Menjadi Guru dalam Keluarga

Merawat Asa Pendidkan
Pendidikan Foto Dok Ilustrasi

Oleh: Alvin Qodri Lazuardy

(Telaah Buku Kiat Menjadi Guru Keluarga, Menyiapkan Generasi Pejuang, karya Dr. Adian Husaini)

Awal mula dari sebuah  bangunan pasti dilandasi dengan pondasi, jika pondasi itu kuat maka bangunanpun akan kokoh berdiri. Sebuah keluarga bagaikan sebuah bangunan, dimana ketika akan dibangun dibutuhkan arsitek utama atau pemilik grand maping bangunan tersebut. Membangun sebuah keluarga memang bukan hal remeh, perlu persiapan yang matang dari segi spiritual, emosional bahkan sampai pada material, semua harus dipersiapkan dengan matang. Hal yang paling penting dan jika hal ini baik maka kelanjutannya-pun akan baik, yaitu persiapan spiritual yang tertanam dalam jiwa bersifat metafisik. Didalamnya berkolaborasi Ruh dan akal yang sesuai fitrah.

Seorang pakar pemikiran dan pendidikan Islam, beliau adalah Dr. Adian Husaini, M.A menulis buku bertema tentang dasar-dasar menjadi guru dalam skala keluarga atau yang disasar adalah pendidikan untuk menjadi orang tua yang baik dan beradab. Beliau menyematkan judul Kiat Menjadi Guru Keluarga Menyiapkan Generasi Pejuang, dilihat dari judul ini sangat terlihat bahwa buku ini diperuntukkan untuk seorang yang akan menjadi orang tua, guru-guru, dan bahkan sebagai tajdid visi bagi orang yang sudah berkeluarga. Dalam tulisan ini penulis memposisikan sebagai seorang yang akan menjadi orang tua dalam keluarga. Maka apa yang ditulis ini kurang lebih sebagai anjuran diri sendiri secara khusus dan untuk seluruh pembaca secara umum.

Dr. Adian memberikan enam nasihat utama untuk membangun sebuah keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah. Nasihat pertama beliau memberikan judul “Jadilah Guru Keluarga”. Beliau mensitir Q.S. at-Tahrim ayat 6, kemudian memberikan penjelasan mengenai ayat ini, menurutnya ayat ini secara khusus mewajibkan orang tua untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka.

Baca Juga:   Hari Guru Nasional, Pelajar SMK FAMUBA MUtu Ekspresikan Diri Melalui Puisi

Kemudian Dr. Adian memberikan anjuran berdasar pengalaman beliau berkecimpung dalam dunia pendidikan keluarga, anjuranya adalah agar para calon orang tua atau yang sudah menjadi orang tua menguasai enam materi pokok sesuai dengan kemampuanya masing-masing, beliau juga menambahkan tak harus menjadi pakar tetapi paling tidak mengetahui secara umum. Enam materi pokok itu adalah Worldview Islam, Pendidikan Anak, Fiqh Keluarga Sakinah, Tantangan Pemikiran Kontemporer, dan Sejarah Peradaban Islam.

Kemampuan orang tua dalam memahami dan memahamkan Worldview Islam adalah kunci yang sangat krusial, karena hal ini paling mendasar terhadap Aqidah Islamiyah. Menanamkan tauhid sejak dini sesuai dengan apa yang dilakukan Luqmanul Hakim kepada anaknya, dan yang pertama kali diajarkan adalah Laa Tusyrik Billah!

Dr. Adian juga mengutip kalam dari Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam hal kemurnian Islam bahwa Agama Islam adalah Agama wahyu yang murni, berikut kalam dari Syed Muhammad Naquib al-Attas beliau berkata: “Islam is the only genine revealed religion”, tambah Dr. Adian bahwa Islam bukan Agama budaya (cultural religion) yang berkembang terus mengikuti perubahan budaya tetapi Islam adalah agama yang murni dari wahyu, tambah Dr.Adian. Mungkin tak berlebihan jika ditambahkan Islam adalah Agama yang relevan disetiap tempat, generasi dan zaman.

Kemudian dalam Pendidikan Anak setelah menanamkan tauhid selanjutnya adalah mengarahkan aank untuk mendirikan sholat dilanjutkan dengan Amar Ma’ruf Nahi Munkar menyeru kepada keabaikan dan mencegah dari kemungkaran, pesan ini diabadikan Allah dalam al-Qur’an surat Luqman ayat 17, Dr. Adian mengartikan ayat ini sebagai peringatan bahwa jangan sampai anak-anak belajar berbagai jenis ilmu selama belasan tahun tetapi tidak mau mengamalkan ilmunya untuk dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, Negara dan umat manusia pada umumnya. Menanamkan jiwa pejuang untuk umat adalah hal wajib bagi setiap orang tua agar anak-anaknya menjadi penerus perjuangan para Nabi yaitu menegakkan Kalimat Tauhid dan Akhlak Mulia dapat dikerucutkan bahwa jiwa perjuangan ini bagian dari materi pokok Fiqhud Da’wah.

Fiqih keluarga sakinah, inti dalam keluarga sakinah ialah menurut penulis berdasar refleksi buku ini adalah menjadikan keluarga tempat yang menenagkan serta tumbuh di dalamnya sakinah, mawaddah dan rohmah. Keluarga sebagai institusi terkuat untuk membendung arus keburukan yang sewaktu-waktu bisa merangsek dalam keluarga. Peran Ayah dan Ibu sebagai pengasuh adalah peran yang sangat krusial. Singkatnya keluarga adalah tempat yang paling aman untuk kembali karena didalamnya ada ketenangan bukan gejolak.

Baca Juga:   Pelajaran Sejarah Tidak (Bisa) Dihapus

Dalam kajian pemikiran kontemporer, orang tua harus peka, sensitif bahkan harus cenderung protektif terhadap serangan pemikiran ini karena serangan ini bersifat destruktif terhadap aqidah dan akhlak Islam. Umpamanya yang memakan banyak korban adalah faham Pluralisme Agama, faham relativisme, materialisme, konsep kesetaraan gender, Hak Asasi Manusia Sekuler, dsb. Faham-faham ini sekarang berkeliaran dengan bebas bahkan masuk juga dalam dunia pendidikan, maka dari itu sensifitas dan protekrifitas orang tua sangat dibutuhkan untuk membendung ini.

Selanjutnya, kajian Sejarah Islam salah satu hal penting yang disampaikan oleh Dr.Adian mengenai kajian sejarah untuk keluarga mulailah dari menanamkan sejarah manusia itu sendiri, manusia itu harus tau darimana ia berasal, untuk apa hidup dan mau kemana setelah ia wafat. Dr. Adian berkata; “Anak-anak kita bukan hasil dari evolusi spesies monyet yang hidupnya hanya makan dan besenang-senang”. Dalam al-Qur’an jelas diterangkan bahwa manusia berasal dari keturunan Nabi Adam Alayhi-As-Salam diciptakan untuk menjadi Khalifatu fil-Ardh.

Dilanjutkan dengan mengenalkan sejarah peradaban Islam, bahwa sesungguhnya peradaban Islam bukanlah hayalan utopis yang tertulis dalam kertas, melainkan peradaban Islam adalah konsep indah yang sudah terbukti diterapkan dalam sejarah. Tujuan dari pendidikan sejarah dalam keluarga adalah untuk menumbuhkan izzah atau rasa bangga sebagai Muslim.

Karena itu jangan sampai orang tua salah dalam memahamkan sejarah Islam kepada anak-anaknya yang akhirnya justeru memberikan sifat pesimis bahkan tidak bangga sebagai Muslim karean buta sejarahnya sendiri. Puncak dari pendidikan sejarah Islam ini adalah tumbuh rasa bangga sebagai Muslim kemudian mempunyai cita-cita untuk menerakapkan ajaran Islam dalam ranah pribadi, keluarga, masyarakat dan Negara.

Dari enam materi wajib yang diutarakan oleh Dr. Adian inilah sebagai grand mapping utama dalam membangun sebuah Institusi Keluarga yang kokoh. Kuat aqidahnya, sakinah mawaddah wa rohmah di dalamnya, diisi dengan jiwa perjuangan dakwah, aman dari serangan pemikiran sesat dan bangga sebagai jati dirinya sebagai seorang Muslim lebih umum bangga dengan keluarga Muslim. Sekian terimakasih. Wallahu ‘Alam Bishowab.

Alvin Qodri Lazuardy, Pengasuh Pondok Pesantren Muhammadiyah Ahmad Dahlan

Baca Juga:   Politik Muhammadiyah dan Gerakan Lain