menuntut adanya upaya lebih maksimal untuk menghilangkan kedaruratan tersebut dengan cara menyegerakan dan memaksimalkan cakupan vaksinasi. Hal ini sesuai dengan kaidah fikih, bahwa kemudaratan (harus) dihilangkan.

Sikap Muhammadiyah tentang Vaksinasi

Ketua PP Muhammadiyah, dr Agus Taufiqurrahman Mkes, menyatakan bahwa Muhammadiyah telah melakukan jihad kemanusiaan untuk menghilangkan pandemi Covid-19 sejak awal, baik kegiatan preventif maupun kegiatan kuratif. Vaksinasi merupakan salah satu bagian dari usaha memutus matarantai Covid-19, namun bukan satu-satunya.

Dokter Agus menyatakan bahwa Muhammadiyah mendukung vaksin yang aman, efektif, dan halal, setelah melalui serangkaian uji klinis sesuai prosedur ilmiah. “Saat ini, vaksin sudah dinyatakan aman, evikasi sekitar 90 persen, dan dinyatakan halal oleh MUI,” ujarnya. Masyarakat diharapkan tidak perlu khawatir berlebihan terhadap vaksin ini. “Kita telah terbiasa dengan vaksin, sejak kita kecil. Bahkan untuk umrah atau haji, juga perlu v