Refleksi Al-Baqarah Ayat 26-27 Masa Pandemi Covid-19

Al-Baqarah Ayat 26
Foto Dok Ilustrasi

Refleksi Al-Baqarah Ayat 26-27 Masa Pandemi Covid-19

Oleh: Inggriane Puspita Dewi

Gelombang pandemi Covid-19 sudah kita rasakan sejak bulan Maret 2020. Kita melihat semakin hari, peningkatan kasus ini semakin tinggi. Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk mencegah penularan serta peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia, namun jika tidak diiringi oleh kesadaran masyarakat akan pentingnya upaya ini, maka semua akan sia-sia.

Setiap hari kita mendengar berita gugurnya saudara, kerabat, atau teman sejawat akibat penyakit ini, tidak sedikit pula orang-orang yang kemudian Allah Ta’ala uji dengan penyakit ini mengalami kegelisahan, ketakutan bahkan tekanan batin (stress) sehingga mengakibatkan perburukan kondisi yang dialami. Ketakutan ini tidak hanya dialami oleh mereka yang menderita secara langsung akibat penyakit ini, namun juga bagi kami sebagai tenaga kesehatan, serta anggota keluarga bahkan tetangga yang mengetahui adanya penderita Covid-19 di lingkungannya, menjadi sumber kekhawatiran itu sendiri.

Ketika kemudian saya berupaya mencerna, merenungi, apa sebenarnya yang Allah Ta’ala kehendaki dengan kejadian pandemi ini? karena tidak sedikit orang yang saya kenal begitu baik dan menjaga kesehatan, akhirnya gugur juga akibat penyakit ini ? apakah Allah Ta’ala tidak adil ? apakah Allah Ta’ala sedang menghukumi kami yang sering bodoh dan lalai sebagai manusia yang bertugas sebagai khalifah-Nya di bumi ? masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang ingin saya tujukan pada-Nya ?

Kemudian satu hari Allah Ta’ala menggerakan tangan saya untuk membuka Al-Qur’an tepat di surat Al-Baqarah ayat 26-27, yang artinya: “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”

Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itu-lah orang-orang yang rugi”.

Saya pun tertegun dan berusaha mencari tafsir dibalik ayat tersebut. Berikut tafsir ayat tersebut menurut Sayyid Qutb dalam Fi-Zhilalil Qur’an dan mencoba menarik hikmah dengan kejadian pandemi saat ini.

Baca Juga:   IMM Itu Cendekiawan Berpribadi

Covid-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, yaitu virus jenis baru dari coronavirus (kelompok virus yang menginfeksi sistem pernapasan). Virus ini memiliki diameter 0,1 mikrometer partikel SARS-CoV-2, amat sangat kecil seperti butiran debu halus, sehingga makhluk ini jelas lebih kecil dari nyamuk seperti yang Allah Ta’ala sebutkan pada ayat diatas. Menurut Sayyid Qutb, kemukjizatan ini sebagai bukti bahwa Allah Ta’ala maha menciptakan makhluk besar maupun kecil.

Pelajaran pada pemisalan ayat 26 diatas, bukanlah terletak pada ukuran dan bentuk makhluknya itu sendiri, tetapi pemisalan itu hanyalah sebagai sarana pencerahan (tanwir) dan pembukaan  mata hati (tabshir). Tidak perlu ada yang dicela dalam pemisalan itu, termasuk mencela virus penyebab penyakit ini menurut saya. Maka kemudian muncul dua sikap terhadap pemisalan tersebut, yaitu sikap yakin bagi orang-orang beriman namun sebaliknya bagi orang-orang fasiq.

Tanwir dan tabshir terhadap kejadian pandemi Covid-19  bagi orang yang beriman, menjadikan mereka siap menerima semua yang datang dari-Nya, sesuai dengan kemulian-Nya serta hikmah yang mereka ketahui. Karena iman ini telah menganugerahi cahaya di hati mereka, kepekaan ruh, keterbukaan daya nalar, senantiasa kontak dengan hikmah ilahiyah dalam setiap persoalan.

Maka hari ini kita melihat, seiring gelombang pandemi ini, tidak sedikit kemudian orang-orang yang tergerak hatinya untuk membantu sesama mencegah penularan, menjalankan protokol kesehatan atas kesadaran sendiri, berprilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), berderma seperti pesan surat al-ma’uun untuk membantu meringankan beban ekonomi yang terdampak Covid-19 ini. Pun ketika akhirnya dihadapkan pada kematian, ia memandang kematian itu bukanlah akhir dari segalanya atau sebagai aib tercela dalam hidupnya, justru ia sebagai gerbang bertemu dengan tambatan hatinya, Allah Ta’ala yang senantiasa ia rindukan.

Baca Juga:   Menghadapi Covid-19 Perlu Strategi dan Kemitraan

Sayyid Qutb juga menyatakan sikap orang fasiq, ketika dihadapkan pada suatu persoalan, ia dapat mengakibatkan kerusakan akibat perbuatannya. Kerusakan di muka bumi sangat beragam bentuknya, namun semua bermula dari kefasikan (penyimpangan) dari kehendak dan perjanjian dengan Allah Ta’ala, yaitu beriman hanya kepada-Nya.

Mari kita renungkan sejenak, tidak sedikit orang yang menganggap bahwa kejadian pandemi ini sebagai sesuatu yang dianggap enteng, sehingga kepedulian dirinya terhadap upaya pencegahan dan penularan penyakit amatlah rendah, perilaku ini dapat membahayakan lingkungannya, namun tidak sedikit pula yang memandang pandemi ini secara berlebihan sehingga menimbulkan stress, hingga menggugat Allah Ta’ala atas kejadian sakit yang menimpanya, memutuskan silaturahmi bahkan memberikan stigma negative bagi penderita penyakit ini, termasuk terhadap kejadian kematian itu sendiri. Bisakah kemudian kita menjamin bahwa kita yang masih hidup lebih baik amalannya dari mereka yang sudah dipanggil oleh-Nya?

Manakah sikap yang akan kita tanamkan dalam diri kita menghadapi pandemi ini ? yang sangat sulit kita prediksi kapan pandemi ini akan berakhir. Bagi seorang mukmin, keadaan sehat, sakit, kematian adalah sama kedudukannya, ia menjadi rezeki baginya juga jalan menuju kemulian dirinya di hadapan sang Khalik, maka sikap bersyari’at dalam upaya pencegahan dan penularan penyakit ini menjadi kewajiban baginya, namun ketika Allah memiliki kehendak lain, seperti sakit dan kematian, maka itupun akan ia pandang sebagai bentuk kasih sayang Allah kepadanya, karena kita memiliki keterbatasan pengetahuan, manakah yang lebih baik bagi kita, keadaan sehat, sakit atau kematian yang dapat menghantarkan kita pada ridlo-Nya.

Inggriane Puspita Dewi, dosen di UNISA Bandung Fakultas Ilmu Kesehatan, saat ini memegang amanah di LPPI (lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam) UNISA Bandung