Jihad Ekonomi Ala Elon Musk Vs Muhammadiyah

Jihad Ekonomi Ala Elon Musk Vs Muhammadiyah
Jihad Ekonomi Ala Elon Musk Vs Muhammadiyah

Jihad Ekonomi Ala Elon Musk Vs Muhammadiyah

Oleh: Deni al Asyari

Sejak namanya dinobatkan oleh Bloomberg Billionaires Index, sebagai orang terkaya di jagat dunia, Elon Musk, CEO Tesla sebuah perusahaan Otomotif berbahan listrik menjadi “gunjingan” banyak orang.

Tidak hanya soal kekayaannya yang berjumlah 197 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2.775 triliun. Namun keberadaan Elon Musk juga menjadi ancaman bagi perusahaan raksasa otomotif dunia yang masih berkutat dengan mengandalkan produksi mesin berbahan bakar minyak.

Namun di luar 2 isu di atas, hal menarik dari seorang Elon Mask adalah gayanya dalam “berjihad” membangun kerajaan bisnisnya. Ia menjadi sosok yang kontroversi dan melakukan banyak hal di luar kelaziman. Salah satu contoh adalah, tidak jarang ia kedapatan tidur di kantor dan tidak mandi beberapa hari.

Ketika ditanya ketidaklaziman tersebut, ia menjelaskan, bahwa ia tidak cukup waktu untuk mendongkrak inovasi dan penjualan produk-produknya. Karena bagi Elon Musk, untuk memastikan pengembangan produk dan peningkatan layanan, ia harus hadir di tengah-tengah tim pekerjanya.

Cara memimpin perusahaan bisnis dengan berada di belakang meja dan berkutat pada kerja-kerja rapat dan presentasi bukanlah cara yang produktif dan efektif. Sehingga dalam suatu waktu Elon Musk pernah mengkritik para bos-bos perusahaan besar di AS yang sibuk bekerja di belakang meja dan hanya mengandalkan rapat dan rapat.

Ini kemunduran dan kejumudan. Begitu kata Elon Musk. Baginya perusahan bisnis tidak hanya fokus pada angka-angka, namun juga yang lebih utama adalah peningkatan kualitas produk dan peningkatan pelayanan. Untuk melakukan dua hal ini, seorang pebisnis harus turun ke lapangan.

Bahkan ia mengkritik perusahaan-perusahan di Amerika yang banyak diisi lulusan sarjana dan bergelar MBA. Baginya, banyaknya CEO perusahaan yang bergelar MBA (Magister Business Administration), tidaklah bagus. Ia mengkhawatirkan para CEO lulusan sekolah bisnis itu hanya melihat angka demi angka dan kehilangan misi untuk membuat produk atau layanan yang hebat.

Baca Juga:   Dari Pelajar SMP Muh PK Kottabarat untuk Sulteng

“Masalah terbesar bagi perusahaan AS adalah terlalu banyak MBA di perusahaan terkemuka,” jelasnya.

Maka tidak heran, jika pria berusia 49 tahun ini, mengambil tenaga kerja, tidak mensyaratkan seorang sarjana. Baginya tidak terlalu penting sarjana dalam mengelola bisnis. Sebab banyak pendahulunya yang sukses, juga bukanlah seorang sarjana. Elon Musk mencontohkan kesuksesan pendiri Microsoft, Bill Gates, dan pendiri Apple, Steve Jobs, yang sama-sama tidak lulus kuliah namun bisa mengelola perusahaan teknologi dunia.

“Saya pikir kampus pada dasarnya adalah untuk bersenang-senang dan untuk membuktikan bahwa Anda bisa menyelesaikan pekerjaan rumah, tapi bukan untuk belajar,” tegas Elon Musk.

Apa yang dipikir dan dilakukan oleh Elon Musk tentu saja tidak populer. Tapi  cara itu telah membuat garis tangannya mampu menggantikan posisi Bill Gatess sebagai orang terkaya di dunia.

Barangkali, inilah bentuk jihad ekonomi ala Elon Musk. Sosok yang tidak pernah berada di jejeran orang-orang terkaya versi Forbes, melalui konsep jihadnya mengubah semuanya.

Salah satu point yang bisa ditangkap dari cerita ini adalah, selain jihad membutuhkan pikiran dan ide-ide inovatif terhadap produk dan layanan, jihad membutuhkan waktu dan energi yang bersifat total. Kebiasaan Elon Musk tidur di kantor, bahkan tidak mandi beberapa hari, menunjukkan totalitas seorang CEO otomotif listrik terbesar di dunia ini.

Namun bukan berarti kita harus melakukan apa yang dilakukan oleh Elon Musk. Paling tidak, spirit juangnya dalam melakukan Jihad Ekonomi dalam bentuk totalitas dan bersifat praktis perlu dijadikan budaya Jihad ekonomi di kalangan umat Islam khususnya Warga Muhammadiyah yang sedang gencar-gencar melakukannya.

Jihad tidak cukup dengan himbauan dan wacana, apalagi kalau hanya rapat dan rapat. Bahkan tulisan ini pun tidak terlalu perlu. Sebab jihad butuh pergerakan yang terorganisir dan bersifat praktis. Barangkali inilah agenda dan PR umat dalam membangun kerajaan bisnis berbasis jamaah ke depan.

Baca Juga:   Demo Buruh Tolak Ahok dan Tax Amnesty

Lantas bagaimana konsep Jihad Ekonomi versi Muhammadiyah? Lebih lengkapnya, dapatkan majalah SM edisi terbaru no 3.

Deni al Asyari, Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media/ Suara Muhammadiyah

Pemesanan Hubungi Bagian Sirkulasi 0819-0418-1912

Terdapat Juga Majalah SM Versi Digital
Download aplikasi SM Store
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.suaramuhammadiyah&hl=en_US
atau
Melalui website suaramuhammadiyah.or.id