Problematika Interaksi Sosial

Problematika Interaksi Sosial

Oleh: Safwannur

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرْهُ وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِي اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهدُ أَنْ لاَ إَلَهَ إِلاّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلَا رَسُوْلَ بَعْدَهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى رَسُوْلِ اللَّهِ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ وَلآَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.

 قَالَ تَعَالَى: فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُوْلُوْا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلاَ تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ… (الأحقاف: 35)

وَ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: المُؤْمِنُ الَّذِيْ يُخَالِطُ النَّاسَ وَ يَصْبِرُ عَلىَ أَذَاهُمْ  أَفْضَلُ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِيْ لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ (رواه  ابن ماجه و أحمد و البيهقي).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak mungkin bisa menjalani kehidupan tanpa bersentuhan dengan manusia lain. Interaksi sosial mutlak adanya dalam keseharian manusia. Interaksi sosial dapat menumbuhkan ukhuwah Islamiyah dan persatuan yang kokoh. Namun perlu disadari bawa kita akan menghadapi beragam karakter umat manusia dalam pergaulan, baik yang menyenangkan maupun yang menjengkelkan. Begitu lah adanya realita kehidupan yang harus kita jalani.

Hidup di lingkungan yang baik bersama dengan orang-orang baik adalah sebuah anugerah terindah bagi manusia. Suasana kehidupan yang saling membantu satu sama lain, saling menasehati, saling menguatkan di kala ada yang tertimpa musibah, kompak dalam melakukan kebaikan, adalah gambaran kehidupan yang menjadi dambaan setiap insan tentunya. Kita akan merasa tenteram dan bahagia menjalani kehidupan dalam kondisi seperti ini.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Kebaikan dan keburukan adalah hal yang pasti ada dalam kehidupan. Mustahil kalau dalam kehidupan kita hanya menjumpai orang-orang yang baik saja. Suatu saat kita siap jika berhadapan dengan orang yang berperangai buruk. Sikapnya mungkin mengganggu kenyamanan hidup kita dengan berbagai tindakan buruknya. Ada yang menyakiti hati kita dengan hinaan dan caciannya, menebarkan fitnah dan adu domba untuk mencemarkan nama baik kita. Kadang juga meneror kita secara fisik atau verbal, baik yang dilakukan secara terang-terangan atau tersamar melalui dunia maya.

Baca Juga:   Membentuk Generasi Qurrata A’yun

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi berdampak pada kejahatan digital yang dilakukan pihak-pihak yang salah memanfaatkan teknologi. Si pelaku meneror korbannya mengirimn sms atau pesan whatsApp gelap yang berseliweran secara liar di telepon genggam yang kita miliki mulai dari penipuan undian berhadiah, ancaman, sampai kiriman gambar atau video yang tidak senonoh tanpa kenal waktu bahkan kadang menggunakan foto frofil orang yang kita kenal dengan maksud untuk mengadu domba. Akibat dari pada itu, waktu istirahat kita terganggu, tidak nyaman dalam menjalankan aktivitas, merasa terancam, jadi saling curiga antar sesama rekan kerja karena ulah si pelaku teror yang menggunakan profil rekan kerja kita.

Dalam kondisi seperti ini, tentu sebagai orang beriman kita harus mengedapankan rasa sabar sebagaimana sabda rasulullah saw:

عن ابن عمر : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: المُؤْمِنُ الَّذِيْ يُخَالِطُ النَّاسَ وَ يَصْبِرُ عَلىَ أَذَاهُمْ  أَفْضَلُ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِيْ لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ (رواه  ابن ماجه و أحمد و البيهقي).

“Seorang mukmin yang bergaul dengan umat manusia, lalu tabah menghadapi segala kesulitan dari mereka, memperoleh pahala lebih besar dibanding mukmin yang tidak pernah bergaul dengan umat manusia dan tidak pernah merasakan ketabahan terhadap gangguan mereka”. (H. R. al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman VII/127 no. 9730)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Selain bersabar atas hal yang tidak mengenakkan yang kita alami, kita juga berusaha mendoakan pelaku agar insaf dan bertobat dari perbuatannya itu. Mudah-mudahan hatinya terbuka dan menyadari bahwa perbuatannya itu salah dalam pandangan agama dan Negara. Sepandai-pandainya dia menyembunyikan kesalahannya lama kelamaan akan terbongkar dengan sendirinya. Bila itu terbongkar, maka itu akan menjadi aib bagi diri dan keluarganya. Selain itu juga akan menerima sanki social dari masyarakat sekitarnya.

Baca Juga:   Islam dan Pelestarian Lingkungan

Kemudian kalau dirasa aksi teror itu dapat mengganggu stabilitas lingkungan kerja dan jiwa merasa terancam, sebagai warga yang tinggal di negara hukum, kita dapat menempuh jalur hukum dengan melaporkan kepada pihak berwajib untuk diusut dan agar menjadi pelajaran bagi si pelaku untuk tidak mengulangi lagi perbuatan tercelanya itu. Tentu ini lebih elegan daripada kita membalas keburukannya dengan keburukan serupa. Biar lah pihak berwajib yang menanganinya secara profesional sesuai dengan hukum yang berlaku.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Tatkala mengalami hal yang tidak mengenakkan dalam pergaulan, maka kita bisa mencontoh sikap baginda nabi saw dalam menghadapi berbagai penistaan yang dilancarkan para kaum musyrikin terhadap diri beliau. Bahkan salah satu paman beliau menjadi orang sangat membenci risalah dakwah, yaitu Abu Lahab yang berkolaborasi bersama istrinya, Ummu Jamil untuk senantiasa menghalangi dakwah nabi dengan berbagai cara. Mulai dari memprovokasi massa yang menghadiri dakwah nabi sampai memasang ranjau di jalan-jalan yang biasa dilalui nabi untuk berdakwah dengan maksud ingin mencelakai beliau. Tapi beliau tetap bersabar dan tak pernah mengendorkan spirit dakwah yang diemban.

Demikian juga ketika berdakwah ke Thaif, alih-alih mendapatkan sambutan hangat, malah lemparan batu yang bertubi-tubi mengenai tubuh beliau yang mulia disertai dengan cacian dengan kata-kata kotor. Geram dengan aksi penistaan tersebut malaikat menawarkan untuk menimpakan gunung ke atas seluruh penduduk Thaif agara mereka lenyap sebagai balasan atas kejahatan mereka. Tetapi hal itu ditolak oleh nabi, bahkan beliau mendoakan mereka:

اللهمَّ اهْدِ قَوْمِ فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Ya Allah berilah petunjuk kepada kaumku karena mereka tidak mengetahui.”

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Mudah-mudah kita senantiasa diberi kesabaran oleh Allah dalam menghadapi berbagai problematika dalam interaksi sosial. Masalah pasti akan kita hadapi dan semuanya pasti ada solusi. Jangan sampai kita tidak mau berinteraksi dengan sesama hanya karena ada segelintir orang yang berkarakter tidak baik. Semoga saja kita bisa menjadi wasilah untuk membuat mereka bisa berubah menjadi lebih baik.