Petuah HM Yunus Anis: Jadi Orang Islam Jangan Pelit

HM Yunus Anis
HM Yunus Anis Foto Dok SM

Nama lengkapnya adalah Muhammad Yunus Anis, lahir di kampung Kauman, Yogyakarta 3 Mei 1903. Kemudian dikenal sebagai HM Yunus Anis. Ayahnya bernama Haji Muhammad Anis, seorang abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sejak kecil telah didik agama oleh orang tua dan datuknya sendiri. Terutama membaca Al-Qur’an dan pendidikan akhlak (budi pekerti).  Setelah tamat dari pendidikannya HM Yunus Anis aktif sebagai seorang mubaligh. Ia dikenal sebagai seorang organisator dan administrator.

HM Yunus Anis seorang tokoh pembaharu dalam Muhammadiyah. Pemikiran, sikap dan pandangannya membawa kearah kemajuan Islam. Agama dan pribadinya sangat kuat, ia berprinsip bahwa isi Al-Qur’an dan Hadits merupakan sumber kebenaran. Maka, dalam melakukan kegiatannya selalu mengarah dengan mencari hal yang benar, dan menolak kebatilan. Perhatiannya terhadap kegiatan sosial kemasyarakatan besar.

Terutama kepada anak yatim piatu dan fakir miskin. Menurut pendapatnya Islam harus memiliki peran aktif dalam segala bidang, termasuk dalam pemerintahan. Apa yang bertentangan dengan kebenaran Islam ditolaknya dengan tegas. Orang Islam diharapkan hidupnya mempunyai makna untuk nusa, bangsa, negara dan agama. Oleh karena itu, harta benda yang dimilikinya berfungsi sosial. Maka, beliau mengharapkan agar orang Islam tidak menjadikan dirinya hina dan tercela dalam kehidupan masyarakat.

HM Yunus Anis yang sejak kecil terdidik dalam lingkungan keluarga dan masyarakat muslim, maka pemahaman akan ajaran Islam benar-benar telah menjiwai pribadinya. Ia memiliki keyakinan yang mantap bahwa agama Islam merupakan wahyu dari Allah SwT, yang diturunkan melalui Nabi Muhammad saw. Agama Islam secara tegas dan jelas, memberi petunjuk antara yang halal dan yang haram. Agama Islam diyakini sebagai tuntunan dan pembeda antara yang boleh dilakukan dan yang dilarang. Wahyu Allah berupa Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang berisi perintah serta petunjuk untuk kebaikan maupun larangan-larangan kepada manusia akan hidupnya di dunia dan akhirat.

Baca Juga:   Rakyat Indonesia adalah Legenda

Menurut HM Yunus Anis, sabar yang dituntunkan dalam agama Islam bukanlah sekedar menahan diri dari emosi atau menahan marah. Tetapi hal ini bermaksud menahan diri dalam kebaikan daripada kejelekan. Atau melepaskan (membuang) nafsu dari yang terlarang (haram), yaitu tidak mendekati kejahatan (yang bathil). Sabar juga mengandung pengertian tetap tidak putus-putus dalam kemauan bekerja mencari yang benar dan meninggalkan yang bathil (haram) dengan menahan sekuat-kuatnya. Dalam kitab suci Al-Qur’an telah diterangkan bahwa sabar menunjukkan keteguhan hati, seperti yang dilakukan para rasul. Dan apabila kita ikuti perjalanan hidup para rasul ternyata dalam sehari-hari menempatkan ajaran-ajaran dari Allah SwT.

Petuah HM Yunus Anis

Dalam bidang ekonomi, HM Yunus Anis juga memiliki prinsip dan wawasan yang berlandaskan konsepsi Islam. Ia mengemukakan tentang manfaat ekonomi suatu bangsa. Ekonomi bagi suatu bangsa sangat diperlukan. Karena hal itu akan menjamin dan menentukan keteguhan serta kesejahteraan suatu bangsa.

Islam, dalam pemahaman HM Yunus Anis, mengajarkan supaya orang tidak boros dan pandai-pandai dalam membelanjakan hartanya, dan tidak membeli segala sesuatu yang kurang bermanfaat dalam kehidupannya. Orang tidak boleh hidup boros, karena hal tersebut menyebabkan mereka akan terjerumus dalam kehinaan. Orang Islam diajarkan jangan menjadi orang yang pelit, dan supaya menyadari bahwa harta kekayaan yang diperoleh sifatnya tidak langgeng, karena setiap saat dapat habis atau lenyap.

Rezeki yang diperoleh dari hasil usaha seseorang itu berfungsi juga dalam rangka melaksanakan ibadah kepada Allah SwT. Oleh karena itu rezeki itu disamping untuk memenuhi keperluan hidup sendiri juga untuk kesejahteraan bersama. Dalam Islam diajarkan supaya manusia mengumpulkan rezeki atau harta sebanyak mungkin. Namun, tidak lupa bahwa harta kekayaan yang diperoleh itu supaya dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya sesuai dengan fungsinya.  Demikian antara lain, apa yang dijadikan dasar bagi HM Yunus Anis dalam menjalankan kehidupannya.

Baca Juga:   Lantik PD IPM, Muhammadiyah Klaten Sampaikan 3 Pesan Bagi IPM dalam Berjuang

Konsepsi ekonomi dalam Islam telah tegas dasarnya, yaitu adanya keseimbangan,ialah keseimbangan antara yang mampu dengan si miskin; keseimbangan antara yang kuat dengan si lemah. Dengan demikian ekonomi merupakan nilai dasar yang kuat untuk membentuk kesejahteraan dan kedamaian hidup bersama. Sebagaimana telah disebutkan di depan bahwa konsepsi perekonomian menurut ajaran Islam membuat orang tidak kikir, hidup sederhana tidak berlebih-lebihan dan hemat. Keharmonisan dan keseimbangan antara hidup dunia dan akherat telah tersirat dan tersurat secara jelas di dalam ajaran Islam itu.

Dalam khutbah iftitah pada saat Muktamar Muhammadiyah ke-35, atau dikenal dengan Muktamar setengah abad, dia juga menyinggung masalah hisab dan rukyat untuk permulaan Ramadhan dan Idul Fitri, yang dari dulu belum ada kesatuan pendapat, tetapi di Indonesia kaum Muslimin saling menghormati.  Dalam hal ini, HM Yunus Anis mengatakan, dengan diadakannya hari libur dua hari legalah yang berlebaran menurut hisab dan yang berlebaran menurut rukyat. Sayang sekali, pada tahun ini, hari libur Idul Fitri dua hari dijatuhkan pada hari Idul Fitri menurut rukyat saja. Sedang yang berlebaran menurut hisab pada sebelumnya tidak libur, sehingga menimbulkan kehebohan. Mudah-mudahan untuk tahun-tahun yang akan datang tidak terjadi lagi seperti yang demikian itu bila kebetulan Idul Fitri tidak bercekcokan hisab dengan rukyat.

Dan, menurut kebijaksanaan pemerintah sekarang, penetapan hari raya selanjutnya harus disahkan lebih dahulu oleh Wampa sidang Kesejahteraan Rakyat. Begitu juga sholatul Id di tanah lapang (lapangan), yang sudah berlaku sejak lama. Dengan tidak ada perselisihan lagi bagi yang melakukannya di amsjid-masjid dan di tanah-tanah lapang, malah ada yang dapat bersatu dengan diadakan di masjid yang disambung dengan di alun-alun (tanah lapang) atau bergantian. Telah dihebohkan adanya larangan bahwa kalau sudah diadakan di masjid jangan ada lapangan di dekatnya yang digunakan untukmelakukan Sholatul Id.