Cinta dan Kasih Sayang Guru Kepada Murid

dakwah mencerahkan kebencian
Ketua PDM Kota Tegal

Cinta dan Kasih Sayang Guru Kepada Murid

Alif Sarifudin Ahmad

Dalam Kitab kitab Al-Jamiul Ash-Shoghir jilid 2 kitab yang berbahasa Arab karya Jalauddin Abdurrahman Ibn Abu Bakar As-Suyuthi pada halaman 31 disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

سَبْعٌ يَجْرِي لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ، وهُو فِي قَبْرِهِ، مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا، أَوْ اجرَى نَهْرًا، أَوْ حَفَرَ بِئْرًا، أَوْ غَرَسَ نَخْلا، أَوْ بَنَى مَسْجِدًا، أَوْ وَرَّثَ مُصْحَفًا، أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ

“Ada tujuh (amalan) yang pahalanya terus mengalir untuk seorang hamba setelah ia dikuburkan (meninggal): (1) seorang yang mengajarkan ilmu, (2) membuat pengairan (untuk umum), (3) menggali sumur, (4) menanam pohon kurma, (5) membangun masjid, (6) membagikan atau mewariskan mushaf, dan (7) meninggalkan anak yang senantiasa memohon ampunan baginya setelah kematiannya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Al Bazzar dalam Musnadnya (13/483-484/no. 7289), Ibnu Hibban dalam Al Majruhin (2/247), dan Abu Nu’aim dalam Hilyat Al Auliya (2/343-344), semua riwayat tersebut berporos di Abu Nu’aim An Nakha’i, dari Muhammad bin Ubaidullah Al ‘Arzami, dari Qatadah, dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu.

Pada hadis di atas, penulis akan fokuskan kepada yang pertama yaitu mngajarkan atau mengamalkan ilmu. Mengajarkan atau mengamalkan ilmu yang bermanfaat itu dapat dilakukan baik melalui pendidikan formal maupun nonformal. Kegiatan yang dapat dilakukan seperti diskusi, ceramah, dakwah, dan sebagainya. Termasuk dalam kategori ini adalah berdakwah dengan youtube, me­nulis buku yang berguna dan mempublikasikannya.

Ilmu yang bermanfaat sebagaimana ditawarkan dalam Kitabul Ilmi karya Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin harus memenuhi 12 kriteria dalam adabnya, yaitu: 1. Niat yang ikhlas, 2. Menghilangkan kebodohan, 3. Membela syariat, 4. Berlapang dada, 5. Mengamalkan, 6. Berdakwah, 7. Hikmah, 8. Sabar, 9. Memuliakan ahli ilmu (guru atau ulama). 10. Berpegang teguh kepada Alquran dan Hadis, 11. Meneliti dan keuletan, 12. Bersungguh-sungguh dalam memahami Alquran dan Hadis.

Sebagai pendidik yang beriman dan didasari nilai-nilai agama, Guru yang baik diharapkan mempunyai cinta dan kasih sayang kepada murid-murid dengan dibekali 12 kriteria di atas. Apabila 12 kriteria sebagai bekal tersebut bisa dimiliki oleh guru maka tidak menutup kemungkinan guru akan berhasil mendidik anak-anak didiknya yang dikemudian hari, murid-muridnya tersebut akan menebarkan kebaikan pada masa yang akan datang karena memiliki bekal seperti yang telah diberikan gurunya dalam cinta dan kasih sayangnya.

Pertanyaannya adalah, kalau selama ini banyak murid atau siswa yang jauh dari kriteria tersebut seperti banyaknya kenakalan pelajar, tawuran di mana-mana, atau murid yang berani melawan gurunya, dll. Apakah selama ini guru belum maksimal dalam memiliki bekal di atas? Kata sebagian orang, anak itu tergantung cetakannya. Berarti keberadaan murid tergantung gurunya. Entahlah pernyataan ini sepertinya tidak selamanya benar karena kondisi lingkungan dan zaman milenial yang bisa memicu kenakalan pelajar. Ganasnya persaingan global bahkan berita-berita dn informasi yang ditayangkan oleh dunia entertainmen juga telah mempengaruhi watak atau karakter dari pelajar.

Di zaman pandemi seperti ini cinta dan kasih sayang guru terhadap muridnya sangat diharapkan. Oleh karena itu penulis mengajak kepada semuanya yang terlibat dalam dunia pendidikan khususnya guru, murid, dan orang tua agar bersama-sama berpikir cerdas dan tuntas untuk masa depan generasi kita yang lebih mencerahkan.

Guru dalam bahasa Inggris, dikenallah kata Teacher. Kata Teacher mempunyai padanan atau akronim Talented atau berbakat, Elegant atau meyakinkan, Awasome atau mengagumkan, Charming atau sangat menarik, Helpful atau bermanfaat, Efficient atau tepat guna, Receptive atau cepat memahami atau cepat menerima ide baru atau berinovasi.

Baca Juga:   Guru Harus Tingkatkan Kompetensi IT sebagai Alat Kerja

Dari padanan kata tersebut, seorang guru ditunggu bakatnya untuk menebar cinta dan kasih sayangnya kepada murid. Guru diharapkan bisa meyakinkan kepada murid bahwa dengan ilmu murid bisa menggenggam dunia. Dan seorang guru dalam kreatifitasnya bisa mengagumkan, menarik, dan bermanfaat, serta tepat guna bagi murid-muridnya.

Dengan demikian guru dalam praktik mengajar bisa mewujudkan rasa cinta dan kasih sayangnya kepada murid-murid terutama ketika keadaan seperti ini, yakni pembelajaran masih menggunakan sistem daring atau online sehingga bisa memberikan pencerahan. Apalagi pada saat pembelajaran tatap muka nantinya, keberadaan guru ditunggu kreatifitas dan inovasnya yang lebih mencerahkan dan berkemajuan.

Pada tulisan ini, merujuk kata guru dalam bahasa Arab, sedikit banyak diharapkan eksistensi guru bisa memberi solusi dalam dunia pendidikan zaman milenial ini. Dalam bahasa Arab ada istilah Mudarris. Mudarris berasal dari perkataan arab yang bermaksud mengajar ataupun pengajaran. Pendidik hendaklah bertanggunjawab menyampaikan ilmu yang ada padanya kepada pelajarnya yang berupa membina pemikiran, rohani, jasmani, emosi dan juga sosial. Apa yang diketahuinya hendaklah disampaikan karena kerja pengajaran adalah sebahagian daripada amal soleh. Manakala enggan menyampaikannya maka guru telah melakuakan satu kesalahan.

Setelah kata Mudarris ada kata Muallim. Pendidik sebagai mualim bisa didefinisikan sebagai mengajar atau menyampaikan limu kepada orang lain dan mengamalkan apa yang disampaikan di samping berusaha menambah ilmu pengetahuan. Muallim mempunyai rasa belas kasihan kepada pelajar dan menganggap mereka seperti anak sendiri. Sebagai Muallim dalam mengajar, guru bekerja semata-mata karena Allah Subhanahu Wataala dan bukannya semata karena honor, gaji, atau tunjangan sertifikasi

Kata ketiga adalah Murabbi. Murabbi bermaksud memperbaiki, memimpin dan mentadbir. Pendidik sentiasa menyayangi pelajar dan menasihati serta membimbing dalam pembentukan syahsiyah mereka. Pendidik juga adalah konselor dan penyebar nilai budaya yang indah dan menjadi contoh sekaligus peraga kepada pelajar.

Kata keempat adalah Muaddib. Muaddib bermaksud mendidik ke arah memperbaiki akhlak pelajar. Pendidik yang muaddib merupakan individu yang bertanggungjawab dan melaksanakan pendidikan peradaban dalam pengertian yang luas dan mendalam terhadap peribadi dan kehidupan pelajar. Muaddib artinya seorang guru dalam memberi ilmu dan mendidik mereka harus diserta akhlak dan adab yang baik. Pendidik juga mendidik pelajar agar tidak merendahkan ilmu pelajaran lain selain dari yang diajar olehnya. Pendidik mendidik pelajar melalui akhlak yang baik daripada hanya penyampaian secara teori saja.

Kata kelima Mursyid. Pendidik yang mursyid artinya sebagai penuntun jalan hidup yang benar dan betul dengan nilai dan sikap yang benar dan berperanan sebagai hamba Allah dan khalifahNya di muka bumi. Mursyid menunjukkan kepada jalan yang benar dari sudut ilmu kesufian dan memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus. Pendidik mempunyai tingkah laku baik dan terpuji, bersih dari akhlah tercela, tidak taasub atau fanatik, zuhud pada amalan dan perbuatan serta mempunyai ghirrah kepimpinan. Syarat untuk menajdi pendidik yang mursyid ialah seorang guru harus alim dari segenap disiplin ilmu, menyimpan atau menutup keaiban pelajar-pelajarnya dan pengajaran terkesan di dalam hati pelajar.

Dari ciri-ciri seorang pendidik unggul seperti di atas perlulah diamalkan secara terus menerus dan dengan penuh iltizam. Pendidik perlu memiliki sifat mendidik pelajar semata-mata karena Allah, berkepribadian mulia, menjaga kehormatan diri, memiliki ilmu dan aturan yang didasari kasih sayang. Bukan itu saja ciri-ciri ini perlu diamalkan dan dikolaborasikan dari semua aspek termasuk kepemimpinan, profesionalisme, tingkahl aku, pembudayaan kualitas dan pengabdian kepada masyarakat atau dalam bahasa agama dinamakan dakwah.

Baca Juga:   IMMawan untuk Immawati Antara Kolaborasi dan Jalan Dakwah

Dengan demikian langkah memelihara kemampuan seorang pendidik adalah Mendidik karena mencari keridaan Allah SWT.S eorang pendidik perlu memastikan niatnya untuk bersifat ikhlas terhadap Allah SWT dalam segala amal pendidik yang dilakukannya. Allah telah berfirman dalam Alquran surat Al-Bayyinah ayat 5,

 وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَ‌ٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ [٩٨:٥]

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Hal ini dikuatkan lagi dengan sabda Rasulullah SAW. Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu Anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

Hadis ini menjelaskan bahwa setiap amalan benar-benar tergantung pada niat. Kemudian yang perlu ditekankan adalah setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang ia niatkan. Balasannya sangat mulia ketika seseorang berniat ikhlas karena Allah, berbeda dengan seseorang yang berniat beramal hanya karena mengejar dunia seperti karena mengejar tahta, harta, dan wanita. Dalam hadis disebutkan contoh amalannya yaitu hijrah, ada yang berhijrah karena Allah dan ada yang berhijrah karena mengejar dunia.

Niat secara bahasa berarti al-qashd (keinginan). Sedangkan niat secara istilah syar’i, yang dimaksud adalah berazam (bertekad) mengerjakan suatu ibadah ikhlas karena Allah, letak niat dalam batin (hati).Kalimat “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya”, ini dilihat dari sudut pandang al-manwi, yaitu amalan. Sedangkan kalimat “Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan”, ini dilihat dari sudut pandang al-manwi lahu, yaitu kepada siapakah amalan tersebut ditujukan, ikhlas lillah ataukah ditujukan kepada selainnya.

Tidak mungkin suatu amalan atau perbuatan itu terjadi kecuali sudah didahului niat. Adapun jika ada amalan yang tanpa niat, maka tidak disebut amalan seperti amalan dari orang yang tertidur dan gila. Sedangkan orang yang berakal tidaklah demikian, setiap beramal pasti sudah memiliki niat. Para ulama mengatakan, “Seandainya Allah membebani suatu amalan tanpa niat, maka itu sama halnya membebani sesuatu yang tidak dimampui.” Dengan demikian bagi kita apabila akan melakukan amal didahuluilah dengan niat karena Allah dan jagalah niat itu karena sewaktu-waktu di tengah perjalanan banyak gangguan. Jaddidu niyatakum atau perbaharuilah niatmu.

Pada tulisan ini yang perlu dihayati betul bagi pendidik apakah ia seorang guru, dai, kyai, maupun pemimpin dalam mencintai dan menyayangi muridnya, jamaahnya, santrinya, atau yang dipimpinnya perlu dibekali 5 hal.

Berakhlak mulia

Pendidik bukan saja menjadi ”role model” tetapi yang lebih dominan adalah bagaimana memiliki akhlak yang mulia seperti ikhlas, jujur, sabar, kasih sayang, wara dan takwa. Di samping itu seorang pendidik diharapkan memiliki kepribadian dalam bertutur kata, tingkah laku, kebersihan diri, pakaian, tempat tinggal dan lain-lain.

Menjaga Kehormatan diri

Baca Juga:   Peran PAI dalam Mewujudkan Guru yang Unggul dan Profesional

Sudah menjadi tanggapan masyarakat bahwa seorang pendidik adalah seorang yang mempunyai kehormatan diri dan kemampuan ilmu pengetahuan. Kalau dalam bahasa dulu guru adalah orang yang digugu dan ditiru karena kehormatan dirinya. Oleh karena itu, sudah semestinya sebagai pendidik untuk berpegang teguh dengan ilmu yang dimilikinya. Setiap aktifitas guru sudah semestinya dilakukan dengan istiqamah.

Memiliki ilmu kependidikan

Pendidik sudah semestinya memiliki ilmu yang mendalam dalam bidang kependidikan. Pelajar atau murid akan lebih yakin dan mudah menerima ilmu yang disampaikan sekiranya pendidik benar-benar menguasai ilmu tersebut. Selain itu, pendidik juga perlu kreatif dan inovatif dalam menggunakan teknik pengajaran yang handal. Dalam dunia digital masa kini, pendidik perlu arif dalam penggunaan teknologi.

Bersifat cinta dan kasih sayang

Inilah poin penting dalam tulisan ini. Pelajar merupakan golongan yang masih muda dan relatif memerlukan perhatian oleh pendidik mereka. Oleh karena itu pendidik seharusnya mempunyai sifat cinta dan kasih sayang kepada pelajar dan menganggap mereka seperti anak sendiri. Dengan sifat ini, pelajar akan lebih mudah mendekati pendidik dan dapat menyampaiakn masalah mereka. Sifat ini juga akan menimbulkan kedekatan yang wajar dan pantas dan berada pada rel kebaikan.

Menebar cinta dan kasih sayang yang diberikan guru kepada muridnya akan memberikan kekuatan yang luar biasa. Apabila guru mengajar dengan bahasa hati untuk mendalami cinta dan kasih sayangnya, maka ada respon positif mengajar yang membahagiakan. Kebahagiaan setiap orang itu letaknya ada di hati. Guru akan berbahagia ketika mengajar karena merasa nyaman di hati. Siswa akan merasa bahagia karena ada respon hati yang berbaur dengan kasih sayang dari guru.

Mudah-mudahan tulisan ini sebagai makanan hati ketika kerinduan seorang guru dan pelajar yang masih terhalang oleh berbagai kendala termasuk masalah pandemi ini. Akhirnya penulis sertakan sebuah puisi sebagai motivasi bagi guru dan pelajar dalam menyikapi kondisi pandemi seperti ini yang entah sampai kapan akan berakhir.

PERJUANGANMU BELUM SELESAI
Goresan pena untuk guru dan murid
Karya: Alif Sarifudin Ahmad (ASA)

Hujan yang membasahi bumi semalam seakan ingin berkata, Mengapa kamu tertidur, Ayoo bangun nak!

Angin besar pun menggerak-gerakkan tubuh, bahkan meñgguncang-guncangkan jasadmu seakan berkata, jangan màlas, perjuangan belum selesai!

Semua amal tergantung akhirnya!
Kalau kamu sabar sedikit, tidak mengumbar nafsu pasti kan berhasil

Neraka itu diliputi yang disukai jiwa
Jangan kau terbuai dengan rayuannya

Surga itu diliputi yang dibenci jiwa
Jangan kau segan beribadah kepada Sang Maha Rahman