MAYA, Cerpen Mustofa W Hasyim

Cerpen Mustofa W Hasyim

Maya. Pagi dia bernama Maya. Siang bernama Maya, Sore, Maya. Malam tetap bernama Maya. Dalam bangun dan tidur ia adalah Maya. Maya, tetapi ada dan nyata. Sebenarnya dia sudah berkali-kali protes kepada ayah ibunya agar namanya diganti. Diganti Nyata atau Siti, atau Matahari, atau Rembulan atau apa saja. Asal bukan Maya.

Di waktu kecil dia sering dipanggil Cempluk karena tubuhnya gemuk. Ia suka nama itu. Nama Cempluk menandakan ia jelas-jelas ada dan nyata. Anak kecil, perempuan bertubuh gemuk. Dan setiap dipanggil Cempluk, dia selalu tersenyum. Bahagia, sebab bagi dia gemuk adalah sehat dan orang mengakui kalau dia sehat, dengan memanggilnya Cempluk.

Ketika sekolah menengah tubuhnya tidak lagi gemuk, tetapi langsing, cenderung kurus. Dan ia mulai dipanggil Maya. Ia mulai gelisah. Sebab nama lengkapnya adalah Maya Artini. Mengapa orang-orang itu tidak memanggilnya Artini saja. Yang mulai memanggil dia Maya ya ayah ibunya, ketika mendaftar ke sekolah menengah. Mula-mula ia tidak menyangka kalau ayah ibunya memanggil dia.

”Maya, Maay, Kesini dong,” kata ibunya waktu itu.

Dia tengah asyik ngobrol dengan teman perempuan sekampung yang kebetulan juga mendaftar di sekolah itu. Teman itu selalu memanggil dia Cempluk. Jadi teman ngobrolnya juga tidak tahu kalau Maya yang dipanggil ibunya. Melihat sang anak cuek saja, ibunya mendekat.

”Maya, Maya. Mulai hari ini kau kupanggil Maya, bukan lagi Cempluk. Kau sudah mulai besar. Sudah belajar di sekolah menengah. Maya, tahu kan kamu?” tanya ibunya.

”Tahu, Bu,”

”Ya syukurlah kalau tahu. Mulai sekarang, kalau ada orang memangil Maya, yang dimaksud itu kamu.”

”Ya, Bu.”

Teman sekampung tertawa melihat itu.

Baca Juga:   Ketupat dan Sambal Lebaran

”Anu, Bu, saya sebagai teman sekampung tetap boleh kan memanggilnya Cempluk?”

”Jangan Nak. Kalau di sekolah kau harus memanggil anakku, Maya. Entah kalau ketemu di kampung. Kau boleh memanggil apa saja.”

”Baik Bu. Maaf ya Maya.”

Maya, mempelototi temannya. Teman itu malah tertawa.

Mulai hari itu ia resmi dipanggil Maya. Bukan Artini. Awalnya ada senangnya juga memiliki nama Maya. Ia mudah dikenal orang. Teman sekelas, bahkan teman satu sekolah mengenal dia karena namanya Maya.

Kebetulan dia anak pandai. Dalam pelajaran ilmu dan dalam pelajaran olahraga. Ia ikut olahraga pencak silat di sekolahnya. Dan dia makin terkenal ketika dia menjadi juara pertama pertandingan pencak silat sekota untuk anak sekolah menengah pertama. Maya, sang pendekar perempuan muda, begitu ada teman menjuluki dia dengan iseng. Dia bangga dengan julukan itu. Dan mantap. Sebab dengan adanya julukan itu bakal tidak ada anak lelaki yang berani berlaku sembrono kepada dia. Teman-teman akrab dia juga ikut terjaga dan aman. Anak lelaki usil tidak berani mengusili anak-anak perempuan karena mereka adalah teman dekat Maya. Asal mau mengaku sebagai teman Maya, anak itu hampir dipastikan akan aman.

Ternyata, kemudian ada perkembangan berbeda. Punya nama Maya sungguh repot mulai ia rasakan waktu di sekolah menengah atas.

”Cantik cantik kok namanya Maya, tidak nyata. Mbok diganti apa, gitu,” komentar seorang guru waktu semua murid mengenalkan diri.

Sebenarnya Maya tersinggung. Tapi ia lihat teman-teman baru di sekolah menengah atas itu  malah tertawa. Maya mau marah. Kalau saja guru itu perempuan, berani dia menantangnya. Tetapi guru itu laki-laki dan melihat tubuhnya yang tinggi tegap, nampak kalau dia ahli beladiri juga.

Baca Juga:   Ketika Cemas Mengusik

Mulai saat itu banyak orang mempermainkan namanya. Maya, tidak nyata, kalau jatuh cinta juga tidak nyata. Maya tidak nyata, kalau apa-apa juga tidak nyata. Ia ingin sekali melawan setiap orang yang mempermainkan namanya. Tetapi jumlah mereka sangat banyak. Ia takut kalau dianggap mengada-ada.

”Sudah, Mbak, biarkan saja. Lama kelamaan mereka bosan juga,” begitu komentar salah seoang teman dekatnya ketika di kantin. Dia mempersoalkan makin banyaknya orang yang mempermainkan namanya.

”Mengapa diributkan Mbak. Mereka orang jahil.”

”Dan lagi Mbak, bukankah sekarang ini disebut zaman teknologi maya. Tenologi digital, era siber, era orang ramai-ramai memasuki jagad maya. Jadi cuekin saja mbak mereka.”

Sema teman dekatnya menasehati agar dia tidak usah memperhatikan omongan dan komentar orang tentang namanya. Ia menganggukkan kepala. Setuju juga akhirnya dengan pendapat dan nasehat teman dekatnya.

Tapi saat pulang sekolah, ia kembali terusik. Waktu itu ia sedang mengendarai motornya, sampai di jalan kampung.

”Dik Cempluk, Dik Cempluk, apa kabar?”

Terdengar ada teman bermain sejak kecil menegurnya.

”Baik,Mbak,” jawabnya dengan wajah cerah.

Ia lega, akhirnya ada lagi yang memanggil dia Cempluk. Sesampai di rumah, mulailah ia protes kepada ayah dan ibu. Ia ingin namanya diganti. Diganti apa saja asal bukan Maya. Diganti Cempluk juga boleh. Malah panggilan di masa kecil itu bisa hidup kembali.

Ayah dan ibunya tidak setuju. Tetap bersikeras nama dia adalah Maya. Maya sendiri  kemudian menghitung, ia  sudah tujuh kali protes, tetapi protesnya kandas. Meski begitu, dia tidak menyerah.

Apalagi ketika dia sudah selesai kuliah. Dan sudah bekerja. Ada kenalan lelaki yang bekerja sekantor yang serius ingin melamarnya.

“Tapi saya punya usul serius, nama adik diganti ya, bukan Maya. Sebab orangtuaku pasti tidak setuju kalau aku punya isteri bernama Maya. Punya menantu bernama Maya sungguh mereka tidak akan mau.”

Baca Juga:   Menyibak Kabut Cinta di Yerussalem

Maya kaget juga mendengar ada orang lain tidak suka dengan nama Maya. Lelaki itu, Irfan namanya ia ajak ke rumah dan ia perkenalkan kepada ayah dan ibunya. Anaknya sopan dan wajahnya cerah pertanda suka beribadah. Ayah dan ibunya senang dengan penampilan Irfan yang tampak meyakinkan.

Maya bilang kepada ayah ibunya kalau Mas Irfan bersedia melamarnya asal dia mau mengganti namanya. Bukan lagi Maya.

“Ya, Bu, Ya Pak. Ayah dan ibu saja pasti tidak setuju kalau saya punya isteri bernama Maya. Ayah dan ibu saya trauma dengan nama Maya. Dulu waktu kecil saya punya kakak bernama Maya. Dia meninggal waktu kecil karena sakit demam berdarah. Sejak itu saya menjadi anak tunggal dan orangtua saya tidak mau mendengar ada nama Maya hadir di keluarga kami.”

Ayah dan bu Maya berpandangan. Akhirnya mereka mengangguk. Ayahnya yang mula-mula berkata “Baiklah, lantas kau mau berganti nama siapa?”

“Namakan saja saya Mawar Mekar.”

“Lho kok seperti nama jurus pencak silatmu?” tanya ibunya.

“Saya suka jurus itu kok Bu. Dan mas Irfan bagaimana?”

”Mawar Mekar, bagus juga. Ayah ibuku pasti suka dengan mana itu.”

Hari itu merupakan hari yang paling membahagiakan bagi Maya, eh, Mawar Mekar.

2018

Sumber: Majalah SM Edisi 13 Tahun 2018