Hidup Sepenuh Berkah

indahnya bersabar

Hidup Sepenuh Berkah

Hidup Penuh Berkah. Kita sering menyebut kata “berkah”, “mabruk” atau “barakah”, terutama saat berdoa dan mendoakan orang lain. Saat hendak memulai makan, kita berdoa Allahumma barik lana fiima razaqtana wa qina adzaban-naar. Saat ada yang menikah mereka kita doakan barakallahu laka wa baraka alaik wa jama’a bainakuma fi khair. Saat saya menyambut murid-murid saya di pintu gerbang (sebelum pandemic), saya sering pegang kepalanya sambil berdoa barakallahu laka.

Dalam kondisi apapun kita juga sering mendoakan saudara dan teman dengan ucapan “mabruk”, “semoga diberkahi”, dan sebagainya. Terlebih lagi jika lagi nge-chat di media social. Hanya saja, kebanyakan ucapan doa berkah itu diucapkan pada momentum yang menyenangkan atau mengandung kenikmatan. Misalnya, saat sedang baru punya anak, sedang mengadakan kegiatan, sukses dengan prestasi, dapat rezeki, dan sebagainya. Pada saat mendapatkan musibah atau kesusahan, hampir tidak ada yang mengucapkan “semoga menjadi berkah ya…” Padahal sangat mungkin itu diucapkan sebagao doa. Bagaimana mungkin?

Hingga di sini, pentingnya menyelami kembali makna “berkah”. Sebab, berkah inilah yang dicari oleh setiap muslim dalam hidupnya. Berkah dalam segala hal, baik pada dirinya, harta, kendaraan, rumah, waktu, istri, anak, ilmu, kawan, dan semuanya.

Kata berkah atau barakah berasal dari kata kerja yang merujuk kepada peristiwa yang terjadi pada masa lalu (fi’il madhi), baraka. Menurut Imam An-Nawawi, baraka itu tumbuh, berkembang, bertambah dan kebaikan yang berkesinambungan. Ar-Raghib Al-Asfahaniy memaknai kata ini dengan ats-Tsubut (ketetapan atau keberadaan) dan tsubut al-khayr al-ilahy (adanya kebaikan Tuhan). Atau, dalam istilah Imam Al-Ghazali, barakah itu ziyadatul-khair ala kulli syai’, bertambahnya kebaikan atas segala sesuatu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), berkah adalah “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia.”

Baca Juga:   Indahnya Bersabar

Dalam buku Durus al-‘Am, Syaikh Abdul Malik Al-Qasimi menjelaskan bahwa berkah atau barakah itu adalah

وَالْبَرَكَةُ هِيَ ثُبُوتُ الْخَيْرِ الْإَلَهِيْ فِي الشَّيْءِ. فَإِنَّهَا إِذَا حَلَّتْ فِيْ قَلِيْلٍ كَثَّرَتْهُ وَإِذَا حَلَّتْ فِيْ كَثِيْرٍ نَفَعَ

Barokah adalah adanya kebaikan yang berasal dari Allah pada suatu hal. Sesuatu yang sedikit jika mendapatkan keberkahan, berubah jadi terasa banyak. Sesuatu yang banyak jika mendapatkan keberkahan, terasa sangat besar manfaatnya.

Dari pengertiann ini saja, setidaknya ada tiga indicator bahwa sesuatu itu diberkahi. Pertama, sesuatu yang sedikit jika barakah terasa banyak. Umur pendek yang diberkahi adalah umur yang diisi dengan berbagai kebaikan dan menghasilkan banyak karya dan amal saleh. Imam An-Nawawi hanya berusia 43 tahun, tetapi karya-karyanya ratusan judul dan dikaji hingga sekarang oleh banyak ilmuwan dan ulama.

Harta sedikit yang penuh berkah adalah harta yang cukup dimanfaatkan untuk berbagai keperluan layaknya harta yang banyak. Ilmu yang berkah adalah ilmu yang membuahkan manfaat yang banyak bagi diri, keluarga dan masyarakat sekitarnya. Ilmu yang berkah berarti ilmu yang sedikit tapi diamalkan dalam keseharian.

Kedua, sesuatu yang banyak dan barokah akan membuahkan manfaat yang luar biasa. Ilmu agama yang banyak dan berkah akan memberi manfaat yang mendunia dan mendatangkan kebaikan bagi banyak orang. Umur panjang dan berkah akan membuahkan karya-karya (amal saleh) yang monumental dan besar manfaatnya bagi masyarakat luas.

Ketiga, dikatakan berkah karena sesuatu atau keadaan itu bisa mengantarkan seseorang pada kebaikan dan menambah kebaikan atau ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Pernikahan yang diberkahi adalah pernikahan yang mendatangkan kebaikan bagi pasangan suami dan istri. Bukan hanya pada saat senang dan dalam limpahan nikmat-Nya. Namun, pada saat susah dan berkekurangan pun bisa menjadi berkah, manakala kesusahan itu menjadikan keduanya sadar dan bertaubat atas kesalahan diri mereka. Setidaknya, hal itu akan menghindarkan keduanya dari jurang kenistaan dan kemadharatan. Keluarga penuh berkah adalah keluarga yang selalu mendorong semua warga rumah tersebut untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah.

Baca Juga:   Masuk Surga dengan Selembar Masker

Kendaraan penuh berkah adalah kendaraan yang selalu digunakan untuk hal-hal yang mendatangkan kebaikan. Pakaian penuh berkah adalah pakaian yang digunakan untuk menutup aurat dan mentaati perintah-Nya. Tidak untuk dipamerkan dan menumbuhkan sikap sombong dan bangga (ujub) dalam dirinya. Makanan yang berkah adalah makanan yang bisa mengantarkan seseorang untuk berbuat baik, bekerja dengan baik tanpa kecurangan, dan menyehatkan jiwa raganya.

Dengan demikian, keberkahan itu bukan hanya didapatkan ketika seseorang itu mendapatkan kenikmatan, kesenangan, rezeki, prestasi, juara, tetapi pada saat seseorang itu dirundung kesusahan, musibah, kesedihan, cobaan dan ketidaknyamanan. Sebab, tidak semua kesenangan dan kenikmatan itu akan menghadirkan kebaikan bagi seseorang, bahkan bisa menjerumuskan pada kemaksiatan kepada Allah. Sebaliknya, kesedihan dan ketidaknyamanan akan menjadikan seseorang sadar, bertaubat dan mendekatkan diri kepada Allah. Dan, justru inilah yang menjadikan seseorang mendapatkan berkah dari Tuhannya.

Semoga hidup dan kehidupan yang kita jalani ini senantiasa dipenuhi dengan berkah dari Allah. Berkah hanya datang dari kehendak dan ridha Allah, tidak dari manusia atau makhluk apapun. Seorang ulama dan semua orang hanya bisa mendoakan untuk memohonkan berkah dari Allah. Mereka tidak memiliki berkah. Wallahu a’lamu.

 

Oleh: Bahrus Surur-Iyunk, Penulis adalah Guru SMA Muhammadiyah I Sumenep.