Bangun Masjid di Australia, Warga Indonesia Ikut Berpartisipasi

Bangun Masjid di Australia, Warga Indonesia Ikut Berpartisipasi
Bangun Masjid di Australia, Warga Indonesia Ikut Berpartisipasi

Semalam saya dan beberapa warga Indonesia ikut menjadi panitia penggalangan dana pembangunan Masjid Omar Wollongong. Acaranya bertajuk “Fundrising-dinner” dirangkaikan dengan pelelangan barang-barang antik-berseni, cantik, dan berharga.

Acara dimulai setelah salat Ashar atau sekitar jam enam sore, bertempat di Panorama House, jalan raya Bulli-Sydney, atau sekitar 15 km dari pusat Kota Wollongong. Letaknya di atas perbukitan yang tinggi. Nampak jelas Kota Bulli dan sebagian Kota Wollongong. Semakin indah jelang malam, karena terlihat cahaya yang berkilau indah sepanjang mata memandang.

Dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an, sambutan ketua pengurus masjid, dan penjelasan pimpinan proyek. Setelah itu diadakan penggalangan dana dan pelelangan benda-benda yang sudah disiapkan panitia.

Sebagai panitia dengan memakai rompi khusus, bertugas membangikan brosur, kartu sumbangan dan mencatat nama-nama penyumbang. Juga mengatur hadirin atau undangan hingga duduk di kursi tamu kehormatan. Termasuk pula tugas kami adalah memantau pergerakan-pergerakan peserta. Protokol Covid-19 tetap diperhatikan, yang sudah lebih longgar dan leluasa, tidak seketat sebelumnya.

Subhanallah. Begitu penggalangan dimulai, seorang pria keturunan Arab langsung angkat tangan. Dia menyumbang dengan jumlah yang sangat pantastis. Sampai-sampai MC seolah tidak percaya dan minta diulang jumlahnya. Senilai satu koma enam milyar Rupiah. Jumlah yang sangat fenomenal dan luar biasa.

Seterusnya diusulkan pengakuan dari para undangan lainnya. Masing masing jumlahnya bervariasi. Ada yang seratus, dua ratus, hingga lima ratus juta. Ada pula yang dibawahnya, senilai tiga puluh, lima puluh, enam puluh juta. Sebelum salat Magrib, sudah terkumpul hampir lima milyar Rupiah.

Setelah salat Magrib di pelataran dapur restoran, sambil makan makan malam, pelelangan dimulai. Diantaranya yang dilelang adalah baju kaos bola yang ditandatangani langsung oleh tokoh-tokoh dunia. Ada tandatangan Messi, Rafael Nadal, Muhammad Salah dan Maradona. Harganya pun sangat mahal. Ramai peserta yang memberi penawaran tinggi.

Baca Juga:   Sunyoto Usman: Saatnya Pimpinan Muhammadiyah, Melek Teknologi

Seorang anak muda keturunan Arab, memenangi pelelangan kaos Maradona. Awalnya ditawari tiga puluh juta, naik menjadi empat hingga lima puluh juta. Akhirnya dia dengan riang gembira membeli kaos Maradona tersebut dengan nilai sekitar enam puluh juta Rupiah.

Kami dari warga Indonesia selain turut sebagai panitia, pun ikut mengumpul dana. Bendahara JPI, Mas Anton, ikut hadir menyerahkan sumbangan tersebut. Senilai sepuluh juta Rupiah lebih. MC sempat mengumumkan atas nama Komunitas Muslim Indonesia dan mengucapkan terima kasih.

Acara berlangsung hingga hampir tiga jam dan berakhir sekitar setengah sepuluh malam. Total sumbangan yang diperoleh sekitar sepuluh milyar Rupiah lebih. Ini sudah cukup untuk meneruskan pembangunan Masjid Omar Wollongong. Pembangunan masjid ini sudah berjalan hampir lima bulan dan telah menelan biaya sekitar tiga belas milyar.

Dengan adanya dana tambahan tersebut di atas, maka pembangunan masjid akan dilanjutkan dan diperkirakan selesai sebelum Ramadan 1422 H yang akan datang. Saat ini masjid lama masih ada di samping bangunan baru, adalah bangunan bekas rumah ibadah agama lain yang masih dipakai salat hingga sekarang.

Dalam catatan saya, Masjid Omar Wollongong ini akan menjadi salah satu masjid tercantik di Benua Kanguru, Australia. Tidak banyak masjid yang dibangun dari awal dengan arsitektur sesuai corak Islam. Ada memang yang seperti itu di Sydney, Melbourne, Adelaide dan lain-lain. Tapi tidak banyak.

Corak masjid yang banyak adalah berupa bangunan asli seperti rumah atau bangunan lain, serta bekas rumah ibadah non-Muslim. Biasanya rumah ibadah tersebut dijual kepada umat Islam karena tidak berguna lagi bagi mereka. Justru sebagian diantaranya sudah meninggalkan agananya atau bahkan sudah tidak beragama lagi. (Haidir Fitra Siagian)

Baca Juga:   Pertama di Indonesia, Perpustakaan UMS Ikuti Akreditasi secara Online