Sinar Peradaban ‘Aisyiyah di Selatan Jawa Tengah

RSU Muhammadiyah Siti Aminah Bumiayu
RSU Muhammadiyah Siti Aminah Bumiayu

Sinar Peradaban ‘Aisyiyah di Selatan Jawa Tengah

Oleh: Hazmi Annisatul Alfiah

Hadirnya ‘Aisyiyah turut berkontribusi dalam rangka upaya liberasi terhadap kaum perempuan dari budaya atau etik yang membuat kemunduran bagi mereka. Image bahwa tugas perempuan hanya dapur, sumur dan kasur ditentang habis oleh budaya yang dikembangkan oleh Aisyiyah dengan berbasis agama dan ilmiah.

‘Aisyiyah menentang diskriminasi budaya terhadap perempuan bukan hanya dengan narasi perlawanan saja, lebih dari itu sebagai sebuah perkumpulan perempuan, Aisyiyah berjuang melalui sikap dan bukti konkret untuk melepaskan kungkungan diskriminatif terhadap perempuan. Menurut Chamamah Soeratno, alumni Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Prancis, Meski Aisyiyah bukanlah satu-satunya organisasi dari kalangan perempuan, namun modernitas perempuan Indonesia baru benar-benar hadir dan dirasakan saat adanya Muhammadiyah melalui Aisyiyah.

Saat ini, ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan berhasil memantapkan dirinya dalam kontestasi pergerakan nasional dan global. Selain itu, sebagai organisasi perempuan Islam tua, Aisyiyah masih tetap menjaga eksistensinya sampai sekarang. Terlebih lagi kontribusi ‘Aisyiyah  terhadap bangsa dan negara tidak terhitung jumlahnya, baik dalam pendidikan, kesehatan maupun sosial.

Misal dalam pendidikan, seperti didirikannya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-kanak (TK), sampai dengan Perguruan Tinggi Aisyiyah (PTA) diberbagai daerah. Lalu Aisyiyah juga bergerak dalam pelayanan kesehatan, seperti klinik, dan rumah sakit. Serta panti sosial yang tersebar di berbagai pelosok negeri.

Salah satu bukti masifnya kontribusi pergerakan aisyiyah dirasakan pula di bagian selatan dari Kabupaten Brebes tempat saya tinggal, yaitu kecamatan Bumiayu. Sebagai daerah pinggiran yang memiliki akses cukup jauh dari ibu kota Pemerintahan Kabupaten, pasti memiliki keterbatasan sarana dan fasilitas bagi masyarakat. Baik dalam bidang pendidikan, sosial maupun kesehatan.

Baca Juga:   Lazismu Jemput Petani Karawang yang Sakit dari RSIJ Cempaka Putih ke Tanah Abang

Maka, dalam keterbatasan ini, ibu-ibu aisyiyah di daerah saya melakukan upaya yang tergolong sangat progresif. Salah satunya upaya tersebut adalah menginisiasi munculnya pelayan kesehatan yang kemudian menjadi Rumah Sakit Umum Muhammadiyah Siti Aminah di Bumiayu saat ini. Hal tersebut merupakan respon cepat ibu-ibu aisyiyah Bumiayu untuk berkontribusi membantu umat dan seluruh lapisan masyarakat.

Sejarah Singkat

Meski bernama Rumah Sakit Umum Muhammadiyah Siti Aminah, ternyata cikal bakalnya berasal dari Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) Aisyiyah Bumiayu. Dalam laporan wawancara sejarah berdirinya RSU Muhammadiyah Siti Aminah Bumiayu milik Pimpinan Cabang Aisyiyah Bumiayu, diketahui bahwa aisyiyah mengupayakan berdirinya pelayanan kesehatan di Bumiayu sejak tahun 1970-an.

Pada saat itu kondisi perjuangan ortom baik di Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) maupun Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) berlangsung keras karena kondisi yang tidak mudah seperti saat ini. Saat itu Aisyiyah ingin mendirikan amal usaha dalam bidang pelayanan kesehatan. Lalu Pimpinan Cabang Aisyiyah melakukan silaturahmi dengan Hj. Aminah Djamali yang merupakan salah satu tokoh dermawan di Bumiayu saat itu. Dan gayung pun bersambut, karena memang beliau telah lama ingin mewakafkan tanah ke Aisyiyah untuk didirikan amal kesehatan.

Hj. Aminah menyampaikan kepada H. Nawawi didampingi ibu-ibu Pimpinan Cabang Aisyiyah Hj. Fatma hasyim dan Hj. Saadah solihin (serta tokoh-tokoh lain di Bumiayu saat itu, seperti K.H. Nasucha, Hj. Alfiah, Hj. Khotiah Djamali, Hj. Khodijah Muhaimin dan lain-lain) untuk membantu kebutuhan, baik bangunan maupun peralatan agar berdiri amal usaha kesehatan berupa BKIA Aisyiyah. Karena memang pada saat itu belum ada tenaga medis dan alat-alat kesehatan yang cukup dan baru ada seorang bidan yg siap untuk mengabdi di amal usaha tersebut. Atas dukungan itu sarana dan fasilitas mulai terealisasikan meski masih ala kadarnya.

Baca Juga:   Saatnya IMM Menjawab Tantangan Zaman

Pada awal berdirinya, belum ada pasien yang mau melahirkan di BKIA milik Aisyiyah, karena memang itu adalah hal yang asing di tengah masyarakat. Akhirnya Pimpinan Cabang Aisyiyah melakukan strategi dan pendekatan kepada ibu-ibu hamil untuk melahirkan di BKIA Aisyiyah. Seperti penyuluhan kepada ibu-ibu hamil, memberikan hadiah bagi yang mau melahirkan di BKIA Aisyiyah dan inovasi lainnya.

Karena semakin banyaknya pasien dan masyarakat yang mempercayai BKIA Aisyiyah, lalu kebutuhan akan tempat yang lebih luas pun semakin tidak terelakan. Pada momentum ini ibu-ibu Aisyiyah juga menunjukkan ketangguhannya. Meski dana tidak ada mereka memiliki niat kuat untuk mengembangkan amal usaha ini. Iuran yang tidak sedikit, serta mencari bantuan dari tokoh-tokoh yang dermawan membuat Aisyiyah mampu membesarkan BKIA menjadi sebuah rumah sakit yang cukup megah di kawasan selatan Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Keberhasilan ini bukan sekadar keberuntungan belaka, ada banyak keringat, air mata dan cinta yang dikorbankan. Tetapi itu semua ditujukan untuk mencapai keridhaan Allah SWT. Pada akhirnya usaha-usaha ibu-ibu Aisyiyah tersebut membuahkan hasil yang luar biasa hingga bisa berkembang pesat sampai saat ini.

Perempuan Sinar Peradaban

Adanya RSU Muhammadiyah Siti Aminah yang berasal dari Balai Kesehatan Ibu dan Anak rintisan ibu-ibu Aisyiyah di tengah daerah Bumiayu yang berada jauh di selatan pemerintahan Kabupaten Brebes menjadi bukti bahwa sebagai organisasi, Aisyiyah tidak diragukan lagi militansi dan loyalitasnya terhadap perjuangan mengangkat harkat martabat perempuan.

Perempuan bukanlah makhluk rapuh sebagaimana mindset kebanyakan orang yang terpatri budaya patriarki. Perempuan juga memiliki kemampuan dan hak untuk bisa berjuang bagi kemajuan bangsa dan peradaban layaknya laki-laki. Bahkan, dengan karakteristik perempuan yang telah dianugerahkan Allah kepadanya merupakan modal kuat dalam perjuangan.