Komitmen Muhammadiyah terhadap Kemanusiaan telah Dibangun Sejak Awal

kemanusiaan
Prof Syafiq Mughni Foto Dok SM

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Lembaga Hikmah dan Kerjasama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah kembali menggelar seri webinar yang ketiga bertema ‘Promotion of Muhammadiyah International Humanitarian Agenda and Problem Encountered’. Selain dihadiri oleh Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hubungan Antar Agama dan Peradaban, webinar LHKI juga dihadiri oleh Sudibyo Markus dari LHKI PP Muhammadiyah, Emma Leslie Direktur Center for Peace and Conflict Studies (CPCS) Kamboja, Hana Satriyo dari Asia Foundation, dan Trihadi Saptoadi dari Tahijah Foundation.

Ketua PP Muhammadiyah Syafiq Mughni menekankan komitmen Muhammadiyah terhadap kemanusiaan telah dibangun sejak awal pembentukannya. Selama ini Muhammadiyah juga telah memberikan tuntunan akan hal-hal yang berkaitan dengan muamalah antar manusia. Namun dirinya mengakui Muhammadiyah belum mengeksplorasi lebih dalam mengenai isu muamalah antar manusia dengan hewan ataupun lingkungan.

Meskipun demikian bukan berarti Muhammadiyah tidak memikirkannya. Problem kemanusiaan yang dihadapi oleh berbagai negara saat ini di antaranya seperti kemiskinan, pengungsii yang berasal dari negara-negara konflik di Timur Tengah, Komunitas Muslim Rohingya di Myanmar, peningkatan intensitas konflik juga bencana alam.

Dalam konteks mempromosikan agenda kemanusiaan internasional, Trihadi Saptoadi menegaskan bahwa, Muhammadiyah harus menetapkan sejumlah agenda prioritas khususnya yang berkaitan dengan isu keragaman budaya. Selama ini Muhammadiyah telah terlibat dalam sejumlah upaya perdamaian di negara-negara di Asia Tenggara seperi Filipina dan Thailand. Kedekatan budaya dan nilai-nilai membuat Muhammadiyah memiliki modal besar dalam keterlibatannya di negara-tersebut.

Namun apakah Muhammadiyah akan mencoba untuk melangkah ke negara-negara konflik lainnya seperti Afrika, misalnya. Selain itu, Muhammadiyah harus menetapkan prioritas antara programming presence atau organizational presence yang bersifat jangka panjang yang ditopang oleh kepemimpinan yang mumpuni dalam mempromosikan agenda internasionalnya. Trihadi menilai tidak banyak organisasi yang memiliki program dan agenda yang banyak layaknya Muhammadiyah.

Baca Juga:   Meningkatnya Pembangunan di Indonesia bukan Pembangunan Masyarakat

Oleh karenanya Hana Satriyo menekankan bahwa sudah merupakan keharusan bagi Muhammadiyah untuk terus menyebarluaskan gagasan ataupun best practice di ranah kemanusiaan yang telah dilakukan sebelumnya. Hal tersebut bagi Hana bukan menyiratkan bahwa Muhammadiyah bersikap ‘riya’ melainkan upaya Muhammadiyah untuk menjadi akuntabel dalam menjalankan misi kemanusiaannya.

“Muhammadiyah berhak untuk mendapatkan rekognisi dari komunitas internasional. Muhammadiyah harus menyebarkan pengalamannya ke komunitas intenasional khususnya dalam hal kemanusiaan,” terang Hana.

Seperti yang diutarakan oleh Emma Leslie, kehadiran Muhammadiyah di tengah pihak-pihak termasuk negara-negara barat yang turut berupaya dalam mewujudkan perdamaian setempat, sangat penting dalam proses perdamaian bangsa Moro. Sebagai negara yang memiliki kedekatan geografis juga budaya. “Salah satu tantangan Muhammadiyah adalah bagaimana membangun kemitraan dalam mempromosikan program kemanusiaan internasionalnya.” (Th)